Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Bacaan Niat Puasa Qadha dan Hukum Bayar Utang Puasa setelah Nisfu Syaban, Simak Penjelasannya

Eka Rahmawati • Sabtu, 15 Februari 2025 | 06:32 WIB
Photo
Photo

RADAR BOGOR - Bolehkah melaksanakan puasa qadha setelah melewati Nisfu Syaban karena sudah dekat dengan Ramadhan? Hal ini kerap menjadi pertanyaan mengingat Nisfu Syaban telah lewat.

Bulan Ramadhan 2025 sebentar lagi, dan umat musim bersiap untuk melaksanakan ibadah puasa. 

Menilik kalender Hijriah yang dirilis Ditjen Binmas Kementerian Agama (Kemenag) RI, hari ini Sabtu (15/2/2025) bertepatan dengan 16 Syaban 1446 Hijriah. 

Setelah bulan Syaban berdasarkan kalender Islam akan memasuki bulan Ramadhan yang dijadwalkan 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025.

Meski demikian, penetapan awal Ramadhan masih menunggu keputusan pemerintah yang rencananya akan melakukan sidang isbat.

Jika tidak ada perubahan maka Ramadhan 2025 dimulai sekitar 14 hari lagi atau 2 minggu lagi.

Bagi kamu yang masih punya utang puasa dan ingin segera menunaikannya di bulan ini, apakah masih dilaksanakan setelah Nisfu Syaban? 

Dikutip dari NU Online, ada dua pandangan berbeda terkait hukum membayar utang puasa Ramadhan setelah nisfu syaban.

Sebagaimana disampaikan Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) Alhafiz Kurniawan dalam tulisannya di NU Online berjudul Hukum Qadha Puasa Setelah Lewat Nisfu Sya'ban.

Hukum pertama puasa Qadha setelah nisfu syaban haram. Larangan ini merujuk hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan berbunyi:

“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Bila hari memasuki pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa.”

Hukum kedua puasa Qadha setelah nisfu syaban haram adalah boleh. Ulama yang membolehkan berdasarkan hadits riwayat Ummu Salamah dan Ibnu Umar RA yang berbunyi: “Aku belum pernah melihat Rasulullah berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali puasa Sya’ban dan Ramadhan.”

Ibnu Umar RA menyatakan Rasulullah saw menyambung puasa Sya’ban dengan puasa Ramadhan.

Hadits ini ditakhrij oleh At-Thahawi dan keterangan tersebut terdapat di dalam Kitab Bidayatul Mujtahid fi Nihayatil Muqtashid halaman 287.

Akan tetapi, Alhafiz menyarankan untuk yang masih memiliki utang puasa sebaiknya dibayar sesegera mungkin meskipun setelah pertengahan bulan syaban atau nisfu syaban.

Di sisi lain alasan dilarang melaksanakan puasa setelah nisfu syaban karena pada hari itu dianggap hari syak atau ragu seab sebentar lagi bulan Ramadhan tiba. Dikhawatirkan orang yang puasa setelah nisfu syaban tidak sadar kalau ia sudah berada di bulan Ramadhan.

Meski ada larangan, ulama madzhab Syafi'i mengecualikan atau membolehkan bagi orang-orang-orang yang memang terbiasa mengerjakan puasa seperti Senin dan Kamis, puasa ayyamul bidh, puasa nadzar, puasa qadha, ataupun orang yang sudah terbiasa mengerjakan puasa dahar maka diperbolehkan.

Sebagian ulama lainnya tidak melarang puasa setelah nisfu syaban selama ia mengetahui kapan masuknya awal Ramadhan.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari mengatakan yang artinya: Mayoritas ulama membolehkan puasa sunnah setelah nisfu syaban dan mereka melemahkan hadits larangan puasa setelah nisfu Syaban. Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in mengatakan hadits tersebut munkar”. 

Pendapat ulama tersebut membolehkan berpuasa setelah nisfu syaban. Bagi yang akan melaksanakan atau membayar utang puasa berikut bacaan niat puasa qadha Ramadhan:

Bacaan Niat Puasa Qadha Ramadhan

Ilustrasi doa. Jelang Ramadhan, berikut hukum melaksanakan puasa qadha setelah nisfu syaban.
Ilustrasi doa. Jelang Ramadhan, berikut hukum melaksanakan puasa qadha setelah nisfu syaban.

 

 

 

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’I fardhi syahri Ramadhana lillahi ta‘ala dan artinya adalah aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah swt.

Editor : Eka Rahmawati
#puasa qadha #ramadhan #nisfu syaban