Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Bantu Proses Pencarian dan Pengobatan Korban Gempa di Myanmar, Indonesia Kirim Emergency Medical Team Hingga Logistik

Yosep Awaludin • Kamis, 3 April 2025 | 09:36 WIB
Pelepasan tim rescue dan tim medis untuk membantu dalam pencarian dan pengobatan korban gempa di Myanmar.
Pelepasan tim rescue dan tim medis untuk membantu dalam pencarian dan pengobatan korban gempa di Myanmar.

RADAR BOGOR—Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam upaya penanganan yang dilakukan Myanmar setelah Gempa Bumi M 7,7.

Indonesia tidak hanya mengirimkan bantuan logistik, tetapi juga mengirim tim rescue ke tim medis untuk membantu dalam pencarian dan pengobatan korban gempa di Myanmar.

Kantor berita Xinhua melaporkan bahwa hingga Rabu (2/4/2025), total korban gempa bumi di Myanmar mencapai 2.886 orang, 4.639 orang terluka, dan 373 orang masih dalam pencarian.

Pemerintah Indonesia akan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Myanmar pada Kamis, 3 April 2025, menurut Menteri Luar Negeri Sugiono.

Bantuan akan terus disiapkan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas bantuan hingga Rabu, 2 April 2025.

"Kita merespons apa yang disampaikan oleh Myanmar pasca-kejadian gempa, ini sedang kita proses persiapannya, dan rencananya besok bantuan (dikirim, re)," tuturnya di Jakarta, Rabu (2/4/2025).

Sugiono menyatakan bahwa bantuan telah dikirim sejak tanggal 30 Maret 2025. Dua perwakilan Indonesia dikirim ke Tim Respon dan Evaluasi Bencana ASEAN (ASEAN-ERAT) bersama anggota ASEAN lainnya.

Selain itu, Indonesia telah mengirimkan bantuan dalam bentuk Tim Pencarian dan Pertolongan Kota (USAR), yang berangkat ke Myanmar pada 1 April 2025.

Selanjutnya, ada bantuan EMT dan logistik peralatan senilai USD 1 juta yang akan dikirim pada Kamis (3/4/2025).

Presiden Prabowo Subianto melepas pengiriman tersebut secara langsung di Bandara Halim Perdana Kusuma.

Selain itu, Sugiono menyatakan rasa sedih dan simpati mendalam atas gempa bumi yang terjadi di Myanmar dan Thailand.

Menurutnya, sangat penting bagi negara-negara ASEAN untuk bekerja sama dengan baik dalam pemulihan, rekonstruksi, dan rehabilitasi kedua negara tersebut.

Bantuan yang diperlukan bukan yang instan mengingat luasnya wilayah yang terdampak. "Untuk memastikan pemulihan saudara-saudara kita di Myanmar dan Thailand, diperlukan koordinasi erat jangka panjang antar negara-negara ASEAN," ujarnya.

Sementara itu, Sugiono berterima kasih kepada Pusat Koordinasi Bantuan Kemanusiaan ASEAN tentang Manajemen Bencana karena telah mengirimkan bantuan kemanusiaan ke masyarakat yang membutuhkan dalam pertemuan darurat antar Menlu ASEAN yang diadakan secara online.

Ia berharap bantuan dari Indonesia dan negara-negara ASEAN dapat membantu orang-orang di Myanmar dan Thailand merasa lebih baik.

“Saya menyerukan agar kita dapat mengesampingkan perbedaan dan membantu satu sama lain, tanpa terkecuali,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut, para Menlu setuju untuk meningkatkan respons darurat melalui Perjanjian Persiapan Darurat ASEAN, pengerahan ASEAN -ERAT, dan sistem Logistik Bencana Darurat ASEAN (DELSA) untuk memastikan bantuan dikirim dengan cepat dan tepat sasaran.

Para Menlu juga berharap situasi menjadi kondusif sehingga bantuan kemanusiaan dapat dikirim. Untuk mencapai perdamaian jangka panjang di Myanmar, Termasyk mendorong upaya rekonsiliasi nasional.

Meskipun demikian, Letjen TNI Suharyanto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bersama dengan perwakilan dari berbagai kementerian dan lembaga, melepas Tim USAR.

Saat memimpin apel, kepala BNPB menyatakan bahwa bantuan ini adalah sesuatu yang dibutuhkan Myanmar dan bukti dukungan Indonesia kepada negara yang sedang dilanda bencana.

Suharyanto mengatakan bahwa mereka bergerak atas permintaan negara Myanmar. Pemerintah Myanmar meminta bantuan melalui Kemenlu dan kemudian berkoordinasi.

Satu hari setelah gempa, rapat tingkat menteri yang dipimpin oleh Menko PMK juga menyetujui pengiriman bantuan.

“Hari minggu meskipun suasananya masih lebaran, rapat ini langsung rakor di bawah pimpinan Menko PMK, memutuskan pengiriman bantuan kepada masyarakat terdampak di Myanmar,” tuturnya.

Pelepasan kali ini melibatkan 73 personel, termasuk perwakilan dari Kemenlu dan TNI, selain Tim USAR. Waktu bertugas selama dua minggu untuk saat ini, tetapi dapat diperpanjang jika diperlukan.

"Bantuan yang diberikan adalah yang terbesar, TNI mengerahkan kekuatan dan armada, Kemenkes menyiapkan 1 tim kesehatan lengkap dokter spesialis dan umum serta obat-obatan baik dari pemerintah atau swasta," kata Kepala BNPB.

"Bantuan ini paling tidak, bentuk dukungan Indonesia bisa berkontribusi kepada rakyat Myanmar," katanya.

Tujuan dari bantuan yang diberikan adalah untuk meringankan beban rakyat Myanmar yang terkena dampak gempabumi. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#indonesia #myanmar #gempa