RADAR BOGOR - Pendakian di Gunung Gede Pangrango saat ini ditutup sementara mulai hari ini 3 April 2025 sampai dengan 7 April 2025 lantaran adanya peningkatan gempa vulkanik.
Berikut fakta-fakta Gunung Gede Pangrango yang berada di tiga wilayah di Jawa Barat yakni Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur dirangkum dari berbagai sumber.
Berlokasi di Tiga Kabupaten di Jawa Barat
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) secara administrastif masuk dalam wilayah tiga kabupaten di Jawa Barat dengan total luas mencapai 24.270,80 Ha dengan ketinggian 2.962 meter
Melansir laman resmi Gunung Gede Pangrango, kawasan TNGGP dikenal sejak zaman dulu di dunia internasional dan terjadi ketika para peneliti botani Belanda datang di kawasan ini.
Gunung Gede Pangrango memiliki makna penting dalam sejarah konservasi dan penelitian botani sebab termasuk kawasan konservasi pertama di Indonesia ditetapkan sebagai Cagar Alam Cibodas, pada 1889 silam.
Curug atau Air Terjun di Kawasan Gunung Gede Pangrango
Selain menjadi tujuan para pendaki dengan keindahannya, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) juga kerap menjadi destinasi wisata karena memiliki sejumlah curug atau air terjun yang mempesona.
Seperti Curug Sawer yang berada di kawasan Situ Gunung, Kadudampit, Kabupaten Sukabumi. Lalu ada Curug Cikaracak yang berlokasi di Kampung Cibeling, Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.
Masih di Kabupaten Bogor terdapat Curug Cisadane yang lokasinya di Watesjaya, Kecamatan Cigombong. Sedangkan di Kabupaten Cianjur, air terjun yang berada di kawasan TNGGP yakni Curug Cibeureum di Cibodas.
Letusan di Gunung Gede
Melansir laman Wikipedia, Gunung Gede yang berada dalam kawasan Taman Nasional Gede Pangrango, pernah mengalami letusan pertama kali di tahun 1747. Selanjutnya terjadi letusan yang lebih kecil pada tahun 1761, 1780, dan 1832.
Gunung Gede kembali meletus pada 1840 dengan guncangan yang sangat hebat kala itu dan baru berhenti pada Maret 1841 serta letusan besar kembali terjadi di tahun 1853. Letusan berikutnya terjadi lagi pada 1957 dan cukup membahayakan masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Gede.
Editor : Eka Rahmawati