Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Lakukan Pertemuan di Hong Kong International FILMART, Fadli Zon : Saatnya Indonesia Jadi Pemain Utama di Industri Film Global

Yosep Awaludin • Rabu, 19 Maret 2025 | 08:46 WIB
Fadli Zon saat melakukan pertemuan dengan para pemangku kepentingan perfilman dunia di Hong Kong International Film & TV Market (FILMART) 2025
Fadli Zon saat melakukan pertemuan dengan para pemangku kepentingan perfilman dunia di Hong Kong International Film & TV Market (FILMART) 2025

RADAR BOGOR—Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon melakukan sejumlah pertemuan strategis dengan para pemangku kepentingan perfilman dunia di Hong Kong International Film & TV Market (FILMART) 2025 dalam upaya memperluas jangkauan film Indonesia ke pasar global.

Menurut Fadli Zon, pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat jaringan distribusi film Indonesia, membangun skema produksi bersama lintas negara, dan memperkuat posisi Indonesia dalam aliansi industri film Asia di tengah perkembangan industri film global yang pesat.

Fadli Zon menekankan pentingnya film sebagai alat diplomasi budaya dan cermin identitas bangsa di panggung global dalam pertemuan dengan Asian Film Alliance Network (AFAN), Red Sea International Film Festival Arab Saudi, dan FINAS Malaysia.

Fadli Zon menyatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun kolaborasi yang lebih strategis dengan jaringan perfilman internasional, karena sebagai negara dengan ekosistem film yang semakin berkembang dan produksi film yang kian meningkat.

Fadli menekankan pentingnya membangun kolaborasi dalam industri film Asia saat berbicara dengan Asian Film Alliance Network (AFAN), jaringan film se-Asia yang dihadiri oleh perwakilan dari lembaga perfilman Korea Selatan, Filipina, Taiwan, Thailand, dan Malaysia.

Didirikan pada tahun 2023, AFAN adalah platform kolaboratif yang secara teratur berkumpul di festival film Cannes dan Busan untuk membahas program, kebijakan, dan masalah perfilman di wilayah tersebut.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa negara-negara Asia memiliki potensi besar, tetapi seringkali tidak bekerja sama.

"Dengan semakin ketatnya persaingan global, kita perlu memperkuat kolaborasi dalam produksi, distribusi, penguatan kapasitas, dan regulasi, agar film Asia dapat memiliki posisi lebih kuat di pasar dunia. Indonesia siap mendukung kolaborasi dan sinergi di kawasan, berkontribusi dalam mempercepat ekosistem film Asia agar lebih kompetitif di tingkat global," tuturnya.

Selain itu, diskusi menyoroti betapa pentingnya industri film Asia untuk meningkatkan daya saingnya terhadap distributor global dan mendapatkan lebih banyak ruang di berbagai festival dan penghargaan internasional.

Dengan demikian, beberapa negara anggota AFAN, seperti Korea dan Thailand, mengatakan mereka ingin bekerja sama dengan Indonesia lebih lanjut.

Sementara Korea melihat Indonesia sebagai salah satu pasar terbesar di Asia, Thailand telah mengalokasikan 6 juta USD untuk membantu negara-negara mitra membuat film.

Fadli menegaskan bahwa film adalah salah satu produk budaya paling penting. "Jika kita bisa bersatu sebagai satu blok industri film Asia, kita bisa mengembangkan industri ini lebih cepat dan lebih kuat. Indonesia siap berkontribusi untuk mempercepat ekosistem perfilman Asia," tuturnya.

Selain itu, perfilman Indonesia memiliki banyak peluang di seluruh dunia, termasuk di Timur Tengah. Fadli menekankan pentingnya hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi dalam industri perfilman saat berbicara dengan Holly Daniel, direktur Red Sea Souk.

Bagian dari Red Sea International Film Festival, Red Sea Souk telah berkembang pesat dalam lima tahun terakhir dan menjadi pusat perkembangan industri film di wilayah Timur Tengah.

Dari tahun 2025 hingga 2026, Souk Laut Merah akan menjadikan Asia sebagai pusat perhatian, memberikan peluang besar bagi film Indonesia untuk memasuki pasar Timur Tengah.

Sebagai negara dengan mayoritas Muslim, Fadli menekankan bahwa Indonesia memiliki banyak cerita kolektif yang bisa menarik perhatian Arab Saudi, yang saat ini semakin terbuka terhadap karya-karya dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Tren film horor yang tampaknya disukai oleh penonton Arab Saudi juga membuka pintu bagi sineas Indonesia, yang terkenal dengan produksi horor yang bagus.

"Di wilayah ini, kita memiliki banyak cerita yang dapat dibuat dan dibagikan. Apalagi, kita memiliki hubungan sejarah yang kuat dan bilateral dengan Arab Saudi. Kita harus memanfaatkan peluang ini," ujarnya.

Berbicara dengan Datuk Azmir Saifuddin, CEO Badan Pengembangan Film Nasional (FINAS) Malaysia, Fadli juga menyoroti pertumbuhan distribusi film Indonesia di Malaysia.

Selain itu, keduanya mencapai konsensus bahwa rencana produksi bersama akan menjadi pendekatan utama untuk meningkatkan industri film ASEAN. Menteri Kebudayaan juga menekankan pentingnya memprioritaskan film historis dan budaya Melayu.

"Generasi mendatang harus tetap mengenal sejarah dan budaya Melayu. Film adalah medium yang kuat untuk menjaga dan menghidupkan kembali warisan budaya ini, sekaligus mempererat hubungan kedua negara," tuturnya.

Dengan Hong Kong FILMART 2025, Indonesia akan memperkuat posisinya di industri film global dan menjadi mitra strategis untuk produksi dan distribusi film di Asia.

Menurut Fadli, kerja sama internasional harus terus diperluas untuk menjadikan Indonesia bukan hanya pasar film dunia tetapi juga pusat kreatif yang menghasilkan karya-karya berkualitas tinggi dan berdaya saing di seluruh dunia.

Baca Juga: Ide Menu Buka Puasa dan Sahur Hari Ini, Berikut Resep Tempe Gembus Bacem Sederhana yang Lezat dan Mudah Dibuat di Rumah

"Saatnya Indonesia menjadi bagian dari industri film global. Kami memiliki kisah, bakat, dan kemampuan produksi yang unggul dari negara lain. Indonesia bisa menjadi kekuatan perfilman Asia dan dunia dengan strategi yang tepat dan kerja sama yang solid," tutur Fadli Zon. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#fadli zon #Menteri Kebudayaan #hong kong