Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kisah di Balik Perjuangan Tukang Cat Duco Kramat, Tempat Body Repair Mobil Legendaris di Jakarta

Fadil Ma'ruf • Kamis, 21 November 2024 | 07:53 WIB

Portrait pekerja cat duco di kawasan Kramat, Jakarta.
Portrait pekerja cat duco di kawasan Kramat, Jakarta.

RADAR BOGOR - Di balik gemerlapnya dunia otomotif, ada kisah tentang para pekerja keras yang mengabdikan hidup mereka untuk memperbaiki dan mempercantik kendaraan salah satunya pekerja cat duco di kawasan Kramat, Jakarta yang telah dikenal sejak era 1980-an sebagai pusat body repair legendaris di Jakarta. 

Namun, di balik keahlian mereka, tersimpan cerita perjuangan yang tak banyak orang tahu. Seorang pria bercerita bagaimana ia memulai perjalanan hidupnya di dunia cat duco sejak usia sembilan tahun, sebagaimana dilansir dari Youtube Asumsi.

Awalnya, tugasnya hanya sederhana, membeli cat atau membungkus barang dengan koran.  Namun, seiring waktu, ia terjun langsung ke pekerjaan mengecat. 

Baca Juga: Kisah Toko Mega Segar: Fashion Legendaris di Bogor yang Bertahan Sejak Zaman Jepang dan Sejarah di Balik Atap Anyaman Bambu

“Kalau belajar begini minimal lima tahun. Nggak bisa langsung terjun begitu aja,” katanya. 

Pekerjaan ini tak lepas dari risiko, mulai dari kecelakaan kecil hingga hal serius seperti salah minum thinner yang nyaris tak bisa dibedakan dengan air saat tubuh sudah terlalu lelah.

Menguasai teknik cat duco bukanlah perkara mudah. 

Ada tahap-tahap yang harus dikuasai, dari proses amplas hingga pengecatan, agar hasilnya sempurna. 

Kesalahan kecil, seperti amplas yang kurang matang, dapat membuat cat tidak menempel sempurna pada bodi kendaraan. 

Baca Juga: Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia: Timnas Indonesia Bersinar, Iran, Jepang, dan Korea Selatan Amankan Tiket

Hal ini kerap membuat pelanggan kecewa, dan para pekerja sering kali harus menerima teguran tajam.

“Kerjaan kecil dianggap enteng, padahal kalau sembarangan bisa jadi malapetaka,” ujarnya. 

Namun, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik. 

Hasil cat yang halus, bodi yang terlihat lempeng dari depan, hingga warna yang serasi menjadi bukti dedikasi mereka.

Pekerjaan di pinggir jalan tak hanya membutuhkan keahlian, tetapi juga daya tahan fisik. 

Panas matahari, debu jalanan, dan aroma kuat thinner menjadi tantangan sehari-hari. 

Meski begitu, para pekerja tetap semangat, ada yang menyiasati dengan minum susu beruang atau sesekali memakai pelindung, walau itu tidak sepenuhnya menghilangkan rasa lelah.

Baca Juga: Mengenang Jejak Sejarah Para Pembela Tanah Air di Museum PETA, Wisata Edukasi di Bogor

“Kalau capek, ya istirahat sebentar. Tapi tetap balik kerja. Anak istri harus makan,” katanya, menggambarkan perjuangannya.

Di tempat ini, perbaikan mobil bisa langsung ditangani tanpa prosedur rumit seperti di asuransi.  Harga pun fleksibel, mulai dari Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per panel, tergantung tingkat kerusakan. 

Prosesnya yang cepat, bahkan bisa selesai dalam sehari, membuat jasa mereka banyak diminati. Namun, bekerja di pinggir jalan tidaklah tanpa hambatan. 

Ancaman larangan dari RT setempat hingga rencana pemasangan portal sering menjadi momok bagi para pekerja. Jika usaha mereka ditutup, mereka bingung bagaimana menghidupi keluarga.

“Kalau ditutup, kita harus makan apa?” katanya dengan getir.

Meski penuh tantangan, para tukang cat duco di Kramat tetap setia pada pekerjaan mereka. 

Bagi mereka, ini bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga soal memberikan kepuasan kepada pelanggan dan mempertahankan tradisi body repair yang telah melekat di Kramat selama puluhan tahun.

“Udah yakin aja, kerjaan ini cocok. Kita harus terapin dan terus belajar,” tutupnya dengan semangat.

Kisah ini adalah potret nyata perjuangan rakyat kecil di tengah kerasnya hidup. 

Mereka adalah tulang punggung keluarga, yang dengan keringat dan dedikasi, terus bertahan untuk masa depan yang lebih baik.

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#KRAMAT #kisah #cat duco #jakarta #body repair mobil