RADAR BOGOR - Hari Raya Idul Adha identik dengan menyembelih sapi dan kambing. Sehingga banyak umat muslim mengkonsumsi daging sapi dan kambing dengan porsi banyak.
Namun, seperti yang mungkin sudah Anda ketahui, daging sapi dan kambing selalu dikaitkan dengan kolesterol tinggi.
Kolesterol dapat meningkat jika Anda mengonsumsi daging sapi dan kambing terlalu banyak. Apakah daging sapi atau kambing lebih baik untuk dikonsumsi?
Daging Sapi atau Kambing yang Lebih Sehat?
Daging kambing adalah jenis daging yang sering dikonsumsi di Indonesia dan dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan Nusantara yang lezat, seperti satai dan gulai.
Di sisi lain, daging sapi sering dikonsumsi dan diolah menjadi berbagai jenis makanan, baik yang dibuat di Barat maupun Asia.
Kambing dan daging sapi sama-sama memiliki rasa yang enak. Namun, manakah yang sebenarnya lebih baik untuk kesehatan Anda? simak penjelasannya berikut ini :
1. Kandungan nutrisi
Tiga ons daging kambing mengandung 3,2 miligram zat besi, 0,79 gram lemak jenuh, dan 122 kalori.
Ada 179 kalori, 3 gram lemak jenuh, dan 2,9 miligram zat besi dalam porsi daging sapi yang sama. Karena itu, daging kambing tampaknya lebih baik daripada daging sapi.
Namun, perlu diingat bahwa jumlah gizi yang dapat diterima dari daging sapi dan kambing bervariasi tergantung pada bagian tubuh mana yang dikonsumsi.
Baca Juga: Anak Idap Hernia, Dokter Spesialis Bedah Anak Eka Hospital Cibubur Beri Tips Bagi Orang Tua
Dibandingkan dengan potongan tanpa lemak dan bagian lemak, tulang memiliki jumlah nutrisi yang berbeda-beda. Daging organ atau jeroan juga memiliki komposisi nutrisi yang berbeda.
Dalam hal nutrisi, daging kambing lebih baik daripada daging sapi karena mengandung lebih banyak protein dan zat besi.
Daging kambing lebih sehat daripada daging sapi karena memiliki kalori dan lemak jenuh yang lebih rendah.
2. Manfaat Buat Kesehatan
Makan daging sapi tidak selalu buruk untuk kesehatan, meskipun daging kambing lebih kaya nutrisi.
Daging sapi, karena kandungan proteinnya yang tinggi, dapat membantu dalam pembentukan massa otot.
Daging sapi juga baik untuk anak-anak yang dalam masa pertumbuhan karena kandungan B kompleksnya meningkatkan daya ingat.
Melalui kandungan omega-3 dan peningkatan sel darah merah, daging sapi juga dapat membantu menjaga sistem saraf pusat.
3. Ancaman Kesehatan
Mengonsumsi daging sapi dan kambing memiliki kandungan kolesterol yang tinggi, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Kedua jenis daging tersebut, sayangnya, mengandung lemak jenuh yang dapat meningkatkan kolesterol.
Namun, daging kambing lebih baik daripada daging sapi karena lemaknya lebih sedikit. Selain itu, dada kambing memiliki tingkat lemak jenuh dan kalori total yang lebih rendah, yang menurunkan risiko penyakit jantung dan kolesterol.
Anda harus menghindari semua jenis daging merah jika Anda ingin menjaga kadar kolesterol Anda. Sebaliknya, makan daging tanpa lemak seperti ikan dan ayam.
Meskipun manfaat kesehatan kambing dan sapi tidak jauh berbeda, kambing memiliki manfaat kesehatan yang lebih baik daripada sapi.
Meskipun demikian, daging merah, khususnya jeroan, dapat menjadi tidak sehat jika diolah dengan cara yang juga tidak sehat.
Selain itu, daging sapi atau kambing dapat menjadi lebih berbahaya jika dikonsumsi terlalu banyak bumbu seperti garam, mentega, atau minyak yang tidak sehat.
Selain itu, ada banyak mitos yang tersebar luas bahwa daging kambing adalah penyebab utama tekanan darah tinggi. Namun, tidak ada bukti medis yang mendukung gagasan ini.
Bukan daging kambingnya yang salah; itu pengolahan dan bumbu yang berlebihan. Salah satu cara untuk memakan daging kambil dengan aman dan sehat adalah dengan mengetahui cara yang tepat untuk mengolahnya.
Salah satunya adalah dengan memasak daging kambing pada suhu rendah agar tidak mengering.
Salah satu cara terbaik untuk mengolah daging kambing adalah dengan memanggangnya dengan cairan seperti air, anggur, atau susu.
Jangan lupa untuk mengimbangi daging sapi atau kambing dengan sayur-sayuran dan buah. Agar daging tidak menyebabkan sembelit, perbanyak makanan tinggi serat dan berolahraga. (***)
Editor : Yosep Awaludin