RADAR BOGOR – Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah, salah satunya dengan berpuasa sunah di bulan Dzulhijjah.
Dalam sebuah ceramah yang diunggah di kanal Fodamara Media Channel, Ustadz Abdul Somad—yang sering dikenal sebagai UAS—menjelaskan secara rinci tentang keutamaan puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah yang dikenal sebagai Hari Arafah menjelang Idul Adha.
“Di antara hari-hari yang boleh dipakai untuk puasa di bulan Dzulhijjah, yang paling afdal itu tanggal 9. Apa keutamaannya? Hadis riwayat Muslim mengatakan: yukaffirus-sanatal lati qablahu wa sanatal lati ba’dahu, artinya menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang,” ujar UAS dalam ceramahnya.
Puasa Arafah dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.
Bagi jemaah haji, hari tersebut adalah waktu berkumpul di Padang Arafah, dan berpuasa justru dimakruhkan agar mereka memiliki tenaga.
Lebih lanjut, UAS menjelaskan bahwa puasa di bulan Dzulhijjah boleh dilakukan selama 26 hari karena ada empat hari yang diharamkan, yaitu tanggal 10 (Hari Nahar/Idul Adha) serta tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik).
“Kalau ada orang mau puasa di bulan haram, bulan Dzulhijjah, boleh satu bulan penuh, kecuali empat hari itu,” katanya.
Bulan Dzulhijjah termasuk dalam empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam, bersama bulan Zulkaidah, Muharam, dan Rajab.
Dalam bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah sebagai bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah.
Dengan keutamaan besar yang dijanjikan, puasa Arafah menjadi momentum spiritual penting untuk menyucikan jiwa dan menyambut Idul Adha dengan ketakwaan yang lebih mendalam.***
Editor : Eli Kustiyawati