RADAR BOGOR - Dalam pelaksanaan Shalat Ied di Lapangan Gasibu Bandung pada Senin (31/3/2025) lalu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan sambutan.
Dalam sambutannya, ia menyebutkan, hal-hal yang menjadi kegagalan seorang gubernur dan pemimpin.
"Maka kegagalan seorang gubernur adalah masih ada orang yang menjadi pengemis di perempatan jalan, masih ada anak-anak yatim yang tidak sekolah, masih ada orang-orang miskin yang rumahnya roboh," sebut Dedi Mulyadi sambil menahan nangis.
Ia menilai, penanganan banjir yang kurang baik dan masalah yang disebabkan bank keliling adalah kegagalan pemimpin.
"Ada orang yang kebanjiran tapi tidak tertangani dengan baik, masih ada orang yang bunuh diri karena terikat Bank Emok, Bank Keliling, Pinjol, itu adalah kegagalan seorang pemimpin," tambahnya.
Gubernur Jawa Barat mengajak semua penyelanggara pemerintahan untuk memiliki kesadaran.
"Untuk itu, pada kesempatan hari ini, saya mengajak seluruh penyelenggara negara di provinsi Jawa Barat, para bupati, walikota, kepala desa, kepala kelurahan, mari kita bersama-sama memiliki kesadaran," ajaknya.
Dedi menilai, keislaman tidak dinilai dari seringnya umroh yang dilaksanakan.
"Keisalaman kita bukan dinilai dari umroh yang dilaksanakan setiap tahun, keislamanan kita bukan dinilai dari gamis yang kita pakai. Keislaman kita bukan dinilai dari warna hitam putih peci yang dikenakan, dari sajadah yang kita hamparkan," sebutnya.
Menurut Dedi, keislaman seorang pemimpin dinilai dari senyum masyarakat.
"Keislaman seorang pemimpin dinilai berdasarkan dari senyum rakyat setiap waktu, sekolah tidak mesti ngantri, senyum rakyat setiap waktu makan tepat dan bergizi, senyum rakyat setiap waktu jalannya halus," tuturnya.
Gubernur Jawa Barat mengatakan, senyum rakyat akan hadir saat kebutuhan dan fasilitas pokok terpenuhi.
"Senyum rakyat dalam setiap waktu pupuk sangat mudah didapatkan, senyum rakyat setiap waktu saat sakit di rumah sakit negara tampil dan untuk mengobatinya, dokter dan paramedis tanpa membedakan kaya dan miskin datang dengan senyuman, senyum rakyat setiap waktu ketika seorang yang melahirkan penuh dengan kenyamanan, bayi yang lahir dilayani paramedis dengan senyuman," ujarnya.
Dedi menyampaikan, pemimpin dianggap hina jika masih ada jasad warga yang meninggal dan bayi yang baru lahir ditahan di rumah sakit.
"Maka adalah kehinaan bagi seorang pemimpin, apabila di Jawa Barat masih ada orang yang meninggal, mayatnya tidak bisa pulang ditahan rumah sakit karena tidak bisa bayar atau BPJS nunggak, bayinya ditahan di rumah sakit karena belum bisa bayar atau BPJS nunggak," ucapnya.
Dedi Mulyadi menyebutkan, masalah pendidikan dan negara abai terhadap kepentingan rakyat juga termasuk kehinaan pemimpin.
"Hingga anak-anak tidak sekolah, orang miskin makan hanya dengan garam, rumah roboh bocor sedangkan negara abai dalam penggunaan fasilitas untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan golongannya," pungkasnya.
Editor : Siti Dewi Yanti