RADAR BOGOR - Ramadhan identik dengan perubahan pola makan dan tidur. Salah satu kebiasaan yang paling sering dilakukan banyak orang adalah kembali tidur setelah sahur dan salat Subuh.
Namun, muncul anggapan populer bahwa tidur setelah sahur di bulan Ramadhan dapat menyebabkan kegemukan. Benarkah demikian?
Sebuah penjelasan medis dan gaya hidup sehat dari dr. Tirta justru mengungkap fakta yang lebih kompleks.
Baca Juga: 3 Ribu Lebih Tiket Mudik Gratis 2026 Disiapkan Pemprov Jabar, Warga Bogor Bisa Daftar Lewat Aplikasi Sapawarga
Dilansir dari kanal YouTube Tidur HealthyClippp, dr.Tirta menjelaskan bahwa setelah sahur ternyata tidak otomatis membuat seseorang menjadi gemuk, tetapi bisa memicu masalah lain yang berdampak pada kesehatan jangka panjang.
Kegemukan Bukan Soal Tidur, Tapi Surplus Kalori
Kegemukan pada dasarnya terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang dikeluarkan dalam satu hari penuh.
Jika jumlah kalori dari makanan lebih besar daripada aktivitas yang dilakukan, maka tubuh akan menyimpan kelebihan energi sebagai cadangan lemak.
Cadangan energi ini biasanya tersimpan di area perut, paha, atau lengan. Proses ini dikenal sebagai surplus kalori.
Artinya, seseorang tidak akan langsung menjadi gemuk hanya karena tidur setelah sahur.
Tanpa kelebihan kalori, penambahan berat badan tidak terjadi secara instan.
Bahaya Sebenarnya: Ritme Sirkadian Bisa Kacau
Meski tidak langsung menyebabkan kegemukan, tidur setelah sahur memiliki dampak lain yang cukup serius, yaitu mengganggu ritme sirkadian tubuh.
Ritme sirkadian adalah “jam biologis” yang mengatur kapan tubuh harus tidur, bangun, serta mengatur hormon dan metabolisme.
Ketika seseorang bangun dini hari untuk sahur, lalu kembali tidur setelah Subuh, tubuh bisa mengalami kebingungan fase tidur.
Urutannya biasanya seperti ini:
• Bangun dini hari untuk sahur
• Aktivitas makan
• Salat Subuh
• Kembali tidur pagi hari
Kondisi ini membuat tubuh sulit menentukan apakah waktu tersebut termasuk fase malam atau siang, sehingga kualitas istirahat bisa menurun.
Jika terjadi terus-menerus selama bulan puasa, gangguan ritme ini dapat memicu:
• Rasa lemas di siang hari
• Sulit fokus
• Metabolisme melambat
• Gangguan hormon lapar dan kenyang
Dalam jangka panjang, gangguan ini justru dapat berkontribusi pada kenaikan berat badan secara tidak langsung.
Insulin Tinggi di Pagi Hari: Energi Sedang “Full Tank”
Faktor lain yang jarang diketahui adalah kondisi hormon insulin setelah sahur.
Setelah makan, terutama makanan tinggi karbohidrat, kadar insulin meningkat untuk membantu sel menyerap gula dari darah sebagai energi.
Pada waktu Subuh, kadar insulin masih relatif tinggi, yang berarti tubuh sedang berada dalam kondisi siap beraktivitas.
Dengan kata lain, tubuh berada dalam mode “energi penuh”.
Jika langsung digunakan untuk aktivitas, energi tersebut bisa dimanfaatkan secara optimal.
Namun jika langsung tidur kembali, energi tersebut tidak terpakai secara maksimal.
Aktivitas Ringan Justru Lebih Dianjurkan
Alih-alih kembali tidur, kondisi tubuh setelah sahur sebenarnya ideal untuk aktivitas ringan hingga sedang.
Beberapa kegiatan yang disarankan antara lain:
• Berzikir dan ibadah
• Membaca Al-Qur’an atau buku
• Jalan santai
• Peregangan
• Latihan ringan seperti push-up atau pull-up
• Pekerjaan rumah tangga ringan
Aktivitas ini membantu tubuh memanfaatkan energi yang tersedia sekaligus menjaga ritme biologis tetap stabil.
Boleh Tidur, Tapi Ada Strateginya
Meski demikian, bukan berarti tidur setelah sahur sepenuhnya dilarang.
Bagi sebagian orang yang kurang tidur malam, istirahat tambahan tetap penting.
Namun, para ahli menyarankan:
• Tidur sebentar saja (power nap)
• Tidak terlalu lama hingga masuk fase tidur dalam
• Pastikan total tidur harian tetap cukup
• Hindari langsung rebahan setelah makan
Dengan cara ini, tubuh tetap mendapatkan manfaat istirahat tanpa mengacaukan ritme biologis.
Anggapan bahwa tidur setelah sahur langsung menyebabkan kegemukan ternyata tidak sepenuhnya benar.
Faktor utama kenaikan berat badan tetaplah kelebihan kalori dan kurangnya aktivitas fisik.
Namun, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan ritme sirkadian dan menurunkan kualitas metabolisme jika dilakukan terus-menerus.
Karena itu, memanfaatkan waktu pagi setelah sahur untuk aktivitas ringan dan ibadah dinilai sebagai pilihan yang lebih sehat sekaligus produktif selama bulan puasa. Jadi, bukan tidur setelah sahur yang bikin gemuk melainkan pola hidup secara keseluruhan.***