RADAR BOGOR - Di tengah hiruk pikuk segala perkembangan jaman masih ada sebagian kalangan yang masih bertanya, apa masih diperlukan Pancasila? Apa manfaat Pancasila? Dan seperti apa keberadaan Pancasila di kalangan remaja dan pemuda saat ini?
Tentu pertanyaan besar itu bisa dijawab jika dibiasakan mendengar, melihat dan selalu diberi contoh, tidak sekedar hanya 2 jam pelajaran di sekolahnya, seperti apa gotong- royong, seperti apa berempati, seperti apa hidup harmoni, seperti apa jika kita tidak saling toleransi, seperti apa jika tidak ada keadilan sosial serta seperti apa jika kita hidup bersama dengan kepercayaan, suku, agama dan budaya yang berbeda jika tidak ada saling mengerti dan disharmoni?
Jawaban itu tentunya harus masuk dalam rasa dan pemikiran yang mendalam bukan sadar setelah peristiwa-peristiwa terjadi dan memakan banyak korban jiwa, harta dan dendam membara.
Pancasila harus jadi Budaya.
Pancasila tidak bisa hanya dijadikan pelajaran dan dibaca setiap hari senin saat upacara bendera tetapi bagaimana Pancasila harus menjadi Budaya seperti Pancasila saat lahir digali dari Budaya bangsa Indonesia.
Jika kita merasa terlahir di bumi pertiwi ini, jika kita merasa hidup di Negara Indah di antara dua samudra dan dua benua tentu Wawasan Nusantara melekat pekat dalam jiwa raga dan sanubari kita.
Pelajaran Wawasan Nusantara, UUD 45 dan Pancasila serta Kewiraan rasanya sangat sulit dipelajari, terbukti nilai ulangan dari pelajaran tersebut rata-rata masih belum memuasakan, rasanya tidak mudah dicerna jika hal tersebut tidak menjadi bagian kehidupan, bagian perjalanan tapak demi tapak menempuh perjalanan dan telah menjadi Budaya.
Pak Menteri perlu mengkaji dan merubah kurikulumnya bukan sekedar pelajaran tapi materi-materi permainan yang membangun kebersamaan,membangun toleransi dan saling bekerjasama. Jika ada kasus-kasus di bahas bersama dalam kelompok rasanya sangat bagus dibandingkan ujian atau mengerjakan ulangan yang individual.
Baris berbaris, tari kolosal, permainan kelompok yang diajarkan leluhur kita juga sangat bagus di adobsi. Bagaimana seseorang terikat membutuhkan orang lain dan akhirnya bisa bersama-sama, bergotong-royong dan lain-lain.
Apakah Pancasila dan Budaya saling terkait dan melengkapi dalam menciptakan harmoni antar sesama?
Jika memang Pancasila adalah hasil penggalian nilai-nilai luhur bangsa, tentu Pancasila dan budaya saling mendukung dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan sejahtera. Pancasila, sebagai dasar negara, memberikan landasan nilai untuk membangun persatuan dan kesatuan bangsa, sementara budaya, sebagai cerminan kehidupan masyarakat warisan leluhur Nusantara, membantu mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai Landasan Nilai, Pancasila, dengan kelima sila-nya, berisi nilai-nilai luhur yang harus dipegang teguh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti makna Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dan Persatuan Indonesia, menggambarkan bahwa leluhur kita masa lalu saling membantu dan selalu menjaga persatuan.
Budaya Indonesia yang kaya dan sangat beragam, termasuk tradisi gotong royong dan nilai-nilai kekeluargaan, implementasi masyarakat kita yang saling mendukung dan bekerja sama, gotong royong, saling tolong menolong, dan menghargai perbedaan. Jika meresapi Landasan Nilai ini sangat tegak lurus, Pancasila memberikan kerangka nilai, sedangkan budaya menjadi sarana untuk implementasi. Karena Pancasila dan budaya menciptakan masyarakat yang harmonis, dimana setiap individu merasa dihargai, saling menghargai dan memiliki peran penting dalam menjaga persatuan, bukan kekuasaan Individu.
Pancasila dan budi daya kehidupan masyarakat waktu itu terangkum dalam kebudayaan Indonesia yang Luhur, diantaranya saling melengkapi dalam menciptakan kehidupan harmonis serta mempunyai cita-cita besar yaitu adil, makmur dan sejahtera. Pancasila memberikan landasan nilai, sedangkan budaya memberikan cara menerapkannya atau implementasi kehidupan.
Jika benar Nilai-nilai Pancasila bisa diimplementasikan dengan baik, akan melahirkan bangsa yang kuat, beradab, dan saling mendukung antar sesama. Saling membantu antar sesama tercermin Sila ke 2, gotong royong tercermin Sila ke 3, dan musyawarah untuk Mufakat tercermin nilai Sila ke 4, dan semua nilai itu adalah pancaran nilai luhur bangsa Indonesia yang bersumber dari Ketuhanan Yang Maha Esa cerminan Sila ke 1.
Tentu ibarat rangkuman diatas Pancasila akan Berlayar di Samudra bukan akan berlayar di Daratan, Karena Perahu dibuat untuk berlayar bukan untuk Berlabuh di Darmaga.
Penulis: Gatut Susanta, Penggiat Budaya dan Alumni PPNK 218/DIY
Editor : Eka Rahmawati