RADAR BOGOR – Gawai kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, bahkan bagi anak-anak usia dini.
Meski teknologi menawarkan berbagai kemudahan dan hiburan, penggunaan gawai oleh anak-anak bukan tanpa risiko.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat bahwa 39,71 persen anak usia dini telah menggunakan ponsel, dan 35,57 persen di antaranya aktif mengakses internet.
Di balik kemudahan itu, tersimpan ancaman tersembunyi yang patut diwaspadai.
Tak hanya ponsel, berbagai perangkat seperti televisi, video game, hingga komputer game menjadi media yang menyita perhatian anak-anak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan pedoman batas screen time, bahkan melarang total paparan layar untuk anak usia di bawah 1 tahun dan membatasi hanya 1 jam untuk anak usia 1–4 tahun.
Pasalnya, penggunaan gawai yang berlebihan dapat menimbulkan dampak serius terhadap perkembangan anak.
Menurut data dari Fakultas Psikologi UGM, screen time yang tak terkontrol dapat menyebabkan hambatan dalam perkembangan bicara, bahasa, dan regulasi emosi akibat lonjakan dopamin yang memengaruhi kerja otak.
Selain itu, anak juga rentan terpapar konten yang tidak sesuai usia, yang bisa memengaruhi karakter dan perilaku.
Tak jarang, anak menjadi lebih pasif, sulit fokus, hingga mengalami gangguan tidur karena paparan layar yang terlalu lama.
Namun, di sisi lain, penggunaan gawai secara bijak juga dapat mendatangkan manfaat.
Anak bisa lebih cepat menyerap informasi, mengembangkan kemampuan kognitif, serta belajar menyesuaikan diri dengan dunia yang terus berubah.
Kuncinya adalah pengawasan dan pendampingan yang konsisten dari orang tua.
Sebagai langkah nyata, pemerintah melalui Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan Peraturan Presiden (PP) TUNAS yang bertujuan melindungi anak-anak di ruang digital.
PP ini akan bekerja sama dengan platform digital untuk memperketat keamanan, meningkatkan literasi digital keluarga, serta menindak pelanggaran yang mengancam anak-anak.
Orang tua juga memiliki peran penting.
Mengatur waktu layar, melengkapi perangkat dengan fitur keamanan, menjaga data pribadi anak, serta meluangkan waktu untuk aktivitas fisik di luar ruangan adalah langkah sederhana yang dapat membuat perbedaan besar.
Karena di balik layar yang kecil, tersembunyi pengaruh yang besar bagi masa depan anak.
Maka, sudah saatnya kita berhenti menganggap gawai sebagai mainan, dan mulai mengelolanya sebagai alat bantu bukan pengganti dalam proses tumbuh kembang anak.***
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim