RADAR BOGOR - Pernyataan terbaru dari Morrissey, vokalis legendaris band The Smiths, menggemparkan dunia musik internasional.
Morrissey mengumumkan bahwa ia melepas seluruh hak terkait band The Smiths, mulai dari nama band, karya musik, rekaman, hingga merchandise. Pernyataan tersebut sontak memicu banyak perdebatan di kalangan penggemar dan musisi.
Dengan lagu-lagu mereka yang penuh dengan kritik sosial dan lirisisme yang menjadi ikon tahun 80-an, The Smiths dianggap sebagai salah satu grup musik paling berpengaruh sepanjang masa.
Berita "penjualan" hak The Smiths jelas merupakan masalah yang tidak dapat dipandang sebelah mata.
Keputusan tersebut disampaikan oleh Morrissey dengan nada getir. Ia menyatakan bahwa sudah terlalu lelah dengan hubungan yang ia anggap sarat konflik dengan para mantan rekannya di band, terutama gitaris Johnny Marr, yang merupakan rekan kreatif utamanya.
"Saya kehabisan tenaga dari semua hubungan dengan Marr, Rourke, dan Joyce," ungkap Morrissey. "Saya sudah cukup dengan asosiasi yang penuh dengan niat jahat," lanjutnya.
Keputusan ini juga tidak semudah yang terlihat, banyak langkah-langkah dan pertimbangan yang harus dilalui.
Beberapa pihak menyebutkan bahwa sejumlah hak yang dimiliki The Smiths, termasuk merek dagang dan hak cipta rekaman, masih dimiliki pihak ketiga, termasuk label rekaman utama yang pernah bekerja sama dengan band ini.
Dengan kata lain, penjualan tersebut tidak dapat dianggap sah secara hukum meskipun Morrissey ingin melepaskan semuanya.
Kontroversi bermula ketika Morrissey menegaskan bahwa ia tidak lagi ingin dikaitkan dengan band atau menjadi bagian dari band yang telah mengangkat namanya itu.
Namun, dalam kenyataannya, keputusan itu menghadapi hambatan besar karena kepemilikan bersama dan peraturan hukum.
Ini menimbulkan pertanyaan yang signifikan, apakah langkah Morrissey hanyalah demonstrasi emosional atau upaya nyata untuk benar-benar melepaskan diri dari The Smiths?
Para penggemar merasa sedih atas kabar tersebut. Pasalnya, The Smiths bukan hanya sekadar band, melainkan menjadi simbol sebuah generasi yang merindukan musik penuh makna.
Lagu seperti "How Soon Is Now?" dan "There Is a Light That Never Goes Out" telah menjadi melodi hidup bagi banyak orang di seluruh dunia. Fans pasti khawatir bahwa karya-karya itu dapat “dijual” atau berpindah tangan.
Meskipun belum ada pernyataan resmi dari kabar tersebut, Johnny Marr sendiri sering menanggapi kritik Morrissey dengan dingin.
Bahkan sebelum The Smiths bubar pada tahun 1987, hubungan mereka sudah renggang. Dengan masalah penjualan hak band, ketegangan lama tampaknya kembali muncul.
Langkah Morrissey dipandang oleh beberapa musisi sebagai bentuk keputusasaan, sementara yang lain melihatnya sebagai taktik provokatif.
Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa pernyataan ini hanyalah taktik untuk mengguncang publik atau bahkan "menjual" kontroversi untuk mendapat perhatian publik.
Terlepas dari alasan dibaliknya, dampak dari berita ini tidak dapat diabaikan. Perdebatan tentang hak cipta, kepemilikan karya seni, hingga integritas seorang musisi dipertanyakan.
Muncul beberapa pertanyaan seperti “Apakah seorang vokalis dapat dengan mudah melepaskan warisan band legendaris yang dihasilkan dari kolaborasi beberapa pihak?”.
Penggemar menunjukkan berbagai tanggapan di media sosial. Ada yang marah dan kecewa serta mengatakan Morrissey telah "menghianati" musik yang ia buat bersama Marr, Rourke, dan Joyce.
Yang lain bersimpati, mengatakan bahwa Morrissey, yang telah terjebak dalam konflik pribadi selama bertahun-tahun, memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Dengan adanya kontroversi ini justru menghidupkan kembali diskusi tentang The Smiths bagi sebagian orang.
Kebanyakan generasi muda hanya mengetahui band ini melalui Spotify, dengan munculnya kontroversi ini berhasil membuat penasaran dengan sejarah di baliknya.
Dengan kata lain, pernyataan Morrissey berhasil membawa The Smiths kembali ke debat publik, meskipun penuh kontroversi.
Jika itu benar, pelepasan Morrissey atas hak-hak The Smiths akan menjadi salah satu keputusan terburuk dalam sejarah musik kontemporer.
Tidak banyak musisi yang melepaskan karir mereka karena masalah pribadi. Namun, Morrissey tampaknya tidak peduli dengan persepsi publik.
Pada akhirnya, kisah ini masih menimbulkan banyak pertanyaan. Apakah Morrissey akan berhasil melepaskan semua hak The Smiths?
Ataukah ini hanyalah bagian baru dari konflik panjang yang telah berlangsung sejak band tersebut berhenti beroperasi? Dunia musik pasti akan sangat menantikan kelanjutan kisah penuh misteri ini. (***)
Penulis: Mutia Silviani/Magang Universitas BSI Depok
Sumber: Instagram @binarmusik