Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Semakin Banyak! Ternyata Ini Alasan Perempuan Indonesia Memilih Childfree, Begini Kata BPS

Diyah Feronika • Selasa, 19 November 2024 | 07:53 WIB
Data BPS menyebutkan bahwa ada lonjakan angka persentase fenomena childfree di Indonesia, dan ada beberapa faktor yang mendasari alasan mengapa perempuan Indonesia lebih memilih untuk childfree.
Data BPS menyebutkan bahwa ada lonjakan angka persentase fenomena childfree di Indonesia, dan ada beberapa faktor yang mendasari alasan mengapa perempuan Indonesia lebih memilih untuk childfree.

RADAR BOGOR – Menurut laporan Badan Pusat Statistik atau BPS, persentase childfree di Indonesia cenderung meningkat selama empat tahun terakhir.

Hasil kajian data Susenas atau Survei Sosial Ekonomi Nasional, per 12 November 2024, menyebutkan bahwa ada 8,2 persen perempuan Indonesia yang memutuskan untuk childfree hingga 2022.

Angka ini sama dengan 71 ribu perempuan dalam rentang usia 14-49 tahun yang sudah pernah menikah namun belum pernah memiliki anak dalam keadaan hidup.

Alasan Perempuan Indonesia Memilih untuk Childfree

Laporan BPS mengenai childfree di Indonesia menyebutkan adanya tren penurunan TFR atau total fertility rate sejak tahun 1971.

TFR adalah rata-rata jumlah anak yang dilahirkan perempuan dalam masa produktif, yaitu antara usia 15 hingga 49 tahun.

Di indonesia, angka TFR telah menurun signifikan dari 5,61 pada tahun 1971 menjadi 2,18 pada tahun 2020.

Ini menunjukan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, rata-rata perempuan Indonesia melahirkan sekitar dua anak selama masa hidup produktif.

Menurut Doyle, seperti dilansir BPS, alasan perempuan memilih childfree dipicu oleh penemuan alat kontrasepsi yang aman, peningkatan akses pendidikan bagi perempuan, serta berkembangnya advokasi kesetaraan gender.

Ini mengapa istilah childfree banyak dikaitkan dengan gerakan feminisme dimana perempuan lebih terbuka untuk ikut berkontribusi dalam masyarakat.

Perempuan yang tidak mengurus anak cenderung lebih memiliki kesempatan untuk menjamah peran sosial diluar peran keluarga seperti karier dan pendidikan.

Dilansir oleh BPS, perempuan yang sedang menjalani pendidikan tinggi seperti S2 dan S3 tidak berkeinginan untuk memiliki anak.

Hal ini menimbulkan asosiasi yang kuat bahwa perempuan dengan pendidikan tinggi cenderung memilih untuk childfree.

Namun terlepas dari isu feminisme, childfree juga berkaitan dengan masalah ekonomi dan finansial.

Data Susenas 2019–2022 menunjukkan bahwa perempuan berpendidikan SMA ke bawah lebih banyak memilih childfree dibandingkan mereka dengan pendidikan perguruan tinggi, yang menunjukkan kaitan antara tingkat pendidikan dan peluang kerja serta keterlibatan di bidang ekonomi.

Hal ini terbukti dari data Susenas 2022 yang menyebutkan bahwa 57 persen perempuan yang memilih untuk childfree tidak terlibat secara langsung dalam kegiatan ekonomi.

Pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020, DKI Jakarta dan Jawa Timur mencatat peningkatan prevalensi childfree, memunculkan dugaan bahwa pandemi menurunkan kemampuan finansial dan daya beli masyarakat.

Karena takut kondisi keuangan dan ekonomi semakin sulit, banyak perempuan yang memilih untuk menunda memiliki anak atau bahkan childfree.

Dari penjelasan BPS, masyarakat yang mendukung gerakan childfree memiliki alasan yang masuk akal, yaitu anak bisa menjadi beban ekonomi dan finansial keluarga.

Itu mengapa masyarakat yang masih merasa takut tidak mampu membiayai anak dan belum memiliki kemampuan finansial yang cukup lebih memilih untuk childfree.

Salah satu sosok SelebGram, Gita Savitri Devi atau sering dikenal sebagai GitaSav, adalah sosok perempuan yang menyuarakan gerakan childfree di media sosial.

Perempuan berhijab yang sering membagikan kegiatannya meramu skincare ini bernarasi untuk mendahulukan kebahagiaan diri, kesehatan mental, serta memprioritaskan pendidikan dan karier.***

Editor : Halimatu Sadiah
#indonesia #bps #childfree