RADAR BOGOR - Tahukah kamu? Berdasarkan data dari WHO, sebanyak 720 ribu jiwa di seluruh dunia meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya, salah satu penyebab utama masalah kesehatan mental.
Kesehatan mental yang memicu hal tersebut terkadang adalah konflik dengan orang tua.
Tentu saja, masalah kesehtan mental ini bukan hal yang bisa dianggap sepele. Jika tidak diatasi sejak dini, dampaknya bisa berujung pada konsekuensi yang fatal.
Lalu, bagaimana sebenarnya toxic parents itu? Berikut penjelasannya:
Apa Itu Toxic Parents?
Dilansir dari Hello Sehat, toxic parents adalah orang tua yang memiliki pola asuh beracun dalam mendidik anak-anak mereka.
Beberapa ciri utama yang sering muncul di antaranya adalah:
1. Berlebihan dalam Membatasi dan Mengontrol Anak
Seringkali, orang tua menerapkan banyak batasan dengan dalih demi kebaikan anak.
Namun, mereka tidak memahami bagaimana cara mengasuh dengan benar dan proporsional.
Mereka kerap menganggap anak masih kecil dan belum mampu mengambil keputusan sendiri, sehingga tanpa disadari hak anak untuk memilih jalan hidupnya sering diabaikan.
Baca Juga: Rossa Ajak Peduli Lingkungan dan Kesehatan Mental, Siapkan Konser Here I Am, Catat Tanggal Mainnya!
2. Sering Menyalahkan Anak
Berdasarkan situs Cleveland Clinic dalam artikel berjudul "How to Tell if You Have a Toxic Parent", menyalahkan anak atas masalah yang bukan tanggung jawab mereka sama seperti konflik pernikahan dalam rumah tangga.
Misalnya, seorang anak bernama Andi mendapatkan nilai jelek di sekolah.
Alih-alih memberikan motivasi atau mencari tahu penyebabnya, orang tua malah langsung menyalahkan anak tanpa mempertimbangkan kendala yang dihadapinya.
Hal ini bisa membuat anak merasa minder, pesimis, dan terus-menerus merasa bersalah.
3. Mengabaikan Anak
Dalam beberapa situasi, ada juga orang tua yang acuh tak acuh terhadap anaknya.
Hal ini bisa membuat anak merasa diabaikan, tidak dihargai, dan kurang mendapatkan perhatian emosional.
Akibatnya, anak dapat mengalami kesepian, kehilangan rasa aman, dan berisiko mengalami gangguan dalam perkembangan sosial serta emosionalnya.
Tidak jarang pula, anak yang kurang mendapat perhatian akhirnya terjerumus dalam pergaulan bebas.
B. Solusi Mengatasinya
Sebagai seorang anak, tidak ada salahnya untuk mencari jalan keluar dari lingkungan yang tidak sehat.
Baca Juga: Jelang Pelantikan Kepala Daerah, Bupati Bogor Terpilih Rudy Susmanto Jalani Pemeriksaan Kesehatan
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
1. Mencari Dukungan
Ada pepatah yang mengatakan bahwa keterbukaan adalah awal dari pemulihan.
Jika kamu terus memendam perasaan negatif dalam diri, ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mental.
Oleh karena itu, cobalah mencari dukungan dari teman, saudara, atau psikolog yang bisa membantu mencari jalan keluar terbaik.
2. Menerapkan Batasan
Meskipun tidak mudah, menetapkan batasan dengan orang tua bisa menjadi salah satu cara terbaik untuk mengurangi dampak toxic parenting.
Biasanya, orang tua sulit menerima batasan ini karena merasa anak menjadi jauh atau kehilangan rasa hormat.
Padahal, batasan yang sehat justru membantu menjaga hubungan agar lebih seimbang dan minim konflik.
3. Fokus pada Diri Sendiri
Menjaga kesehatan mental dan menjalani hidup yang lebih baik adalah hal yang patut diperjuangkan.
Jangan sampai tekanan dari orang tua membuatmu kehilangan motivasi atau merasa tidak berharga.
Alih-alih terus memikirkan konflik yang ada, coba fokus pada impian dan tujuan yang ingin kamu capai.
C. Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental
Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jika kondisi mental tidak stabil, maka akan berdampak pada seluruh aspek kehidupan, termasuk kesehatan fisik.
Untungnya, saat ini banyak lembaga yang peduli terhadap kesehatan mental dan rutin mengadakan seminar di berbagai tempat, seperti sekolah dan perguruan tinggi.
Mengikuti acara seperti ini bisa memberikan insight berharga serta memperluas koneksi dengan para pakar psikologi.
Pemerintah Indonesia juga tidak tinggal diam dalam menangani masalah ini.
Salah satu program peduli terhadap kesehatan mental yang telah berjalan adalah Healing 119, yang memberikan dukungan psikologis bagi masyarakat kurang mampu secara finansial.
Dengan adanya layanan ini, diharapkan semakin banyak individu yang mendapatkan bantuan untuk menjaga kesehatan mental mereka.(*)
Editor : Halimatu Sadiah