RADAR BOGOR – Hari Raya Waisak jelas jadi momen sakral dalam tradisi umat Buddha.
Sudah jadi hal umum kalau perayaan Hari Raya Waisak ini dipusatkan di Candi Borobudur, tempat suci yang jadi tujuan utama para biksu buat melakukan ritual-ritual penting seperti meditasi.
Bahkan, nggak sedikit biksu dari luar negeri yang rela jalan kaki ribuan kilometer demi ikut merayakan Hari Raya Waisak.
Lalu, apa saja sih yang bikin perayaan Hari Raya Waisak di Borobudur ini beda dari yang lain?
Yuk, simak 7 fakta uniknya yang dirangkum dari situs resmi Kementerian Pariwisata:
1. Udah Eksis dari Tahun 1929, Lho!
Sejak zaman kerajaan bercorak Hindu-Buddha, ajaran Buddha udah menyebar luas di Nusantara.
Nah, ternyata perayaan Waisak di Candi Borobudur pertama kali digagas sama Himpunan Teosofi Hindia Belanda, guys!
Sayangnya, sempat vakum karena perang kemerdekaan.
Tapi tenang, perayaan ini bangkit lagi pada tahun 1953 dan terus berlangsung hingga sekarang sebagai bentuk penghormatan terhadap Siddhartha Gautama.
2. Resmi Jadi Tanggal Merah Sejak 1983
Yes, Hari Raya Waisak bukan cuma perayaan keagamaan, tapi juga diakui secara resmi oleh negara!
Tepatnya lewat Keputusan Presiden RI No. 3 Tahun 1983 yang diteken Presiden Soeharto.
Ini jadi bukti nyata kalau Indonesia menjunjung tinggi kebebasan beragama, sesuai sama nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 Pasal 29 Ayat 2. Jadi, makin terasa kan maknanya?
3. Dirayain Bareng Umat Buddha dari Seluruh Dunia
Nggak cuma dari Indonesia, umat Buddha dari berbagai negara seperti Thailand, Myanmar, Malaysia, dan Singapura juga datang ke Candi Borobudur.
Popularitasnya sebagai situs warisan dunia UNESCO bikin Borobudur jadi magnet tersendiri.
Dampaknya? Hotel dan penginapan di sekitar Borobudur pun kebanjiran tamu.
Perayaan ini bukan cuma sakral, tapi juga ngasih efek positif ke ekonomi lokal.
4. Dimulai dengan Ambil Api Dharma dan Air Suci dari Tempat Sakral
Rangkaian Waisak dimulai dari ritual pengambilan Api Dharma di Mrapen dan Air Suci di Umbul Jumprit.
Dalam kepercayaan umat Buddha, Api Dharma melambangkan semangat berbuat baik, sementara Air Suci menggambarkan kejernihan dan kemurnian hati.
Kedua elemen ini lalu dibawa ke Borobudur dan jadi bagian penting dalam prosesi Waisak.
5. Puluhan Biksu Jalan Kaki Ribuan Kilometer dari Thailand ke Borobudur
Ini salah satu momen yang bikin kagum: ritual Thudong. Para biksu dari Thailand rela berjalan kaki sejauh 2.500 km menuju Candi Borobudur.
Mereka hanya membawa perlengkapan seadanya—jubah, buah, dan tenda.
Perjalanan panjang ini adalah bentuk latihan spiritual untuk mengamalkan ajaran dharma secara maksimal. Nggak main-main, lho!
6. Detik-Detik Waisak Cuma Ada di Indonesia!
Uniknya lagi, Indonesia punya perhitungan detik-detik Waisak sendiri berdasarkan fase bulan, mirip tradisi purnama di Bali.
Contohnya, Waisak 2568 BE di tahun 2024 jatuh pada 23 Mei pukul 20.52.42 WIB.
Akurasi waktunya luar biasa! Ini jadi bukti kalau budaya kita kaya banget dan penuh makna simbolik yang nggak dimiliki negara lain.
7. Puncaknya? Festival Lampion yang Bikin Langit Makin Aesthetic
Terakhir, momen yang paling ditunggu-tunggu: festival lampion! Sebelum diterbangkan, peserta meditasi dulu sambil menuliskan doa dan harapan yang bakal ditempel di lampion.
Begitu dilepas bareng-bareng ke langit malam, suasananya magis banget.
Selain cantik secara visual, ritual ini juga punya makna dalam—jadi pengingat bahwa umat Buddha diajak untuk jadi terang bagi dunia.
Hari Raya Waisak di Candi Borobudur udah lebih dari sekadar perayaan agama—ini jadi momen budaya, spiritual, dan pariwisata yang menyatu.
Dari ritual suci sampai festival meriah, semuanya menyimpan nilai-nilai luhur yang layak dilestarikan.
Sebuah warisan yang nggak hanya bikin kita bangga sebagai bangsa, tapi juga layak diwariskan ke generasi selanjutnya.***
Editor : Eli Kustiyawati