RADAR BOGOR – Setiap tanggal 18 April, kita mengenang peristiwa monumental yang menggema dari Kota Bandung, Jawa Barat.
Pada hari itu, 70 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1955, Konferensi Asia Afrika pertama kali digelar, menyatukan negara-negara dari dua benua yang dipenuhi semangat kemerdekaan dan perjuangan.
Konferensi Asia Afrika ini bukan hanya sekadar pertemuan politik, tetapi juga simbol dari solidaritas, persatuan, dan tekad untuk mengakhiri kolonialisme serta memajukan perdamaian dunia.
Dalam sejarahnya, Konferensi Asia Afrika yang berlangsung dari 18 hingga 24 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung, dihadiri oleh 29 negara dari Asia dan Afrika, dengan Indonesia sebagai tuan rumah.
Negara-negara tersebut datang dengan semangat untuk memperjuangkan kemerdekaan dan martabat bangsa-bangsa yang selama berabad-abad terjajah.
Selain itu, konferensi ini juga merupakan upaya untuk menciptakan hubungan yang lebih adil dan damai di dunia internasional.
Konferensi Asia Afrika memunculkan berbagai inisiatif penting, yang salah satunya adalah tercapainya Dasasila Bandung.
Sepuluh prinsip dasar yang disepakati di dalamnya menggarisbawahi komitmen negara-negara peserta terhadap penghormatan hak asasi manusia, kedaulatan negara, non-intervensi, serta penyelesaian sengketa secara damai.
Semangat untuk membangun dunia yang bebas dari penjajahan dan penuh dengan persatuan ini terus menginspirasi negara-negara di seluruh dunia hingga hari ini.
Peringatan Hari Konferensi Asia Afrika yang jatuh pada tanggal 18 April bukan hanya menjadi kesempatan untuk mengenang sejarah, tetapi juga untuk mengingatkan dunia akan pentingnya kerja sama antarbangsa dalam menciptakan perdamaian.
Di tengah tantangan global saat ini, semangat persatuan dan solidaritas yang digagas pada tahun 1955 tetap relevan, dengan harapan agar nilai-nilai tersebut terus mengalir dalam setiap langkah kita menuju masa depan yang lebih baik.
Selamat Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika 18-25 April 1955! Sebuah hari yang mengingatkan kita akan pentingnya perjuangan, persatuan, dan perdamaian dunia.
Dari Bandung, suara kemerdekaan terus menggema, merangkai jembatan solidaritas antara Asia dan Afrika yang tak akan pernah pudar.***
Editor : Eli Kustiyawati