RADAR BOGOR – Video musik Damdadi karya produser R.T yang menampilkan sso-yeon (G)-DLE hingga kini menjadi sebuah perbincangan hangat di dunia hiburan K Pop. Berawal dari karya yang kreatif berujung menjadi tuduhan plagiarisme.
Tuduhan tersebut berawal ketika warganet menemukan beberapa kemiripan mencolok antara video musik Damdadi dengan video musik milik penyanyi prancis Yseult berjudul “Bitch You Could Never” yang sudah terlebih dahulu rilis pada tahun sebelumnya.
Dikuti dari Naver Entertainment, warganet menemukan beberapa kemiripan, adegan seorang wanita yang berjalan di lorong, rak buku yang terguling, hingga suasana kantor tampak identik satu sama lainnya.
Opini publik pun terpecah di media sosial. Media sosial ramai dengan komentar dan membandingkan setiap adegan yang dirasa memiliki kemiripan satu sama lainnya.
Banyak warganet geram dan menduga bahwa musik tersebut melakukan plagiarisme. Sehingga warganet menuntut penjelasan terkait hal tersebut.
Yseult akhirnya angkat bicara dan menyuarakan kekecewaannya terhadap kemiripan tersebut. “Salin-tempel semacam ini menjijikkan. Mereka menyalin video musik saya tanpa menyebutkan sumbernya,” tulisnya.
Di sisi lain, pihak yang terlibat dalam produksi akhirnya buka suara. Hong Min-ho, sutradara dari Achilles Film yang mengarahkan video musik Damdadi, mengakui kemiripan tersebut dan meminta maaf secara terbuka.
“Memang benar saya terinspirasi oleh karya dan gaya penyutradaraan Iseult,” kata Hong Min-ho dalam pernyataannya pada 14 Oktober.
“Saya selalu sangat menghormati Iseult dan para sutradara yang pernah bekerja sama dengannya, dan rasa hormat itu secara alami memengaruhi banyak ide visual yang saya miliki untuk proyek ini,” tambahnya.
Ia juga menambahkan penyesalannya atas kemiripan adegan yang terlalu serupa. “Saya dengan tulus meminta maaf atas beberapa adegan yang digambarkan sangat mirip dengan karya aslinya, dan saya sangat menyesal jika Iseult atau timnya merasa tersinggung karenanya,” ungkapnya.
Namun, Hong menegaskan bahwa tanggung jawab sepenuhnya berada di pundaknya. “Konsep dan arahan penyutradaraan video musik ini dibuat di bawah tanggung jawab saya, dan Jeon So-yeon serta R.T. tidak terlibat dalam arahan kreatif atau proses pemilihan referensi," katanya.
Penyanyi asal Prancis itu meminta agar karya tersebut dikoreksi dan mencantumkan sumber inspirasinya.
Sementara itu, pihak R.T. dikabarkan sedang melakukan pemeriksaan internal terkait kemungkinan revisi atau penyuntingan pada video musik tersebut.
Kontroversi ini menjadi refleksi yang lebih dalam tentang batas tipis antara inspirasi dan imitasi. Dunia musik memang sering menjadi ruang pertemuan antarbudaya, namun ketika garis etika seni mulai kabur, perbincangan soal hak cipta dan penghargaan terhadap karya menjadi semakin penting.
Dalam kasus Damdadi, penyesalan dan pengakuan datang dari pihak kreatif, namun perasaan terluka masih tersisa di sisi yang lain.
Di antara debat dan klarifikasi, publik disadarkan kembali bahwa kreativitas sejati bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang indah, tetapi juga menghargai sumber dari keindahan itu sendiri. (Yumna/SV IPB)
Editor : Yosep Awaludin