Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Jam 6 Teng Dua Pemimpin

Lucky Lukman Nul Hakim • Sabtu, 26 April 2025 | 08:02 WIB
Edhy Aruman.
Edhy Aruman.

RADAR BOGOR - Di dunia kepemimpinan bisnis, ada dua jalan yang terbentang.

Satu yang sunyi dan penuh refleksi, satu lagi yang gemerlap namun rapuh.

Darwin Smith dan Albert Dunlap adalah dua wajah dari pilihan itu, dua kisah yang bertolak belakang dalam satu bab yang sama tentang kekuasaan dan kehendak manusia.

Darwin Smith tampak jauh dari sosok pemimpin ideal dalam imajinasi kebanyakan orang.

Ia tidak karismatik, tidak berapi-api, bahkan sering kali diremehkan.

Namun dalam keheningan langkahnya, tersembunyi keyakinan yang kokoh: seorang pemimpin besar bukanlah sosok yang merasa sudah selesai menjadi dirinya, melainkan seseorang yang tak pernah berhenti bertumbuh.

Smith tidak mendekati tugasnya sebagai seorang CEO dengan rasa puas diri. Seperti ditulis Carol Dweck dalam Mindset: The new psychology of success (Random House, 2019), setiap hari, Smith selalu bertanya dalam diam, "Sudahkah aku pantas memegang tanggung jawab ini?".

Keberaniannya tercermin dalam keputusannya menjual unit bisnis kertas Kimberly-Clark—pondasi tradisional perusahaan—untuk beralih ke produk konsumen seperti tisu Kleenex dan Huggies.

Langkah itu dipandang radikal, bahkan bodoh, oleh banyak orang.

Namun Smith tidak memimpin untuk mencari tepuk tangan sesaat. Ia berfokus pada apa yang benar untuk jangka panjang, meskipun itu berarti harus menghadapi kritik, kesendirian, dan ketidakpastian.

Ketangguhan mental semacam ini hanya mungkin lahir dari sebuah _growth mindse_t yang sejati — keyakinan bahwa kesuksesan bukan soal mempertahankan status, melainkan tentang membentuk masa depan melalui kerja keras dan pembelajaran terus-menerus.

Berbeda jauh, Albert Dunlap berjalan di jalur lain—sebuah jalan cepat yang diterangi sorotan media dan pujian palsu. Dikenal sebagai "Chainsaw Al", Dunlap dipuja karena kemampuannya memangkas biaya dan mempercepat lonjakan saham.

Namun semua prestasinya berakar pada kebutuhan obsesif untuk memvalidasi nilai dirinya.

Dalam pikirannya, setiap aksi adalah ajang pembuktian bahwa ia istimewa, bahwa keunggulannya tidak boleh diragukan.

Dengan fixed mindset yang mengakar dalam, Dunlap mengabaikan tanda-tanda kehancuran yang perlahan menggerogoti struktur perusahaan.

Kritik tidak diterima, umpan balik diabaikan, perubahan jangka panjang dihindari. Yang diutamakan hanyalah pencitraan instan: hasil cepat untuk menaikkan harga saham, tanpa membangun kekuatan internal perusahaan.

Ketika fondasi rapuh yang dibangunnya runtuh, Sunbeam hancur bersamanya.
Dunlap membuktikan satu hal penting—bahwa ketakutan untuk gagal dan obsesi terhadap pembuktian diri bukan hanya melemahkan pemimpin, tetapi juga menghancurkan segala sesuatu yang dipimpinnya.

Darwin Smith dan Albert Dunlap. Dua pemimpin, dua pilihan nasib.

Satu menunjukkan bahwa kekuatan sejati terletak pada keberanian untuk terus bertumbuh, untuk merangkul kelemahan sebagai titik awal pembelajaran.

Yang lain membuktikan bahwa kebutuhan obsesif untuk terlihat sempurna adalah racun yang perlahan membunuh potensi terbesar.

Dalam setiap perjalanan kepemimpinan, pilihan itu selalu hadir, dalam keheningan keputusan sehari-hari: membangun dengan sabar di atas pertumbuhan atau menghancurkan dalam ambisi kosong. (Edhy Aruman – Rempoa, 26 April 2025)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#bogor #Albert Dunlap #Darwin Smith #Edhy Aruman