RADAR BOGOR - Sritex atau PT Sri Rejeki Isman resmi tutup pada Sabtu (1/3/2025) hari ini dan berikut sejarah serta perjalanan panjang perusahaan raksasa tekstil di Jawa Tengah tersebut.
Sritex Group tutup total per hari ini dan berimbas pada pemutusan hubungan kerja atau PHK massal terhadap lebih dari 10 ribu karyawan pada Jumat (28/2/2025).
Momen haru perpisahan Direktur Utama Sritex Iwan Kurniawan Lukminto dan ribuan karyawan viral di media sosial.
Sebagaimana diunggah di akun Instagram @sritexindonesia, sebagian besar karyawan menangis. Mereka saling berpelukan pada hari terakhir bekerja di pabrik yang berada di kawasan Sukoharjo, Jawa Tengah tersebut.
Sritex merupakan perusahaan tekstil yang sudah beroperasi sejak puluhan tahun. Berikut sejarah dan perjalanan panjang Sritex sebagaimana dikutip dari laman resmi Sriex.
Sejarah Sritex
Pabrik Sritex berlokasi di Jalan KH Samanhudi 88 Jetis, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Raksasa tekstil ini memperkerjakan lebih dari 10 ribu karyawan. Sritex telah berdiri selama 59 tahun.
Diawali pada tahun 1966, perusahaan ini didirikan oleh H.M Lukminto sebagai perusahaan perdagangan tradisional di Pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah. Lukminto telah meninggal dunia pada Februari 2014 di usianya ke-67 tahun. Ia memulai karier di bidang tekstil sejak berjualan di Pasar Kelewer.
Pada tahun 1968, Lukminto kemudian membuka pabrik cetak pertamanya yang menghasilkan kain putih dan berwarna di Solo.
Tahun 1978, Sritex terdaftar pada Kementrian Perdagangan sebagai perseroan terbatas dan pada berdirilah pabrik tenun pertama.
Sritex mengalami perkembangan pesat dan pada 1992, perusahaan tersebut memperluas pabrik dengan 4 lini produksi yakni pemintalan, penenunan, sentuhan akhir dan busana pada satu atap.
Bahkan tahun 1994 Sritex dipercaya sebagai produsen seragam militer untuk NATO dan Tentara Jerman.
Di tengah persaingan, Sritex terus tumbuh dan melewati berbagai tantangan termasuk saat terjadi krisis moneter pada 1998.
Bahkan pada 2001 perusahaan sukses melipatgandakan pertumbuhannya sampai 8 kali lipat dibanding pertama kali terintegrasi pada 1992.
Kemudian di tahun 2012 Sritex sukses menggandakan pertumbuhan dan kinerjanya dibanding pada 2008. Hingga pada 2013, PT Sri Rejeki Isman Tbk secara resmi terdaftar sahamnya (dengan kode ticker dan SRIL) di Bursa Efek Indonesia.
Seiring perjalanalannya Sritex terus mengalami perkembangan. Pada 2015 Sritex melakukan ekspansi hingga menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Pelopor dan Penyelenggara Penciptaan Investor Saham Terbesar Dalam Perusahaan.
Berbagai penghargaan telah diraih oleh Sritex di antaranya Intellectual Property Rights Award 2015 dalam kategori piala IP Enterprise dari WIPO (World Intellectual Property Organization dan Top Performing Listed Companies in Textile and Garment Sector dari Majalah Investor.
Pada 2016 perusahaan juga menerima penghargaan Best Performance Listed Companies dari Majalah Investor serta Best Enterprise Achievers sebagai Perusahaan Lokal Raksasa dari Obsession Media Group.
Masih di tahun 2016, Sritex mendapat penghargaan sebagai penerbit terbaik dalam kategori Ragam Industri pada Bisnis Indonesia Awards serta sukses menerbitkan obligasi global senilai 350 juta Dollar Amerika yang akan jatuh tempo pada tahun 2021 lalu.
Namun pada 2025 tepatnya Sabtu (1/3/2025) perusahaan resmi tutup dan para karyawan pun di-PHK massal.
Editor : Eka Rahmawati