Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Masyaallah, Ada Tradisi Mengagumkan Menjelang Ramadhan

Lucky Lukman Nul Hakim • Sabtu, 1 Maret 2025 | 06:48 WIB
Asri Supatmiati, Penulis 25 Buku
Asri Supatmiati, Penulis 25 Buku

RADAR BOGOR - Tahukah kalian, di era Peradaban Islam, tepatnya di era Kekhalifahan Utsmaniyah, ada tradisi mengagumkan setiap menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

Keluarga Sultan biasanya akan berkumpul di istana, saling minta maaf dan diakhiri dengan makan-makan bersama.

Inilah yang menurut sejarawan Salman Iskandar di kajian Ngaji Shubuh, menjadi cikal bakal adanya tradisi makan-makan atau cucurak di tataran Sunda.

Demikian pula tradisi munggahan di tataran Jawa yang berarti naik ke derajat takwa.

Ya, Ramadhan adalah bulan menggembleng diri menuju derajat ibadah lebih Khusyuk agar menjadi pribadi bertakwa.

Karena itu, Ramadan disambut dengan gembira.

Tradisi bergembira menyambut Ramadan juga ditandai dengan pawai obor, diiringi tabuhan rebana.

Sementara di benteng-benteng yang tinggi, dibunyikannya dentuman meriam di seluruh wilayah Islam, di mana rakyat menyalakan lampu-lampu sehingga Ramadan benar-benar disambut semarak.

Di istana dan masjid-masjid, dibuka majelis-majelis ilmu sebagai persiapan menjalankan ibadah dengan benar.

Di sini, kitab-kitab karya ulama dan juga karya Khalifah dibacakan.

Misalnya karya Khalifah Al-Qadir Billah yang dibacakan di Istana Malik Al-Asyraf sejak bulan Rajab hingga Ramadan.

Tak hanya itu, yang paling mengagumkan adalah tingginya kepekaan sosial kaum aghnia atau orang-orang kaya pada zaman keemasan Islam.

Menjelang Ramadhan, mereka akan mengeluarkan hartanya untuk melunasi utang para gharimin atau orang yang tidak sanggup membayar utang.

Mereka akan mendatangi kerabat, tetangga atau kenalan yang punya utang, untuk dilunasi.

Jika kenalannya tidak ada dari kalangan gharimin, orang-orang kaya akan menuju pasar.

Bertanya pada para pedagang, apakah ada yang punya tanggungan utang. Jika ada, merekalah yang melunasi.

Hal itu dilakukan agar di bulan Ramadhan, tidak menjadi beban lagi dan siapapun bisa khusyuk beribadah.

Masyaallah, bisakah tradisi mengagumkan ini menular di tengah-tengah masyarakat muslim yang saat ini ditimpa berbagi kesulitan, termasuk terlilit utang? (*)

Oleh: Asri Supatmiati

Penulis 25 Buku

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#bogor #Asri Supatmiati #ramadhan