Dulu Asing di Bogor, Kini Croissant Golden France Ingin Jadi Oleh-oleh Khas Kota Hujan

Dede Supriadi • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 21:26 WIB
Golden France mengembangkan petit croissant sebagai bagian dari perjalanan lebih dari dua dekade memperkenalkan croissant kepada masyarakat Bogor. (Dok. Golden France)
Golden France mengembangkan petit croissant sebagai bagian dari perjalanan lebih dari dua dekade memperkenalkan croissant kepada masyarakat Bogor. (Dok. Golden France)

RADAR BOGOR - Dua dekade lalu, croissant bukan panganan yang akrab di telinga dan lidah banyak warga Bogor. Namun, dari sesuatu yang kala itu terasa asing, Golden France justru menemukan jalan untuk membangun cerita.

Ketika Golden France berdiri pada 2004, pemiliknya, Oryza Sativa, melihat croissant bukan sekadar produk khas Prancis, melainkan peluang. Panganan tersebut belum banyak dikenal masyarakat Bogor, tetapi memiliki potensi untuk diterima jika diolah dengan pendekatan yang lebih dekat dengan selera konsumen Indonesia.

Berangkat dari rasa penasaran itu, Oryza bersama timnya mulai mempelajari berbagai resep dan teknik pembuatan croissant. Formula demi formula dicoba hingga akhirnya Golden France menemukan karakter produk yang dinilai mampu mempertahankan ciri khas croissant sekaligus lebih mudah dinikmati masyarakat Indonesia.

“Kalau melihat perjalanan Golden France sekarang, sebenarnya semuanya berawal dari rasa penasaran. Waktu itu kami melihat croissant masih belum terlalu dikenal di Bogor. Kami kemudian mencoba memahami bagaimana membuat produk yang tetap punya karakter croissant, tetapi bisa dinikmati oleh lebih banyak orang. Prosesnya panjang, dan kami terus belajar dari waktu ke waktu,” ujar Oryza.

Dari proses panjang tersebut, Golden France kemudian menghadirkan croissant dengan bahan baku premium yang tetap diupayakan dapat dijangkau konsumen.

Namun, perjalanan Golden France tidak berhenti pada upaya menghasilkan croissant yang berkualitas.

Setelah lebih dari 20 tahun berkembang, perusahaan mulai melihat kemungkinan yang lebih jauh: bagaimana panganan yang berasal dari Prancis itu dapat memiliki identitas dan cerita tersendiri di Kota Hujan.

Salah satu jawabannya hadir melalui petit croissant. Ukurannya yang lebih kecil dibandingkan croissant pada umumnya menjadi bagian dari strategi Golden France untuk menghadirkan produk yang lebih dekat dengan kebiasaan konsumsi masyarakat.

Croissant pun tidak lagi sekadar diperkenalkan sebagai panganan asal Prancis. Golden France mencoba menempatkannya dalam konteks yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat Bogor, bahkan membangun harapan agar produk tersebut kelak dapat menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas Kota Hujan.

“Dulu croissant masih sesuatu yang cukup asing, terutama di Bogor. Dari situ kami melihat ada peluang, lalu kami mencoba mencari resep yang paling tepat. Setelah perjalanan panjang, kami ingin croissant juga punya cerita sendiri di Bogor,” kata Oryza.

Perjalanan Golden France sendiri tidak hanya diwarnai croissant. Seiring bertambahnya waktu dan berubahnya selera konsumen, toko kue tersebut mengembangkan beragam produk, mulai dari lapis talas, cake, roti hingga donat.

Dari awalnya hanya mengandalkan oven dan sebuah toko kecil, Golden France kini memperluas jangkauan melalui sejumlah cabang, di antaranya Sawangan, Meruyung, Kota Wisata, Cileungsi, Jonggol dan Gunung Putri.

Perluasan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Golden France dalam tumbuh bersama konsumennya. Produk baru terus lahir mengikuti kebutuhan dan perubahan selera, sementara croissant tetap menjadi salah satu bagian penting dari cerita awal perjalanan usaha tersebut.

Kini, setelah lebih dari dua dekade, Golden France berada di antara dua hal: mempertahankan identitas yang telah menjadi bagian dari perjalanan awal sekaligus terus mencari bentuk baru untuk berkembang.

Petit croissant menjadi salah satu upaya membawa cerita itu lebih jauh. Bukan hanya tentang panganan asal Prancis, tetapi tentang bagaimana sebuah produk dari luar negeri dapat menemukan identitas baru ketika bertemu dengan kota, selera, dan masyarakat yang berbeda.

“Kami tidak ingin hanya mengatakan bahwa croissant adalah makanan dari Prancis. Setelah lebih dari 20 tahun, kami ingin punya cerita sendiri. Petit croissant adalah salah satu bagian dari cerita itu," jelasnya.

Harapannya, kata Oryza ketika orang datang ke Bogor dan membawa pulang Golden France, yang mereka bawa bukan hanya makanan, tetapi juga sedikit cerita tentang Kota Hujan.

Dari sebuah peluang yang dilihat pada 2004, Golden France kini ingin membangun cerita yang lebih panjang. Tentang croissant yang dahulu terasa asing, kemudian perlahan menjadi bagian dari keseharian, sekaligus tentang bagaimana Kota Hujan memberikan warna baru bagi panganan yang datang dari negeri jauh.(ded) 

Editor : Eka Rahmawati
bogor croissant oleh-oleh Golden France