Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Asal Usul dan Arti Pangilan Gus, Habib, Kiai, Ustaz, dan Syekh, Biar Tidak Bingung Simak Penjelasannya

Lucky Lukman Nul Hakim • Sabtu, 7 Desember 2024 | 08:54 WIB
Ilustrasi suasana pengajian.
Ilustrasi suasana pengajian.

RADAR BOGOR - Di tengah kontroversi panggilan Gus hingga Habib yang disematkan kepada sejumlah tokoh, banyak yang penasaran apa sebenarnya arti gus dan habib? 

Hal ini menyusul dengan viralnya peristiwa yang melibatkan Gus Miftah atau yang memiliki nama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman.

Di tengah kontroversi yang viral di media sosial dengan penjual es teh beberapa waktu lalu, penyematan nama Gus pun turut disorot. 

Berikut ulasan tentang arti panggilan Gus, Habib, Kiai, Ustaz, dan Syekh serta asal usulnya yang dirangkum dari berbagai sumber berikut ini.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Gus memiliki beberapa makna yakni nama panggilan untuk putra ulama, kiai, atau orang yang dihormati.

Makna lainnya adalah panggilan untuk anak lelaki putra kiai atau pemilik pesantren. Selain itu Gus juga memiliki arti nama julukan atau nama panggilan untuk anak laki-laki. 

Di sisi lain Pengasuh Pesantren Asrama Queen Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang HM Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans menyebut orang yang bukan keturunan kiai, tetapi dipanggil 'Gus' maka ia adalah 'Gus' naturalisasi. Dan ini menurutnya termasuk kapitalisasi panggilan 'Gus'.

“Gus adalah sebutan untuk putra seorang kiai. Sebutan 'Gus' untuk seseorang yang bukan putra kiai adalah Gus jadi-jadian, Gus naturalisasi,” ujar Gus Hans dikutip dari NU Online.

Menurut Gus Hans mereka yang dipanggil dengan sebutan 'Gus' tidak harus alim dalam bidang agama. Namun, sangat disayangkan kalau panggilan 'Gus' dikapitalisasi demi mencari keuntungan materi.

“Siapa saja bisa mengaku 'Gus' untuk mendapatkan privilege yang bisa dikapitalisasi,” tegasnya.

Ia mengatakan sebutan 'Gus' seharusnya diberikan kepada seseorang karena ia putra kiai dan hal ini bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Sebab menurutnya, justru menjadi beban moral karena menjaga nama besar orang tuanya.

Kata Gus Hans, ada beban mental saat kemampuannya terkadang tidak bisa menjawab ekspektasi masyarakat.

Terpisah, Pengasuh Pesantren Putri Tebuireng KH Fahmi Amrullah Hadzik juga mengungkapkan kalau gelar 'Gus' tidak boleh sembarangan digunakan oleh seseorang. Karena menjadi penanda bahwa ia adalah putra ulama atau kiai dan harus diiringi oleh sifat, akhlak dan adab yang baik.

“Sekarang banyak yang latar belakangnya tidak jelas, tapi punya kemampuan sedikit sudah dipanggil 'Gus'," ujar Gus Fahmi yang juga cucu Hadratussekh Hasyim Asy'ari tersebut.

Selain itu menurutnya, saat ini banyak yang memanipulasi gelar 'Gus' untuk keburukan dan hal berbahaya bagi para 'Gus' yang baik dan putra kiai.

Sedangkan untuk anak atau keturunan kiai berjenis kelamin perempuan dipanggil Ning. 

Sesuai filosofi, kata 'Ning' berasal dari kalimat berbahasa Jawa 'beningno ati' yang artinya jernihkan hati sehingga yang menyandang gelar tersebut hendaklah bisa menjernihkan hati agar menjadi contoh baik.

Selanjutnya panggilan Habib, menilik KBBI memiliki beberapa makna yakni panggilan kepada orang Arab yang berarti tuan dan panggilan kepada orang yang bergelar sayid. Makna lainnya adalah yang dicintai.

Habib atau sayyid adalah sebutan atau gelar penghormatan dari masyarakat untuk mereka yang memiliki garis keturunan atau nasab yang bersambung hingga Rasulullah Muhammad SAW. Secara nasab para habib sangatlah mulia.

“Pada dasarnya habib adalah dzuriyyah rasul atau keturunan Rasulullah saw melalui jalur Sayyidina Ali dan Sayyidatuna Fatimatuh. Kemudian putra Sayyidina Hasan dan Husen lalu menurunkan generasi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia,” ujar Direktur Aswaja NU Center Kabupaten Bekasi, Kiai Usamah Zahid dikutip dari NU Online.

Alumni Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur itu menyebut cara paling tepat untuk mengecek kebenaran habib asli atau palsu yakni dengan mendatangi Rabithah Alawiyah atau organisasi yang menghimpun WNI yang memiliki keturunan langsung dengan Rasulullah saw.

Sementara itu Kiai berdasarkan KBBI berkata tidak baku kyai dan memiliki beberapa arti, di antaranya kata sapaan kepada alim ulama.

Arti lainnya alim ulama yang ikut terjun ke kancah peperangan sewaktu melawan penjajah. Bisa juga bermakna sapaan kepada guru ilmu gaib.

Rais Syuriah PBNU KH Mustofa Bisri berpendapat kiai merupakan istilah khas budaya Jawa yang mempunyai makna orang terhormat di tengah masyarakat yang selalu melihat umat dengan mata kasih sayang.

Pria yang disapa Gus Mus itu menjelaskan, dalam budaya Jawa sebutan kiai pada zaman dahulu tidak hanya menyangkut orang.

Namun, juga mengacu pada benda yang dianggap terhormat seperti Kyai Nogososro, sebutan untuk sebuah keris, Kyai Plered sebutan sebuah tombak, dan Kyai Slamet, seekor kerbau yang dikeramatkan.

"Sebutan itu memang khas dalam budaya Jawa," ujar Gus Mus mengutip NU Online.

Ia menegaskan sifat kasih sayang telah ditunjukkan para kiai zaman dulu yakni tanpa pamrih selalu membantu orang lain. Misalnya, memberi tempat tinggal gratis bagi para santri hingga mengobati orang sakit.

Gus Mus merasa heran melihat segelintir kiai dengan pakaian seperti layaknya Rasulullah tetapi sikap dan perilakunya justru bertolak belakang.

Selanjutnya arti ustaz dengan kata tidak baku ustad dan ustadz. Mengacu pada KBBI kata ustaz memiliki arti guru agama atau guru besar (laki-laki).

Mengutip NU Online, berdasarkan kamus Arab Al-Mu'jamul Wasith kata ustaz memiliki beberapa makna seperti pengajar, orang yang ahli dalam suatu bidang industri dan mengajarkan pada yang lain, serta julukan akademis level tinggi di universitas.

Di Indonesia kata ustaz merujuk pada banyak istilah yang terkait dengan orang yang memiliki kemampuan ilmu agama. 

Orang yang disebut ustaz seperti dai, mubalig, penceramah. Lalu guru ngaji Al-Qur’an, guru madrasah diniyah, guru ngaji kitab di pesantren, hingga pengasuh atau pimpinan pesantren.

Berikutnya arti Syekh, Kamus Besar Bahasa Indonesia memaparkan arti kata tersebut yakni sapaan kepada orang Arab (terutama orang Arab keturunan sahabat Nabi).

Arti lain Syekh yakni kata sapaan kepada orang Arab yang berasal dari Hadramaut dan panggilan untuk ulama besar.

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#habib #Gus #Syekh #kiai #ustaz #asal usul #arti #Panggilan