Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

LAIR, Band Eksperimental Unik Asal Majalengka yang Ubah Tanah Liat Jadi Instrumen Musik

Yosep Awaludin • Jumat, 24 Oktober 2025 | 20:00 WIB
Band LAIR ketika sedang melaksanakan Tour di Manchester, Inggris 2024.
Band LAIR ketika sedang melaksanakan Tour di Manchester, Inggris 2024.

RADAR BOGOR - LAIR, band eksperimental asal Jatiwangi, Kabupaten Majalengka yang kini tengah menarik perhatian dunia lewat musik mereka yang unik.

Mereka membawa “musik tanah liat” ke panggung internasional sebuah konsep yang mengakar kuat pada identitas local.

Band LAIR muncul dari semangat untuk mengangkat budaya tanah kelahiran mereka Majalengka.

Di tengah gemuruh industri musik modern, mereka memilih jalan yang berbeda yaitu menggali bunyi dari tanah liat, bahan yang selama ini identik dengan genteng dan keramik.

Dikutip dari Instagram @kulturdomestik, genre yang mereka usung disebut Pantura-Soul, sebuah perpaduan Musik tarling khas pesisir utara Jawa Barat melebur dengan nuansa soul yang lembut dan ritme eksperimental yang bebas. Hasilnya, bunyi LAIR terdengar seperti ritual sekaligus pesta.

Tanah liat bagi LAIR adalah simbol keterikatan dengan bumi. Di wilayah Jatiwangi yang dikenal sebagai sentra industri genteng terbesar di Asia Tenggara, tanah menjadi napas kehidupan. Kini, lewat musik, bahan itu juga menjadi sumber ekspresi.

Instrumen mereka bukan sekadar alat, melainkan representasi dari perjalanan masyarakat Jatiwangi. Genteng dibentuk menjadi alat musik yang menghasilkan suara mentah, hangat, dan penuh karakter.

Bagi LAIR, setiap panggung adalah perayaan kebersamaan dan identitas. Mereka tidak hanya tampil sebagai band, tetapi juga sebagai perpanjangan dari komunitas dan budaya tempat mereka berasal. Musik menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.

Nama LAIR mulai menembus batas lokal setelah tampil di berbagai panggung internasional. Mereka sempat memukau penonton di ajang South by Southwest (SXSW) di Amerika Serikat, menghadirkan nuansa Jawa Barat di tengah festival musik dunia.

Tak berhenti di situ, LAIR juga sempat tampil dalam sesi legendaris KEXP Live di Seattle. Sebuah tonggak penting yang menempatkan mereka di radar pecinta musik global.

Penampilan itu memamerkan bagaimana bunyi-bunyi sederhana dari tanah liat bisa terdengar begitu magis.

Tahun 2025 ini merupakan momen besar bagi perjalanan mereka. Melalui tur bertajuk Lawatan Tanah Bertuah, LAIR menjelajahi enam negara dan lebih dari 20 kota di Eropa. Setiap kota menjadi ruang baru untuk memperkenalkan “suara tanah” dari Jatiwangi.

Tur tersebut bukan sekadar perjalanan musik, melainkan ekspedisi budaya. Di setiap panggung, mereka mengajak penonton memahami filosofi di balik tanah liat yang berisikan tentang asal-usul, keberlanjutan, dan hubungan manusia dengan alam. Musik mereka jadi bentuk komunikasi lintas bahasa.

Eksperimen yang dilakukan LAIR juga membuka wacana baru soal definisi musik tradisional. Mereka membuktikan bahwa akar budaya bisa tumbuh di tanah manapun, selama ada keberanian untuk bereksperimen dan tetap setia pada identitas.

Dengan visi yang kuat, LAIR mengubah cara orang memandang seni dari desa. Dari Majalengka, mereka menembus batas global tanpa meninggalkan aroma tanah di telapak kaki mereka. Musik jadi medium untuk menegaskan bahwa lokalitas bisa bersuara lantang di panggung dunia.

Kini, LAIR bukan sekadar band dari Majalengka tapi mereka adalah pergerakan kultural. Lewat bunyi-bunyian dari tanah liat yang mereka buat, mereka mengingatkan dunia bahwa setiap daerah punya ceritanya sendiri, dan musik bisa jadi cara paling jujur untuk menyampaikannya. (Zaidan/BSI)

Editor : Yosep Awaludin
#majalengka #band #Liar