RADAR BOGOR - Gary Mounfield, basis ikonik dari band rock asal Manchester The Stone Roses dan Primal Scream, meninggal dunia di usia 63 tahun.
Dikutip dari Instagram @provokemagazine, berita duka personel The Stone Roses ini disampaikan oleh saudaranya Gary Mounfield, Greg Mounfield, melalui unggahan di Facebook.
Kabar duka meninggalnya Gary Mounfield dikonfirmasi pada 20 November 2025, meski penyebabnya belum diungkapkan ke publik. Saudaranya menyebutkan bahwa kabar ini harus ia sampaikan dengan hati yang paling berat.
Gary Mounfield lahir pada 16 November 1962 di Crumpsall, Manchester, Inggris. Karier profesional Mani mulai menanjak ketika dia menjadi bagian dari band kecil bernama Fireside Chaps bersama John Squire dan Andy Couzens di awal 1980-an.
Seiring waktu, band tersebut berevolusi dan akhirnya menjadi The Stone Roses dengan formasi Ian Brown, John Squire, Mani, dan drummer Alan “Reni” Wren.
Sebagai basis The Stone Roses, Gary memainkan peran penting dalam menciptakan sound khas band tersebut.
Album debut mereka tahun 1989, The Stone Roses, menjadi tonggak musik “Madchester” yang menggabungkan rock, psychedelic, dan elemen dance.
Mani juga berkontribusi pada album kedua band, Second Coming, sebelum Stone Roses pertama kali bubar pada pertengahan 1990-an.
Setelah bubarnya The Stone Roses pada tahun 1990, Mani bergabung dengan Primal Scream. Bersama mereka, ia berada dalam sejumlah album penting seperti Vanishing Point (1997), XTRMNTR (2000), Evil Heat (2002), Riot City Blues, dan Beautiful Future (2008).
Hubungan Mani dengan Stone Roses kembali terjalin pada 2011 ketika mereka memutuskan untuk reuni.
Selama periode reuni, band hanya merilis dua lagu baru, yaitu “All for One” dan “Beautiful Thing,” sebelum akhirnya bubar lagi pada 2017.
Kabar meninggalnya Gary Mounfield langsung memicu reaksi duka dari berbagai musisi dan penggemar. Ian Brown, vokalis The Stone Roses, menulis di X (dulu Twitter): “Rest in peace MANi”.
Tim Burgess dari The Charlatans juga memberi penghormatan, menyebut Mani sebagai salah satu yang terbaik dalam segala hal.
Sebelum meninggal, Mani sempat mengumumkan rencana tur “in-conversation” di Inggris. Dalam tur ini, ia berniat berbagi cerita tentang momen-momen penting dalam kariernya.
Seperti konser The Stone Roses di Spike Island dan masa reuni band. Namun sangat disayangkan, sebelum tur itu sempat dimulai, Mani berpulang.
Warisan musikal Mani tetap abadi melalui garis bassnya yang ikonik, groove-nya yang penuh jiwa, dan kemampuannya menggabungkan rock dengan elemen funk dan soul.
Banyak musisi dan penggemar mengaku terinspirasi oleh gaya bermainnya Mani, terutama dalam lagu-lagu klasik The Stone Roses.
Tak hanya sebagai musisi, Mani dikenal sebagai sosok rendah hati dan hangat. Dalam berbagai cerita dari penggemar, ia sering kali berbaur dengan publik, menikmati momen santai, dan tetap menjadi teman bagi banyak orang meski statusnya sebagai legenda musik.
Kabar kematian Gary 'Mani' Mounfield menjadi kehilangan besar bagi dunia musik. Namun warisannya tetap hidup dari catatan bass yang tak terlupakan hingga kisah hidup yang menginspirasi banyak orang.
Musiknya akan terus dikenang oleh generasi musisi dan pendengar yang terpesona oleh nada-nada yang pernah ia ciptakan. (Alya/BSI)
Editor : Yosep Awaludin