RADAR BOGOR – Belanja barang favorit memang bisa bikin hati senang. Tapi, di tengah gaya hidup konsumtif yang makin merajalela, kegiatan ini perlahan jadi ajang pamer status sosial.
Bukan cuma barang, keluarga pun kadang dijadikan tolok ukur kesuksesan. Akibatnya, muncul kebiasaan membanding-bandingkan yang sering bikin stres.
Berikut ini beberapa kebiasaan toxic yang masih sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
1. Pamer Kekayaan
Kebiasaan memamerkan harta benda seperti mobil, rumah, atau barang bermerek demi pengakuan sosial telah menjadi fenomena yang lumrah.
Bukan karena kebutuhan atau pencapaian, melainkan sekadar unjuk kemewahan.
Alih-alih menjalani hidup yang sederhana, gaya hidup mencolok ini justru digunakan sebagai alat untuk meningkatkan status sosial.
Menariknya, kebiasaan ini tidak hanya terjadi di kalangan selebritas, tetapi juga menjalar ke masyarakat umum.
Tak heran jika perilaku semacam ini kerap dianggap norak dan memicu persaingan yang tidak sehat.
2. Membanggakan Anak secara Berlebihan
Mengapresiasi prestasi anak tentu hal yang wajar.
Namun, ketika itu dilakukan secara berlebihan dan berubah menjadi ajang pembuktian sosial, dampaknya bisa negatif.
Tak jarang, orang tua yang memprioritaskan status sosial akan dengan bangga mengumbar pencapaian anak-anaknya, seperti gelar akademik, jabatan, atau penghasilan.
Ketika itu terjadi, secara tidak langsung akan memicu perbandingan sosial dan rasa iri antar sesama.
Padahal, setiap anak memiliki jalan dan pencapaian masing-masing yang tidak layak untuk dibanding-bandingkan.
3. Mengajukan Pertanyaan Pribadi yang Tidak Relevan
Pertanyaan seperti “Kapan menikah?”, “Kerja di mana?”, atau “Gaji berapa?” sering dilontarkan tanpa memperhatikan kenyamanan orang yang ditanya.
Meski terkadang dianggap basa-basi atau bentuk keakraban, kebiasaan ini bisa merugikan secara emosional.
Ada kalanya pertanyaan semacam ini muncul hanya karena rasa ingin tahu atau iseng semata.
Sayangnya, jika tidak disikapi dengan bijak, bisa berujung pada keretakan hubungan sosial maupun pribadi.
Kebiasaan-kebiasaan seperti ini sering dianggap wajar dalam budaya masyarakat kita.
Namun, jika tidak dibatasi, dampaknya bisa sangat merugikan, terutama dalam hal kesehatan mental.
Baca Juga: Penutupan Pendakian Gunung Gede Pangrango Diperpanjang, Ketua Rimba Beri Imbauan Ini
Menetapkan batasan, menyaring interaksi sosial, dan tetap teguh pada nilai-nilai pribadi menjadi kunci dalam menghadapi fenomena toxic seperti ini.
Kita memang tidak bisa mengendalikan sikap orang lain, tetapi kita bisa mengontrol bagaimana cara kita meresponsnya.***
Editor : Eli Kustiyawati