RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghadiri rapat bersama Kepala Daerah seluruh Jawa Barat di Purwakarta pada Jumat (21/3/2025) lalu.
Dedi sempat menyinggung soal pengawalan yang kerap dilakukan para pejabat dan kepala daerah.
Menurutnya, pengawalan menggunakan strobe harus melihat situasi.
Dedi mengatakan, jika jalanan tidak terlalu padat, tidak perlu ada pengawalan.
"Terus pengawalan, lihat situasi. Kalau jalanan kosong, jangan dikawal-kawal, siga deuk paeh (seperti mau mati saja)," ucapnya yang disambut dengan gelak tawa peserta rapat.
Dedi mengajak para kepala daerah melakukan perjalanan dengan santai, kecuali jika Waktu sempit.
"Kalau jalanan kosong, kita santai aja, nikmati. Lihat kanan-kiri. Terkecuali waktunya mepet," tambah mantan Bupati Purwakarta ini.
Hari Jumat (21/3/2025) lalu, ia menyampaikan, jadwal Gubernur Jawa Barat mencapai delapan agenda tapi tidak menggunakan pengawalan.
"Tapi saya hari ini jadwalnya delapan, engga ngiung-ngiung," lanjut Dedi.
Ia menjelaskan, dirinya tetap tepat waktu walau jadwal padat.
"Bisa tepat waktu bikin perencanaan yang baik," ujar Dedi.
Mantan anggota DPR menilai, jika kendaraan berkecapatan tinggi akan sulit berhenti.
"Kenapa? Ketika kecepatan mobil tinggi, Anda lihat di kanan Anda masalah, sulit berhenti," jelasnya.
Selain itu, Dedi menuturkan, suara sirine bisa menambah tingkat depresi.
"Yang kedua suara sirine yang bising mempengaruhi depresi Anda. Anda tidak rileks," bebernya.
Di kesempatan yang sama, Dedi juga meminta kepada Kepala Daerah se-Jawa Barat untuk tidak menjadi pejabat euweuh gawe.
"Awas, aya Bupati nu kitu di Jawa Barat," tandas Dedi Mulyadi.
Editor : Siti Dewi Yanti