Musik Retro Menggema di Panggung Kafe Kopi Klan Bogor, The Dusty Rusty Kenalkan Platipus

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 23:03 WIB
The Dusty Rusty tampil membawakan album terbarunya: Platipus di Kafe Kopi Klan, Sabtu, 26 September 2026. (Fikri/Radar Bogor)
The Dusty Rusty tampil membawakan album terbarunya: Platipus di Kafe Kopi Klan, Sabtu, 26 September 2026. (Fikri/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Alunan musik retro-pop The Dusty Rusty mengisi suasana malam di Kafe Kopi Klan, Baranangsiang, Kota Bogor. Di atas panggung berlatar merah, para personel tampil dengan gitar, bass, keyboard, dan drum di bawah sorotan lampu panggung.

Penampilan pada Sabtu, 26 September 2026 itu menjadi bagian dari perjalanan The Dusty Rusty memperkenalkan mini album perdana mereka, Platipus, kepada penikmat musik. Mini album tersebut resmi dirilis pada 25 Juli 2026.

Grup musik asal Gunung Putri, Bogor, itu membawa karakter musik pop era 1950 hingga 1960-an yang dipadukan dengan sentuhan rock 'n' roll dan rockabilly. Warna musik lawas tersebut dikemas dengan pendekatan yang lebih modern.

Baca Juga: Bapanas Dorong Menu B2SA Kota Bogor Diintegrasikan dengan Program Makan Bergizi Gratis

The Dusty Rusty beranggotakan Denrobay pada vokal dan gitar, Kuray pada gitar, Cupla pada bass, serta Russel pada drum. Sebelum merilis Platipus, mereka lebih dulu memperkenalkan sejumlah single secara terpisah.

Dari sisi musikal, pengaruh musik lawas cukup kuat dalam karya mereka. Album-album awal The Beatles, seperti Please Please Me dan A Hard Day's Night, turut menjadi salah satu referensi dalam membentuk warna musik The Dusty Rusty.

Cupla menjelaskan, mini album tersebut berisi lima lagu yang menggambarkan berbagai fase emosional seorang laki-laki muda. Mulai dari cinta yang tak berbalas, kenangan terhadap sebuah tempat, relasi yang tidak sehat, hingga proses menuju fase pendewasaan.

"Kami berusaha merangkum berbagai fase percintaan mulai dari ekspektasi, kegelisahan, hingga proses pendewasaan dari sudut pandang seorang laki-laki muda tanpa harus berjarak dengan identitas musik yang membentuk kami," kata Cupla.

Cupla mengatakan, proses penciptaan lagu biasanya dimulai melalui sesi jamming. Setelah materi dianggap cukup utuh, proses kemudian dilanjutkan ke tahap penyelesaian dan rekaman.

Materi dalam Platipus mulai dikerjakan sejak 2025 dan rampung pada kuartal pertama 2026. Proses rekaman berlangsung di 13 Nadi Musik dengan Shena Ariyandi sebagai produser dan Boy Mulyadi yang menangani proses rekaman.

Robay menjelaskan, proses pengerjaan mini album tersebut menghadapi sejumlah tantangan. Kesibukan masing-masing personel membuat proses rekaman harus menyesuaikan waktu. Bahkan, beberapa materi yang sebelumnya telah dianggap selesai kembali mengalami perubahan setelah mereka melakukan improvisasi.

"Proses rekaman Platipus cukup menguras tenaga, karena tiap personel punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, terlebih kami cukup sering melakukan improvisasi dan mengubah materi yang sebenarnya sudah final di tahap workshop," terang Robay.

Robay juga menjelaskan The Dusty Rusty tidak secara khusus mengubah konsep musik mereka demi menjaring pendengar baru. Mereka memilih mempertahankan karakter musik yang mudah dicerna sekaligus tetap membawa identitas yang telah dibangun.

Jika didengarkan secara berurutan, kelima lagu dalam Platipus membentuk satu narasi tentang perjalanan emosi seorang laki-laki muda. Ceritanya mencakup cinta yang tak terbalas, memori tentang sebuah tempat, relasi yang tidak sehat, hingga pengalaman memasuki fase pendewasaan.

Kuray mengatakan, The Dusty Rusty memilih mempertahankan identitas musik mereka tanpa mengikuti tren.

"Kami tidak berusaha mengejar tren, yang kami tawarkan adalah identitas The Dusty Rusty yang otentik dan lahir dari kecintaan kami terhadap musik lawas yang terus digali dengan cara kami," ujar Kuray.

Nama Platipus sendiri dipilih untuk menggambarkan keberagaman karakter dalam satu kesatuan. Seperti platipus yang memiliki sejumlah keunikan, kelima lagu dalam mini album tersebut juga memiliki cerita berbeda, tetapi membentuk satu rangkaian perjalanan emosi ketika didengarkan secara berurutan.

Russel mengatakan, Platipus menjadi bentuk eksplorasi The Dusty Rusty untuk menunjukkan identitas mereka melalui musik.

"Platipus merupakan bentuk eksplorasi yang berani dari kami sebagai satu kesatuan di The Dusty Rusty, keberanian menjadi diri sendiri, serta simbol bahwa tidak semua hal harus sesuai dengan ekspektasi orang lain," kata Russel.

Setelah memperkenalkan Platipus, The Dusty Rusty menyiapkan sejumlah agenda lanjutan. Grup yang terbentuk di Gunung Putri tersebut juga menjadwalkan tur ke sejumlah kota di Pulau Jawa.

Mini album Platipus dapat didengarkan melalui berbagai platform streaming digital sejak 25 Juli 2026. Mereka berharap album ini bisa menjadi hiburan bagi para penikmat musik Bogor maupun Indonesia. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
The Dusty Rusty Kafe Kopi Klan bogor