Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Mengejutkan! Puluhan Musisi Besar Batal Tampil di Pestapora 2025, Ini Gara-garanya

Yosep Awaludin • Selasa, 9 September 2025 | 10:40 WIB
Suasana festival musik terbesar di Indonesia Pestapora 2025.
Suasana festival musik terbesar di Indonesia Pestapora 2025.

RADAR BOGOR - Ramai diperbincangkan di berbagai platform digital, Pestapora 2025, yang dikenal sebagai festival musik terbesar di Indonesia, dilanda kontroversi besar.

Festival musik yang sudah berlangsung sejak 5 September 2025 tersebut awalnya berjalan lancar. Namun cukup mengejutkan, pada hari kedua dan ketiga, yaitu 6 dan 7 September, puluhan musisi memutuskan untuk batal tampil di Pestapora 2025.

Keputusan ini dibuat setelah diketahui bahwa PT Freeport Indonesia, perusahaan tambang yang selama ini bersinggungan dengan isu lingkungan, menjadi sponsor utama Pestapora 2025.

Kabar ini sontak menjadi perbincangan hangat di kalangan musisi dan penonton. Kehadiran Freeport sebagai sponsor dianggap tidak sejalan dengan prinsip komunitas musik independen.

Oleh karena itu, beberapa musisi memilih untuk mengambil sikap tegas dan menarik diri dari pertunjukan.

Keputusan ini dimaksudkan sebagai dukungan terhadap isu lingkungan dan masyarakat adat yang kerap dikaitkan dengan perusahaan tambang tersebut.

Berikut beberapa musisi yang memutuskan untuk batal tampil, di antaranya Bilal Indrajaya, Centra HC, Cloudburst, Durga, Feast, Filler, Hindia, Keepitreal, Kenyakingdown, Kelelawar Malam, Navicula, Negatifa, Ornament, Pelteras, Petra Sihombing, Reruntuh.

Kemudian Rebellion Rose, Rekah, RRAG, Skandal, Sukatani, Swellow, Tarrkam, The Cottons, The Jeblogs, The Panturas, dan Xinlie. Keputusan tersebut memicu perdebatan di media sosial.

Namun, beberapa musisi justru mengambil langkah berbeda. Rapper Yacko memutuskan untuk tetap tampil, tetapi akan menyumbangkan seluruh honornya untuk gerakan lingkungan.

Dengan cara yang sama, The Panturas memutuskan untuk menyalurkan hasil penjualan merchandise mereka ke Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Adapun Rebellion Rose, meski batal tampil di panggung resmi Pestapora 2025, tetap hadir untuk menemui penggemar di luar area utama.

Hal ini dianggap sebagai cara untuk menyampaikan pesan protes secara damai sekaligus bentuk penghargaan kepada pendengar yang telah datang.

Dengan adanya fenomena ini, musisi Indonesia dianggap bukan hanya sebagai penghibur, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial.

Keputusan yang mereka ambil untuk mundur dari Pestapora menjadi pernyataan sikap yang kuat terhadap isu yang lebih besar.

Tidak tinggal diam, penyelenggara Pestapora akhirnya mengumumkan bahwa mereka telah memutus kerja sama dengan PT Freeport Indonesia.

Selain itu, penyelenggara menyampaikan bahwa festival selama dua hari terakhir akan berlangsung tanpa terafiliasi dengan perusahaan kontroversial tersebut.

Dengan adanya keputusan tersebut, diharapkan mampu meredakan kekecewaan sekaligus mengembalikan kepercayaan penonton.

Namun, konsekuensi dari kontroversi ini sudah terlanjur terasa, terutama bagi penonton yang menantikan penampilan artis favorit mereka.

Kemunduran para musisi ini juga menunjukkan bahwa panggung musik tidak lagi bebas dari isu politik dan lingkungan. Dengan demikian, musik semakin melekat pada realitas sosial.

Beberapa band yang telah memutuskan untuk batal tampil seolah menegaskan bahwa seni tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai yang dipegang oleh para pelakunya.

Peristiwa ini menjadi pelajaran penting dari perspektif industri. Sebagai festival musik terbesar, Pestapora tentunya harus mampu menjaga integritas, terutama dalam hal memilih sponsor.

Kesalahan untuk memahami sensitivitas publik dapat mengakibatkan krisis yang sulit diprediksi.

Keputusan yang diambil beberapa musisi mungkin mengecewakan penggemarnya. Namun, tidak sedikit pun dari mereka justru mengapresiasi sikap tegas para musisi.

Hingga saat ini, ribuan orang masih hadir di Pestapora 2025. Kontroversi Pestapora 2025 akan menjadi peristiwa penting dalam sejarah festival musik Indonesia.

Sebuah pengingat bahwa musik bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga ruang untuk memperjuangkan nilai. (***)

Penulis: Mutia Silviani/Magang Universitas BSI Depok
Sumber: Media sosial Instagram @ahquote

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #PestaPora #festival musik