RADAR BOGOR - Masyarakat diminta waspada, aktivitas gempa di Gunung Slamet Jawa Tengah meningkat dalam sebulan terakhir.
"Aktivitas kegempaan Gunung Slamet didominasi gempa embusan dan gempa tremor menerus, yang mengindikasikan aktivitas pergerakan fluida di sekitar permukaan," kata Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid.
Gunung Slamet adalah gunung api strato berbentuk kerucut yang mencapai tinggi 3.432 meter di atas permukaan laut.
Gunung berapi tipe A ini berada di lima kabupaten di Jawa Tengah: Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga.
Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) yang terletak di Desa Gambuhan, Pemalang, Jawa Tengah, saat ini memantau Gunung Slamet secara visual dan instrumental. Gunung Slamet saat ini berstatus waspada atau level II.
Badan Geologi melaporkan ada 197 gempa embusan, 1 gempa vulkanik dalam, 1 gempa tektonik lokal, 12 gempa tektonik jauh dan 197 gempa tremor dengan amplitudo 0,5 hingga 1 mm (paling sering 0,5 milimeter) terjadi di Gunung Slamet.
Badan Geologi merekam 701 gempa embusan, 1 gempa terasa, 8 gempa tektonik jauh, dan 1 gempa tremor menerus dengan amplitudo tertinggi 0,5 milimeter dari 16 hingga 30 April.
Selanjutnya, dari 1 hingga 9 Mei, tercatat 902 gempa embusan, 15 gempa vulkanik dalam, 3 gempa tektonik jauh, dan gempa tremor menerus dengan amplitudo 0,5 hingga 3 milimeter, dengan amplitudo tertinggi 1 milimeter.
Dengan pengukuran jarak elektronik, aktivitas pemantauan deformasi menunjukkan fluktuasi memendek-memanjang yang cenderung stabil dengan perubahan jarak yang relatif kecil. Hasil pengukuran jarak miring tidak berubah dari 1 Mei hingga 10 Mei.
Untuk memantau deformasi, Badan Geologi menggunakan tiltmeter di Stasiun Cilik, yang berada pada elevasi 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl), Stasiun Bambangan, yang berada pada elevasi 1.875 mdpl, dan Stasiun Sawangan, yang berada pada elevasi 2.000 mdpl.
Pemantauan deformasi tiltmeter Gunung Slamet Stasiun Sawangan dari 1 Mei hingga 10 Mei menunjukkan pola meningkat relatif pada komponen Y (radial).
Wafid mengatakan, hasil pengamatan data pemantauan menunjukkan bahwa ada peningkatan tekanan di bawah dasar Gunung Slamet, yang dapat menyebabkan gempa dangkal dan erupsi.
Saat ini, erupsi freatik dan magmatik merupakan ancaman bahaya yang dapat menyebabkan lontaran material pijar yang melanda wilayah di sekitar puncak dalam radius dua kilometer.
"Hujan abu dapat terjadi di sekitar kawah maupun melanda daerah yang ditentukan arah dan kecepatan angin," terangnya.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Mengancam, BMKG Tetapkan 14 Daerah Ini Berstatus Waspada
Mengingat status waspada Gunung Slamet yang berlaku sejak 19 Oktober 2023, Badan Geologi meminta masyarakat untuk tidak berada atau beraktivitas dalam radius dua kilometer dari puncak kawah. (***)
Editor : Yosep Awaludin