Mengenal PORIS, Kolektif Rap Asal Tangerang yang Viral Berkat Gaya Musik Trap Berkarakter

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 10:20 WIB
PORIS, kolektif rap yang berasal dari tangerang. (Foto: Instagram @porisvault)
PORIS, kolektif rap yang berasal dari tangerang. (Foto: Instagram @porisvault)

RADAR BOGOR – Industri hip-hop Indonesia diramaikan dengan kemunculan talenta baru yakni PORIS. 

PORIS merupakan kolektif rap asal Tangerang yang tengah menjadi perbincangan berkat karakter musiknya yang gelap, visual bergaya grunge, serta pendekatan underground yang dinilai menghadirkan warna baru di skena hip-hop Tanah Air.

Berdasarkan ulasan dari kanal YouTube SUNPoWRR, PORIS sukses membangun identitas yang kuat melalui lirik-lirik lugas, estetika visual yang khas, serta cerita tentang perjuangan anak daerah yang perlahan menembus panggung musik di Jakarta.

Kombinasi tersebut membuat nama mereka semakin dikenal, terutama di kalangan generasi muda dan penikmat musik rap.

PORIS Bukan Musisi Solo, Melainkan Kolektif Rap

Berbeda dari anggapan banyak orang, PORIS bukan nama seorang rapper, melainkan sebuah kolektif hip-hop yang mulai terbentuk sekitar tahun 2023.

Grup ini dihuni oleh delapan anggota, yakni Wichigo Shawty, Obyrins, vhanz, bhanz, db mandala, toxicdev!, GACE, dan Azuraa.

Baca Juga: Ajax vs Shelbourne 3-1: Maarten Paes Gemilang, Godts Cetak Gol Cepat

Nama PORIS diambil dari kawasan Poris, Tangerang, tempat para anggotanya sering berkumpul sekaligus memproduksi karya musik.

Sejak aktif di media sosial dan SoundCloud, mereka konsisten menampilkan citra dark, grunge, dan underground sebagai identitas utama yang membedakan mereka dari grup rap lainnya.

Langkah awal PORIS dimulai melalui perilisan lagu "Skena Polis" yang diproduseri oleh Fat Rorry.

Lagu tersebut menjadi pijakan awal terbentuknya karakter musikal mereka dengan lirik yang berani, ekspresif, dan penuh kepercayaan diri.

Membawa Semangat Anak Daerah ke Panggung Jakarta

Salah satu ciri khas PORIS adalah narasi mengenai perjuangan anak daerah yang berusaha menunjukkan eksistensi di industri musik nasional.

Melalui slogan "Kami dari kampung, kami menguasai Jakarta Selatan," kolektif ini membangun identitas yang merepresentasikan semangat untuk membuktikan kemampuan tanpa harus berasal dari pusat industri hiburan.

Narasi tersebut kemudian diperkuat melalui konsep PVG Lifestyle, sebuah istilah yang menggambarkan gaya hidup serba cepat dengan perpaduan semangat bekerja, budaya pesta, busana bernuansa gelap, hingga gaya hidup konsumtif yang dekat dengan keseharian anak muda.

Terinspirasi Atlanta Trap

Secara musikal, PORIS banyak mengadopsi karakter Atlanta Trap dan Opium Sound yang identik dengan sejumlah rapper dunia seperti Playboi Carti, Young Thug, dan Future.

Sejumlah lagu mereka, seperti "Anak Kampung Lifestyle Rockstar", "Siapa Tu Siapa?", serta "Di Atas Atap" yang turut menghadirkan rapper senior Abim, berhasil menarik perhatian publik dan kerap diputar dalam berbagai acara moshpit maupun beredar luas di media sosial.

Tak Hanya Musik, Gaya PORIS Ikut Jadi Tren

Popularitas PORIS tidak hanya terlihat dari karya musik yang mereka rilis. Berbagai atribut dan gaya yang dikenakan para anggotanya juga mulai diikuti oleh para penggemar.

Baca Juga: Mohon Maaf, Bansos Tahap 3 Dialihkan Jika KPM Masuk 3 Kriteria Ini

Salah satunya adalah Topi Mati Gaya, karya Azzer the Creator, yang kerap digunakan para personel PORIS hingga menjadi salah satu aksesori yang identik dengan komunitas mereka.

Selain itu, hand sign atau simbol tangan khas PORIS juga mulai banyak diikuti oleh anak muda, terutama saat berfoto maupun menghadiri pertunjukan musik.

Sejak kemunculannya pada 2023, PORIS dinilai berhasil menghadirkan energi baru dalam perkembangan hip-hop Indonesia melalui konsep yang berbeda dan identitas yang kuat.

Musisi Baskara Putra bahkan menilai PORIS sebagai fenomena yang sulit dibandingkan dengan grup lain.

Menurutnya, keberadaan PORIS tidak bisa hanya diukur dari apakah musiknya enak atau tidak didengar, melainkan karena mereka menawarkan karakter dan identitas yang benar-benar berbeda dari apa yang selama ini ada di industri musik Indonesia. (Renno/Unpak)

Editor : Yosep Awaludin
PORIS underground tangerang