RADAR BOGOR - Menjelang peringatan Jumat Agung, umat Katolik di seluruh dunia bersiap merayakan Misa Kamis Putih, sebuah perayaan penting yang menjadi awal dari rangkaian Tri Hari Suci.
Kamis Putih, atau dalam tradisi internasional dikenal sebagai Maundy Thursday, merupakan momen sakral yang mengenang perjamuan terakhir Yesus bersama para murid-Nya.
Menurut informasi dari situs resmi Keuskupan Agung Jakarta, Kamis Putih menjadi simbol perutusan Yesus sebagai Guru, Nabi, sekaligus Mesias.
Dalam peristiwa ini, Yesus menunjukkan teladan kerendahan hati dengan membasuh kaki murid-murid-Nya—tindakan yang kala itu identik dengan peran seorang hamba.
Pembasuhan kaki menjadi lambang pelayanan, kasih, dan pengampunan kepada sesama, tanpa memandang status atau golongan.
Nilai-nilai ini kemudian menjadi dasar penting dalam kehidupan umat Kristiani hingga kini.
Secara historis, perayaan Kamis Putih telah diakui sejak abad ke-4 oleh Konsili Hippo pada tahun 393 sebagai bagian dari rangkaian Tri Hari Suci, yang memuncak pada peristiwa kebangkitan Yesus.
Kamis Putih menandai malam terakhir sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan, serta menjadi malam penting dalam tradisi gereja.
Rangkaian Paskah dalam Gereja Katolik tidak terbatas pada satu hari saja, melainkan dimulai sejak Rabu Abu, dilanjutkan dengan Minggu Sewa, Minggu Sengsara, Minggu Palma, hingga memasuki Pekan Suci yang mencakup Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Hening, dan puncaknya di Minggu Paskah.
Perayaan terus berlanjut hingga Hari Kenaikan dan Pentakosta.
Dalam praktiknya, Misa Kamis Putih dikenal sebagai perayaan ekaristi yang menekankan pada makna Perjamuan Kudus.
Pada misa malam hari, pastur akan membasuh kaki sebagian jemaat sebagai simbol pelayanan, mengikuti jejak yang telah diteladankan oleh Yesus.
Misa Kamis Putih umumnya terdiri dari beberapa bagian utama, yakni:
- Ibadat Sabda
- Pembasuhan Kaki
- Perayaan Ekaristi
- Pemindahan Sakramen Mahakudus
Dengan nuansa yang khidmat dan penuh makna, Kamis Putih mengajak umat untuk merenungkan kembali kasih dan pengorbanan Yesus, serta meneladani semangat melayani dalam kehidupan sehari-hari.***
Editor : Eli Kustiyawati