RADAR BOGOR - Memasuki fase akhir pelaksanaan ibadah haji, jumlah jemaah haji yang meninggal dunia masih terus bertambah.
Hingga Minggu (23/6), jumlahnya tercatat mencapai 234 jemaah termasuk warga Bogor.
Dari jumlah itu, 40 jemaah atau 17 persennya meninggal selama fase pelaksanaan puncak haji di Armuzna (Arafah Muzdalifah Mina).
Meski begitu, secara umum, tingkat kematian pada musim haji kali ini menurun signifikan.
Tahun lalu ada 772 jemaah yang wafat di Tanah Suci. Atau turun hingga 70 persen.
Penurunan juga terjadi pada jumlah jemaah yang meninggal selama pelaksanaan ibadah di Armuzna. Tahun lalu tercatat ada 63 jemaah.
Kabid Kesehatan PPIH Arab Saudi, dr Indro Murwoko menjelaskan, meski jumlah kematian berkurang, pihaknya tetap meminta jemaah untuk tetap menjaga kondisi.
”Sebab, bagaimanapun saat ini kondisi cuaca di Arab Saudi masih sangat panas. Sehingga rawan menimbulkan gangguan kesehatan,” katanya.
Di sisi lain, meski terjadi penurunan yang sangat signifikan, masih adanya jemaah haji yang meninggal di Tanah Suci tetap menjadi salah satu bagian evaluasi Kemenag.
”Sebab, bagi kami, kematian jemaah bukan masalah angka. Tapi, ini menyangkut nyawa para jemaah,” kata Menag RI Yaqut Cholil Qoumas.
Dia menjelaskan, pihaknya tetap akan mengevaluasi prosedur pengawasan dan penanganan kesehatan para jemaah haji Indonesia.
Targetnya, tingkat kematian para jemaah selama di Tanah Suci akan terus menurun.
Isu politik mewarnai hasil pemantauan Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR.
Sejumlah sorotan yang disampaikan timwas dianggap memicu kontroversi.
Selain dianggap tak valid dan tanpa melalui observasi, evaluasi timwas dituding sarat nuansa politis.
Misalnya, saat rapat koordinasi Timwas Haji DPR dengan jajaran Kemenag di Madinah pada akhir pekan lalu. Salah satu yang jadi sorotan timwas adalah kinerja para petugas haji.
Dalam rakor itu, anggota timwas Selly Andriany menyoroti aktivitas sejumlah petugas haji yang tengah berada di pusat perbelanjaan di sekitar Masjid Nabawi, Madinah.
”Mohon maaf nih. Kami melihat petugas haji yang seharusnya bertugas di Masjid Nabawi malah terlihat dalam pertokoan,” katanya.
Sebelumnya, sorotan lain juga dialamatkan timwas terhadap layanan jemaah haji, terutama saat di Armuzna.
Hanya, sorotan itu akhirnya jadi bola liar karena dianggap tidak sesuai fakta.
Sampai-sampai Naib Amirul Hajj Anwar Abbas ikut mengomentari kinerja timwas.
”Sorotan-sorotan itu seharusnya disertai dengan fakta yang sebenarnya di lapangan,” katanya.
Dia mencontohkan sorotan terhadap para petugas haji yang berada di pertokoan.
Saat itu, para petugas memang belum menjalankan tugasnya. Sebab, belum ada satu pun jemaah haji Indonesia yang tiba di Madinah.
”Menurut saya, itu tak masalah. Sebab, jemaah yang akan dilayani kan masih belum tiba. Terus siapa yang mau dilayani?” ucap Buya Anwar, sapaan akrabnya.
Seharusnya, timwas ikut memantau kerja keras para petugas haji di situasi-situasi berat.
Misalnya, selama ibadah puncak di Armuzna di tengah suhu yang panas-panasnya. Berbagai sorotan timwas juga ditanggapi Menag Yaqut Cholil Qoumas.
Dia meminta jajaran petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) untuk tetap bekerja.
”Untuk urusan politik, biarkan saya yang menangani,” katanya.
Sebelumnya, jamaah haji dari Kota Bogor bernama Adjum Djunaedi meninggal saat di Mekkah, Selasa (18/6/2024). (ris/c6/oni)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim