RADAR BOGOR—Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengadakan jamuan untuk delegasi Konferensi ke-19 Parlemen Negara-Negara Islam (OKI) atau Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC) di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.
Acara ini merupakan permulaan dari konferensi PUIC yang akan diadakan di Jakarta pada 12-15 Mei 2025.
Konferensi ini bertujuan untuk menunjukkan wajah Islam di Indonesia melalui kekayaan seni dan warisan budayanya.
Kementerian Kebudayaan menampilkan ragam kekayaan budaya Indonesia di hadapan Ketua DPR, Puan Maharani, para Ketua dan Anggota Parlemen negara-negara OKI, serta duta besar dan tamu kehormatan dari berbagai negara.
"Saya sangat tersentuh melihat banyak wajah-wajah yang tak asing, rekan seperjuangan saya selama bertahun-tahun di parlemen dan dalam kerja sama antar parlemen, termasuk di PUIC," kata Fadli Zon dalam sambutannya.
Karena pengalamannya sebagai Wakil Ketua DPR RI (2014-2019), serta Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen DPRI RI (2019-2024), Fadli Zon dikenal aktif dalam memperkuat diplomasi parlemen Indonesia, termasuk mendukung prinsip keadilan dan kemerdekaan Palestina di konferensi internasional.
Kebudayaan juga penting, menurut Fadli Zon, sebagai kekuatan lunak (soft power) untuk mendorong perubahan ekonomi, memperkuat institusi yang tangguh, dan membangun jembatan perdamaian.
Selain menyimpan warisan masa lalu, budaya juga membentuk tata kelola yang adil untuk masa depan.
Dia menyatakan bahwa pilar institusi yang kuat terdiri dari prinsip-prinsip seperti Bhinneka Tunggal Ika, musyawarah, dan gotong royong.
Selain itu, penyair terkenal Indonesia Taufiq Ismail membacakan puisi berjudul "Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu?".
Sementara, Ricky Kurniawan Lc, anggota DPRD Jawa Barat, membacakan puisi itu dalam bahasa Arab.
Penampilan ini merupakan bagian dari ekspresi solidaritas budaya Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina. Ini juga menggambarkan komitmen Indonesia untuk menuntut keadilan melalui seni dan sastra.
Puan Maharani, Ketua DPR RI, menyampaikan pesan tentang betapa pentingnya parlemen negara-negara OKI bekerja sama untuk menciptakan masa depan yang lebih adil dan damai.
"Parlemen memiliki peran strategis dalam menjaga perdamaian dunia, memperjuangkan keadilan, dan mendukung Palestina," tutur Puan Maharani.
Selain itu, sebagai bagian dari komitmen mereka untuk mewujudkan tatanan dunia yang berkeadaban, negara-negara anggota PUIC diminta untuk memperkuat kerja sama lintas sektor.
Dalam pidatonya, Fadli Zon juga menekankan betapa pentingnya kerja sama budaya lintas negara OKI untuk memperkuat cerita perdamaian dan keadilan.
Dia menyatakan bahwa Indonesia terus memperjuangkan solidaritas, kemanusiaan, dan kolaborasi budaya lintas bangsa sebagai anggota pendiri OKI sejak 1969.
Selain itu, ia meminta dukungan penuh untuk kemerdekaan Palestina dan penghentian konflik di Gaza, mengutip Pembukaan Konstitusi 1945, yang menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak setiap negara.
Indonesia dikenal sebagai negara mega-diversity yang kaya akan warisan budaya karena memiliki 1.340 kelompok etnis dan 718 bahasa daerah.
Hingga akhir 2024, Indonesia telah mengakui lebih dari 2.200 warisan budaya takbenda. Beberapa di antaranya telah didaftarkan sebagai warisan budaya UNESCO, seperti batik, angklung, pencak silat, jamu, dan reog ponorogo.
Dalam kesempatan itu, Fadli Zon mengumumkan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah World Culture Forum 2025 di Bali pada bulan Oktober mendatang dengan tema "Culture for the Future."
Forum ini akan menjadi wadah strategis yang akan mendorong kerja sama internasional untuk pelestarian warisan, penguatan ekonomi budaya berkelanjutan, dan pemajuan kebudayaan.
“Kami ingin menghadirkan gelombang kebudayaan Indonesia—the Indonesian Wave—ke panggung dunia melalui World Culture Forum. Inilah saatnya kita menyatukan nilai-nilai kearifan lokal dengan inovasi global,” kata Fadli Zon.
Acara ditutup dengan pertunjukan seni budaya Indonesia, yang menampilkan wajah damai dan keberagaman Nusantara.
Melalui diplomasi budaya, Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai negara yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara budaya di tengah arus tantangan global. (***)
Editor : Yosep Awaludin