RADAR BOGOR – Selama lebih dari tiga dekade, Lee Soo-Man telah menjadi saksi hidup dari terwujudnya mimpi menjadikan Korea sebagai pusat kekuatan budaya dunia.
Lee Soo-Man yang juga pendiri SM Entertainment pada 1995 itu, kini melanjutkan perjalanannya dengan mendirikan A20 Entertainment di Amerika Serikat.
Pidato terbaru Lee Soo-Man di Pusat Kota Seoul mengundang perhatian besar. Ia menyinggung isu sensitif seputar kecerdasan buatan yang banyak diperdebatkan di era modern.
“Banyak orang mempertanyakan apakah AI mengancam umat manusia atau akan menggantikan manusia,” ucap Lee saat berbicara di hadapan audiens.
Pernyataan ini menjadi pembuka dalam pidatonya yang bertema “Kelahiran Sistem Operasi Budaya: Merancang Peradaban Berikutnya dengan K-Pop”.
Lee Soo-Man menegaskan bahwa AI tidak akan pernah menggantikan manusia. Menurutnya, teknologi itu justru akan berkolaborasi dan berdampingan sebagai mitra dalam kehidupan sehari-hari.
Dukungan penuh diberikan Lee terhadap integrasi teknologi dengan industri K-Pop. Ia menganggap rasa takut terhadap AI sama saja dengan melawan arus waktu.
Dalam pandangannya, yang lebih penting adalah memperluas imajinasi agar teknologi bisa diberdayakan secara kreatif.
AI disebut Lee hanya bekerja berdasarkan kumpulan data masa lalu. Hal itu membuatnya tidak mampu menciptakan masa depan sendiri.
Kreativitas dan imajinasi manusia tetap menjadi kunci untuk mengarahkan ke mana AI harus berkembang.
Rekam jejak Lee di dunia K-Pop sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia menjadi pionir yang mempopulerkan idol besar seperti H.O.T, S.E.S, BoA, TVXQ, Girls’ Generation, SHINee, EXO, Red Velvet, NCT, hingga Aespa.
Tahun 2023 menjadi titik balik dalam kariernya setelah meninggalkan SM Entertainment akibat perseteruan terkait kendali perusahaan.
Tidak lama kemudian, ia meluncurkan A20 Entertainment yang berbasis di Amerika dan mengambil peran sebagai produser utama sekaligus pemimpin visioner.
Visi Lee mengenai perkembangan K-Pop terbagi dalam tiga tahap evolusi. Konsep ini telah ia suarakan sejak awal tahun 2000-an dan kini dianggapnya sudah menjadi kenyataan.
Tahap pertama adalah menjadikan K-Pop sebagai produk budaya untuk diekspor. Tahap kedua dimulai ketika industri mulai berkolaborasi dengan pemain global. Tahap ketiga berlanjut pada ekspor produksi K-Pop ke luar negeri, bukan hanya artisnya.
Arah masa depan K-Pop menurut Lee harus melampaui sekadar ekspor budaya. Korea didorong untuk berevolusi menjadi inkubator global yang mampu menarik produser serta arsitek budaya dari berbagai belahan dunia.
“Korea kini harus menjadi pusat global bagi para produser yang membina dan menarik para arsitek budaya di seluruh dunia, melampaui perannya sebagai pembina seniman,” tegas Lee Soo-Man menutup pidatonya.(***)
Penulis : Sabila Lestiasih - PKL SV IPB
Sumber : Naver Entertain