RADAR BOGOR — Jagat musik internasional kembali dihebohkan oleh sikap tegas megabintang K-Pop, BTS.
BTS yang merupakan boyband asal Korea Selatan, secara resmi memutuskan untuk tidak mengajukan (submit) karya musik mereka ke ajang penghargaan Grammy Awards.
Langkah BTS ini memicu gelombang apresiasi sekaligus sorotan tajam terhadap praktik pengotakkan musisi berbasis ras dan wilayah di industri musik Barat.
Keputusan besar ini diulas secara mendalam oleh konten kreator media sosial, @itsmichellezhu, yang menyoroti alasan di balik sikap pantang menyerah BTS dalam menjaga harkat dan martabat industri K-Pop di panggung dunia.
Sebelum pengumuman resmi keluar, berbagai pengamat musik global hingga media terkemuka seperti Forbes memprediksi bahwa BTS akan mendominasi panggung Grammy lewat album terbaru dan berbagai pencapaian masif mereka.
Namun, situasi berubah ketika pihak Recording Academy meluncurkan kategori baru, yaitu Best Asian Pop Music Performance.
Bukannya mendapat sambutan hangat, langkah Grammy tersebut justru menuai kritik keras dan kekecewaan publik. Kategori baru ini dianggap sebagai bentuk diskriminasi terselubung dan eksklusi sistematis.
Alih-alih memberikan ruang bagi musisi Asia untuk bersaing adil di kategori utama (general field) seperti Album of the Year atau Record of the Year, kategori khusus ini dinilai sengaja diciptakan untuk memenjarakan dan membatasi ruang gerak karya musisi Asia.
"Kategori ini dinilai seolah menjadi jawaban superfisial dari Grammy terhadap komplain publik selama ini. Seakan-akan mereka berkata bahwa musisi Asia tidak akan bisa bersaing di kategori utama, sehingga cukup diberi wadah tersendiri saja," tulia akun — @itsmichellezhu,
Bahkan, anggota Recording Academy sendiri, Adam Merter Birson, turut mengkritik penempatan tersebut.
Ia menegaskan bahwa kategori khusus semacam itu mestinya diperuntukkan bagi musisi pendatang baru yang butuh eksposur awal.
Sementara BTS merupakan entitas musik global yang sudah terlalu besar dan penting untuk dimasukkan ke dalam "jebakan" marginalisasi tersebut.
Klarifikasi dari pihak agensi (HYBE) menyebutkan bahwa tindakan ini bukanlah boikot secara menyeluruh dari level perusahaan, karena artis HYBE lainnya tetap diberikan kebebasan jika ingin mendaftarkan karya mereka.
Keputusan untuk menarik diri penuh dari Grammy merupakan kesepakatan bulat dan hasil diskusi mendalam ketujuh anggota BTS sendiri.
Pesan utama yang ingin disampaikan oleh BTS sangat mendasar: musik sejatinya harus dihargai dan dinilai berdasarkan kualitas karya itu sendiri, tanpa harus dikotakkan berdasarkan bahasa, negara, wilayah, ataupun latar belakang rasial.
Langkah fenomenal yang diambil BTS ini dinilai para analis akan membawa dampak bola salju yang signifikan bagi panggung awards internasional di Amerika Serikat.
Baca Juga: Berkat Pendampingan BRI, Kingkaf Kini Tembus Pasar Amerika hingga Jepang
Keberanian mereka menolak validasi ajang sebesar Grammy menunjukkan pergeseran kekuatan dalam industri hiburan global.
Sebagaimana diungkapkan oleh Forbes dalam salah satu ulasannya, BTS terus memecahkan rekor dunia dan memperluas basis penggemar globalnya, sementara ajang penghargaan tradisional seperti Grammy kian berjuang mempertahankan relevansi dan jumlah penonton mereka.
Pada akhirnya, sikap tegar BTS menunjukkan bahwa integritas seni dan penghormatan terhadap karya berada di atas segalanya. (Rana/Tazkia)
Editor : Yosep Awaludin