RADAR BOGOR - Setiap tahun, menjelang Hari Raya Idul Fitri, umat Islam diramaikan dengan fenomena mudik, lalu bagaimana hukumnya terlebih mudik saat menjalani puasa?
Jutaan orang berbondong-bondong meninggalkan pusat kota menuju kampung halaman, sebuah perjalanan yang lebih dari sekadar perpindahan geografis.
Mudik merupakan ujian ketahanan fisik dan emosional, ketika kerinduan akan keluarga mendorong orang-orang untuk menempuh perjalanan panjang dan melelahkan.
Para pemudik rela berdesakan dan menghadapi kemacetan demi berkumpul dengan keluarga tercinta.
Baca Juga: Bikin Gak Pede, Simak Nih Tips Atasi Bau Mulut saat Berpuasa di Bulan Ramadhan
Perjalanan ini bukan hanya tentang menempuh jarak, tetapi juga tentang menahan lelah dan sabar dalam menghadapi kepadatan lalu lintas.
Di tengah perjalanan, muncul pertanyaan yang seringkali menghantui: apakah kondisi ini membolehkan membatalkan puasa?
Baca Juga: 5 Ide Jualan Selama Bulan Ramadhan yang Menjanjikan, Dijamin Bikin Cuan
Puasa menurut Al-Quran
Nah, puasa merupakan amalan yang wajib dilakukan bagi umat Islam.
Dalam Surat Al Baqarah ayat 183 berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْيٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ
yâ ayyuhalladzîna âmanû kutiba ‘alaikumush-shiyâmu kamâ kutiba ‘alalladzîna ming qablikum la‘allakum tattaqûn
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Dalil Puasa Ketika Sedang Musafir
Dalam buku Tuntunan Ibadah pada Bulan Ramadhan, menurut ajaran agama Islam ada kelonggaran bagi seseorang yang sedang dalam perjalanan jauh atau musafir.
Ketika sedang menjalani keadaan musafir terutama sedang mudik ke kampung halaman, puasa kerap kali dinilai sangat berat dan memberatkan.
Baca Juga: Profil Bejo Sugiantoro, Sang Legenda Persebaya Surabaya dan Pelatih Deltras yang Meninggal Dunia
Oleh karena itu, Islam memberikan kelonggaran untuk para musafir yang sedang dalam perjalanan untuk meninggalkan puasa.
Dalil yang menjadi pijakan mengenai kelonggaran musafir saat berpuasa apa pada surah Al-Baqarah ayat 184 yang menyebutkan:
اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍاُخَرَۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَخَيْرٌ لَّهٗۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
ayyâmam ma‘dûdât, fa mang kâna mingkum marîdlan au ‘alâ safarin fa ‘iddatum min ayyâmin ukhar, wa ‘alalladzîna yuthîqûnahû fidyatun tha‘âmu miskîn, fa man tathawwa‘a khairan fa huwa khairul lah, wa an tashûmû khairul lakum ing kuntum ta‘lamûn
Artinya:" “Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Namun, jangan lupa membayar qadha setelah puasa Ramadhan, ya.***
Editor : Eka Rahmawati