RADAR BOGOR - Dani Baduy (54), warga Cicadas Kabupaten Sukabumi hanya bisa terdiam ketika melihat rumah yang dibangunnya selama bertahun-tahun dibongkar hingga rata dengan tanah.
Tak ada yang bisa ia lakukan selain merelakan. Rumah di Cicadas Kabupaten Sukabumi itu memang sudah mengalami rusak parah di seluruh sudutnya akibat terkena imbas pergerakan tanah.
Bangunan yang berlokasi di RW 08, Kampung Cicadas, Desa Neglasari, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi itu memang berdiri di atas tanah yang labil dan terus bergerak ke bawah layaknya longsor.
"Saya dan keluarga sudah memutuskan untuk pindah karena tempat ini sudsh tidak bisa ditinggali lagi. Walaupun diperbaiki pasti percuma, akan rusak lagi," ucapnya termenung.
Pada Rabu (4/12/2024) lalu, rumah Dani dan 4 rumah tetangganya seketika hancur akibat adanya pergerakan tanah di Kampung tersebut.
Bagian bawah rumah mereka amblas, sementara atapnya roboh.
Fenomena ini diduga terjadi karena kelabilan tanah yang timbul sejalan dengan curah hujan tinggi di Desa Neglasari selama 3 hari 3 malam suntuk.
"Awalnya ada retak-retal sedikit di dinding dan lantai. Lama-lama membesar. Di hari Rabu itu, ada getaran menyerupai gempa dan disusul tanah yang amblas akhirnya berdampak ke rumah-rumah warga yang ambruk," tuturnya kepada Radar Bogor, Sabtu (14/22/2024).
Kejadian ini pun memaksa Dani beserta istri dan 2 anaknya angkat kaki dari rumah itu. Mereka kemudian menumpang di rumah kosong milik warga lain.
Uluran tangan dari Pemerintah Daerah terkait pun dinanti-nanti Dani. Ia berharap adanya bantuan yang diberikan untuk dirinya agar bisa memiliki tanah dan membangun rumah kembali.
Sebab sejauh ini, menurut dia baru bantuan logistik dan sembako saja yang diberikan oleh Pemerintah Daerah dan Anggota DPRD.
Sedangkan bantuan pendirian rumah baru lebih dibutuhkan oleh para korban yang kebanyakan berkerja serabutan
Terlebih fenomena pergeseran tanah masih terus menghantui Dani dan warga Kampung Cicadas. Tanh yang diinjak mereka masih bergerak turun ke bawah meski tidak terlalu terlihat secara signifikan.
"Tanah ini memang masih bergerak. Buktinya jalan yang sebslumnya sudah diperbaiki warga sekarang amblas lagi. Ini membuat kami khawatir dan takut sewaktu-waktu terjadi longsor. Apalagi pergerakan tanahnya sering terjadi di malam hari," ungkap dia.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga