Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kawasan Pantai Selatan Jawa Darurat Baywatch, Begini Bahayanya dan Harus Diwaspadai

Lucky Lukman Nul Hakim • Sabtu, 12 April 2025 | 07:07 WIB
Pantai Payangan paling banyak memakan korban jiwa.
Pantai Payangan paling banyak memakan korban jiwa.

RADAR BOGOR - Tak harus sekekar David Hasselhoff atau Dwayne ”The Rock” Johnson, tapi serentetan insiden maut memperlihatkan pantai-pantai selatan Jawa memerlukan baywatch atau penjaga pantai seterampil tokoh yang mereka mainkan.

Kalau belum bisa membentuknya, bisa tiru shock therapy ala Satpol Air Polres Jember dengan membawa kantong jenazah.

TAK terhitung berapa kali Kasatpolair Polres Jember, Jawa Timur, AKP Hari Pamuji beserta anak buah dan tim SAR Rimba Laut harus beradu mulut dengan pengunjung pantai.

Diperingatkan agar tidak mandi atau berenang, tapi dilawan.

”Kalaupun menurut, begitu kami berpindah lokasi, mereka kembali turun ke laut,” katanya kepada Jawa Pos.

Padahal, sebagaimana umumnya tubir Laut Selatan Jawa, pantai-pantai di Jember berombak tinggi dan kuat.

Gampang sekali menyeret mereka yang terlalu jauh meninggalkan garis pantai.

Dengan garis pantai yang panjang dan lebar, sebagian juga berpasir putih, pantai selatan Jawa memang menawarkan keindahan. Tapi, tawaran itu dibarengi ancaman ombak tinggi dan kuat.

Korban sudah banyak berjatuhan. Selasa (8/4) lalu, seorang ayah, Sundrik Yuliadi, meninggal terseret ombak setelah menyelamatkan anaknya, Rafa, yang juga terseret ombak di Pantai Paseban, Jember.

Dalam catatan Jawa Pos Radar Jember, Pantai Payangan yang paling banyak memakan korban.

Pada Desember tahun lalu, misalnya, seorang nelayan dan seorang pemancing tewas dihantam ombak.

Tak cuma Jember. Di sepanjang pantai Laut Selatan Jawa yang membentang 1.547 kilometer dari Banten hingga Jawa Timur, pada 2025 saja sudah sederet kejadian menonjol yang menelan korban jiwa.

Terbaru, Jumat (11/4) tiga santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Kabupaten Mojokerto, yang terseret ombak di Pantai Balekambang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, ditemukan meninggal.

Sehari sebelumnya, Basarnas menghentikan pencarian korban tenggelam di Pantai Parangtritis, Bantul, Jogjakarta.

Serentetan kejadian itu pun membunyikan alarm tentang krusialnya peran baywatch atau pengawas pantai di sepanjang Laut Jawa.

Tak harus sekekar David Hasselhoff atau Dwayne ”The Rock” Johnson dalam serial dan film Baywatch yang terkenal itu, yang penting bisa seterampil tokoh yang mereka perankan.

Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jatim Gatot Soebroto sependapat. Standar keamanan di objek wisata harus jelas.

Khusus untuk wisata alam, keberadaan tim keamanan dan tim pemantau cuaca amat penting.

”Keberadaan tim keamanan tidak hanya untuk pengawasan, namun juga mengingatkan pengunjung berhati-hati. Harus ada teguran langsung jika wisatawan melanggar aturan,” katanya.

Baywatch krusial karena di hampir semua pantai selatan Jawa, apalagi yang ramai jadi destinasi, rambu peringatan agar tidak mandi atau berenang menjauh dari pantai ada.

Tapi, nyaris selalu tak dianggap ada.

Dua pengunjung yang terseret ombak dan kemudian ditemukan tewas di Pantai Pangandaran, Jawa Barat, pada Selasa (1/4) dan Rabu (2/4) pekan lalu, misalnya, juga berasal dari peringatan yang tak diindahkan.

Begitu pula dengan tenggelamnya sejumlah siswa SMPN 7 Kota Mojokerto di Pantai Drini, Gunungkidul, Jogjakarta, Januari lalu.

Di Pantai Papuma, Jember, itu sudah dilakukan. Rambu peringatan dipasang di berbagai tempat, tapi penjaga pantai juga bersiaga.

”Ketika ada pengunjung yang mandi meskipun jelas ada tanda dilarang, petugas yang jaga langsung mendatangi sambil mengangkat bendera dan peluit,” kata Ponco, penanggung jawab Pantai Papuma.

Gatot membenarkan bahwa keberadaan tim penanggulangan bencana di dalam objek wisata sebenarnya wajib ada.

Baik itu objek wisata berskala nasional maupun lokal seperti wisata desa. Kenyataannya tidak semua mengikuti aturan tersebut.

Hingga kini, masih banyak objek wisata yang tak memiliki tim penanggulangan bencana.

Kalaupun ada, personelnya tidak dibekali skill yang mumpuni. ”Sewaktu terjadi bencana baru kebingungan.

Ini sebenarnya perlu dievaluasi,” kata Gatot.

Rip current adalah salah satu alasan kenapa baywatch atau penjaga pantai atau apa pun namanya sangat diperlukan.

Arus rip adalah arus laut yang kuat dan sempit yang bergerak menjauhi pantai.

Arus ini terbentuk ketika ombak yang pecah di dekat pantai menciptakan aliran balik air ke laut dengan kecepatan tinggi.

Rip current sering terjadi di pantai yang memiliki ombak besar dan dapat membahayakan perenang atau peselancar yang tidak menyadari keberadaannya. Faktor pembentuk arus rip lainnya adalah bentuk dasar laut dan angin kencang.

Ke semua faktor itu banyak dimiliki pantai di sisi selatan Jawa. Apa yang terjadi dengan kelima santri Amanatul Ummah di Pantai Balekambang juga dikaitkan dengan adanya palung.

Itu yang perlu disampaikan penjaga pantai tentang kenapa mandi atau berenang dilarang.

Tapi, kalaupun struktur resmi baywatch belum punya, pengelola dapat membentuk satuan relawan.

Semacam tim SAR Rimba Laut di Pantai Payangan, Jember, yang terdiri atas para nelayan yang tentu saja sudah akrab dengan laut dan lingkungan sekitar.

Jika itu juga belum dimungkinkan, kreativitas shock therapy untuk menyiasati keadaan yang harus diandalkan.

Di Pantai Paseban, Jember, sepanjang libur Idul Fitri lalu, juga pada Lebaran tahun sebelumnya, daripada harus terus beradu mulut dengan pengunjung membandel, petugas satpol air membawa kantong jenazah.

”Begitu lihat kantong jenazah itu, pengunjung yang mandi akan segera pergi dan naik dengan sendirinya,” kata Kasatpolair Polres Jember AKP Hari Pamuji. (*/c2/nur/ttg)

JUMAI, Jember-EKO HENDRI SAIFUL, Surabaya

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#pantai #jawa #Selatan