RADAR BOGOR – Bagi kamu yang membutuhkan motivasi hidup berikut rangkuman kata bijak dari buku Tuesday With Morrie dari Mitch Albom.
Mitch Albom merupakan penulis dan jurnalis berkebangsaan Amerika Serikat. Ia terkenal dengan beberapa karyanya seperti the Little Liar, Finding Chika (a little girl, an earthquake, and the making of a Family), Have A Little faith, Fab Five dan lainnya.
Salah satu yang paling populer adalah buku inspiratifnya yang berjudul Tuesday With Morrie atau Selasa Bersama Morrie. Menceritakan pertemuan rutin antara Mitch Albom dengan guru sosiologinya bernama Morrie Schwartz.
Dalam bukunya Selasa bersama Morrie, berisi pengalaman dan kesan dari kisah hidup guru sang penulis yang kemudian dituangkan ke dalam buku ini. Ada banyak kata motivasi mengenai arti dan makna hidup yang patut untuk kita renungkan dan pelajari.
Berikut merupakan rangkuman kalimat bijak yang penulis rangkum dari buku “Selasa bersama Morrie”:
Hadiah terbesar yang dapat diberikan kepada seseorang adalah waktu. Karena saat kita memberikan waktu kepada orang lain, kita memberikan separuh hidup kita yang tidak bisa kembali.
Kematian itu mengakhiri kehidupan, bukan mengakhiri hubungan.
Selama kita bisa saling mencintai dan mengingat perasaan cinta yang kita miliki, kita bisa mati tanpa benar-benar pergi.
Tidak apa-apa untuk menangis.
Cinta adalah satu-satunya tindakan rasional.
Saling mencintai atau binasa.
Jangan melekat pada sesuatu karena semuanya tidak kekal.
Bukan hanya orang lain yang perlu kita maafkan, kita juga perlu memaafkan diri kita.
Tidak ada gunanya menyimpan dendam atau keras kepala.
Yang benar adalah saat kamu belajar cara mati, sesungguhnya kamu belajar cara hidup.
Aku terkadang menangis sepuasnya, kemudian aku fokus pada semua hal baik dalam hidupku.
Jika kamu mencoba sombong pada orang diatas kamu, lupakan saja. Mereka akan tetap memandang kamu rendah. Jika kamu sombong pada seseorang dibawah kamu, mereka hanya akan iri. Status tidak akan membawamu kemanapun. Hanya hati yang terbuka yang memungkinkan kamu untuk bergaul dengan siapapun yang setara.
Semua orang tahu mereka akan mati, tapi tak seorang pun percaya percaya mereka akan mati. Jika percaya, mereka akan melakukan hal-hal yang berbeda.
Orang hanya bersikap jahat ketika mereka diancam.
Tidak ada kata “terlambat” dalam hidup.
Sebagian dari diriku ada di setiap usia. Aku berusia tiga tahun, lima tahun, tiga puluh tujuh tahun, lima puluh tahun. Aku senang menjadi anak-anak. Aku senang menjadi orang tua yang bijak. Aku ada di setiap usia, sesuai dengan usiaku sendiri.
Saat ibu kita menggendong, meniduri, dan membelai kepala kita, tak seorang pun dari kita pernah merasa cukup. Kita semua mendambakan bisa kembali ke masa-masa kita diperhatikan dengan kasih sayang tanpa syarat. Sebagian besar dari kita tidak merasa cukup.
Ketika kamu telah menemukan makna hidup. Kamu tidak ingin kembali. Kamu ingin terus maju.
Yang aku takutkan hanyalah mengucapkan selamat tinggal.
Kita semua memiliki awal yang sama. Yaitu kelahiran. Dan memiliki akhir yang sama. Kematian. Jadi, seberapa berbeda kah kita?
Hal-hal kecil dan hal-hal besar yang kamu patuhi dan sukai harus kamu pilih sendiri. Kamu tidak bisa membiarkan siapapun atau masyarakat mana pun menentukannya untukmu.
Terimalah apa yang bisa dan tidak bisa kamu lakukan. Terima masa lalu sebagai masa lalu tanpa menyangkal atau mengabaikannya. Belajarlah memaafkan diri sendiri dan orang lain. Jangan pernah berasumsi bahwa sudah terlambat untuk terlibat.
Hal yang paling aku inginkan setelah aku pelajari adalah, seseorang yang menyadari kehadirannya.
Seringkali, kita salah mengartikan suatu kegagalan yang terjadi. Pun dengan keberhasilan yang mudah bisa jadi malah membentuk kita menjadi seorang yang mudah berpuas diri hingga menjadi diam ditempat. Tidak ada salahnya merenung, beristirahat sejenak kemudian berjalan pelan-pelan.***
Editor : Eka Rahmawati