Mengenal Perunggu, Band yang Suarakan Realitas Pekerja Kantoran Lewat Album Memorandum

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 09:00 WIB
Album Memorandum yang sukses dibuat Perunggu sebagai band untuk orang kantoran. (Foto: Instagram resmi @perunggu_)
Album Memorandum yang sukses dibuat Perunggu sebagai band untuk orang kantoran. (Foto: Instagram resmi @perunggu_)

RADAR BOGOR – Di tengah dominasi lagu bertema percintaan, band rock alternatif Perunggu justru memilih jalur berbeda.

Trio Perunggu yang digawangi Adam Adenan, Ildo Hasman, dan Maul Ibrahim ini berhasil mencuri perhatian penikmat musik Indonesia melalui album Memorandum.

Album itu merupakan sebuah karya yang merekam dinamika kehidupan pekerja kantoran dengan pendekatan yang jujur dan emosional.

Alih-alih mengangkat kisah romansa atau semangat pemberontakan, Perunggu menghadirkan cerita yang dekat dengan keseharian banyak orang.

Album Memorandum menjadi representasi pengalaman hidup setelah jam kerja, mulai dari rutinitas yang melelahkan, tanggung jawab, hingga pencarian makna hidup di tengah tekanan dunia profesional.

Melalui lirik-lirik yang reflektif, Perunggu berhasil mengubah pengalaman sehari-hari menjadi karya yang terasa personal.

Baca Juga: Tembus Ratusan Miliar! Ini 5 Sepeda Motor Termahal di Dunia yang Bikin Geleng-Geleng Kepala

Album ini seolah menjadi catatan perjalanan hidup yang mampu mengajak pendengarnya larut dalam setiap cerita yang disampaikan.

Mengutip ulasan yang dibagikan melalui akun Instagram resmi Binar Media, album Memorandum dikemas sebagai arsip kehidupan yang merekam berbagai fase yang dialami seseorang, terutama ketika memasuki usia dewasa dan menghadapi dunia kerja.

Makna di Balik Judul Memorandum

Dalam lingkungan perkantoran, memorandum dikenal sebagai dokumen atau catatan resmi yang berfungsi menyampaikan informasi maupun pengingat penting. Perunggu kemudian mengadopsi istilah tersebut menjadi identitas albumnya.

Pilihan nama itu bukan tanpa alasan. Bagi para personel, Memorandum merupakan simbol pengingat atas berbagai fase kehidupan yang pernah mereka lalui dan ingin dibagikan kepada para pendengar.

Album ini tidak hanya mendokumentasikan pengalaman pribadi, tetapi juga menggambarkan perubahan hidup yang banyak dialami ketika memasuki usia 30-an, lengkap dengan tantangan, keresahan, hingga proses pendewasaan.

Terinspirasi dari Kehidupan Kantoran

Keunikan Memorandum juga terletak pada proses kreatifnya. Album ini lahir bukan semata dari ruang latihan atau studio musik, melainkan dari pengalaman nyata ketiga personelnya yang sehari-hari menjalani profesi sebagai pekerja kantoran.

Di sela kesibukan bekerja, mereka tetap bermusik dan menuangkan pengalaman tersebut menjadi karya.

Kedekatan dengan realitas inilah yang membuat banyak pekerja korporat merasa memiliki keterikatan emosional dengan lagu-lagu Perunggu.

Identitas sebagai "band rock pulang kantor" pun melekat kuat pada Perunggu. Julukan tersebut lahir karena musik mereka dinilai mampu mewakili suara para pekerja yang bergulat dengan rutinitas dan tekanan kehidupan urban.

Berangkat dari pengalaman masing-masing personel, album Memorandum akhirnya berisi 11 lagu yang menggambarkan beragam fase kehidupan.

Baca Juga: Ustaz Syam Beri Nasihat Pernikahan untuk Nathalie Holscher dan Arief Utama, Pentingnya Nafkah Halal

Mulai dari semangat mengejar impian, tanggung jawab terhadap keluarga, kelelahan mental, tekanan budaya hustle culture, hingga dinamika masyarakat kelas menengah perkotaan.

Keseluruhan lagu tersebut saling melengkapi dan membentuk satu narasi utuh tentang perjalanan hidup yang dekat dengan realitas banyak orang.

Tiga Lagu yang Paling Mewakili Emosi Pendengar

Di antara sebelas lagu dalam album tersebut, terdapat tiga karya yang paling banyak mendapat perhatian karena dinilai sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Lagu Biang Lara menggambarkan beban mental yang kerap dirasakan para pekerja kantoran.

Sementara Kalibata, 2012 mengisahkan kehilangan serta proses berdamai dengan duka yang perlahan diterima. 

Adapun 33x menghadirkan refleksi tentang pentingnya menerima keterbatasan diri dan tidak terus-menerus terjebak dalam tuntutan hidup yang serba cepat.

Ketiga lagu tersebut menjadi titik emosional dalam album Memorandum. Perunggu menghadirkan sudut pandang yang lebih dewasa, sekaligus mengajak pendengar memahami bahwa setiap fase kehidupan layak dikenang dan diterima apa adanya.

Baca Juga: Taman Herbal Insani, Wisata Keluarga Lengkap dengan Kolam Renang dan Taman Edukasi di Depok

Pada akhirnya, Memorandum bukan sekadar album debut yang memperkenalkan identitas musikal Perunggu.

Lebih dari itu, album ini menjadi dokumentasi perjalanan hidup yang merekam berbagai pengalaman, kegelisahan, serta proses bertumbuh dalam dunia kerja dan kehidupan sehari-hari.

Lewat karya tersebut, Perunggu berhasil memaknai istilah memorandum sebagai sebuah pengingat yang tidak hanya tersimpan di atas kertas, tetapi juga hidup melalui musik yang terus relevan bagi para pendengarnya. (Irsyad/Radar Bogor)

Editor : Yosep Awaludin
Memorandum band rock perunggu