Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Jelang Idul Adha, Umat Islam Didorong Jalankan Puasa Sunnah Tarwiyah dan Arafah, Ini Tata Cara dan Keutamaannya

Eli Kustiyawati • Rabu, 4 Juni 2025 | 05:00 WIB
Buya Yahya menjelaskan tata cara dan keutamaan puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah sebelum Hari Raya Idul Adha
Buya Yahya menjelaskan tata cara dan keutamaan puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah sebelum Hari Raya Idul Adha

RADAR BOGOR – Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat Islam di seluruh dunia dianjurkan untuk memperbanyak amalan, termasuk menjalankan puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah.

Dua hari istimewa ini, terutama puasa Arafah diyakini memiliki keutamaan besar, khususnya dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam sebuah tausiyah, Buya Yahya mengingatkan pentingnya memanfaatkan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dengan berbagai amalan kebaikan termasuk puasa sunnah Arafah.

Di antaranya, puasa sunnah sejak tanggal 1 Dzulhijjah, sedekah, silaturahmi, salat duha, hingga memperbanyak zikir seperti tahlil, tasbih, dan tahmid.

"Kalau belum bisa berhaji, belum bisa berkurban, jangan sampai kehilangan pahala puasa Arafah. Ini ibadah yang ringan tapi besar pahalanya," ujarnya.

Puasa Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

Dalam hadis, puasa ini disebut dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Karena itu, umat Islam diimbau untuk tidak melewatkannya.

Selain itu, puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah juga disarankan, meskipun tidak sekuat anjuran puasa Arafah.

Menurut penjelasan Buya Yahya, istilah "tarwiyah" berasal dari kebiasaan para jamaah haji zaman dahulu yang menyiapkan perbekalan air sebelum berangkat ke Arafah.

Ada pula yang mengaitkan nama ini dengan mimpi Nabi Ibrahim AS sebelum menerima perintah menyembelih putranya.

"Meskipun riwayatnya tidak sekuat puasa Arafah, para ulama tetap menganjurkan puasa Tarwiyah sebagai bentuk persiapan spiritual," tambahnya.

Baca Juga: Apakah Puasa Sunnah Arafah Boleh Digabung dengan Hutang Puasa Ramadan? Ini Jawaban dari Buya Yahya

Buya Yahya juga menyinggung pentingnya bersikap bijak dalam menyikapi perbedaan penetapan awal Dzulhijjah dan hari Arafah antarnegara.

Ia menegaskan bahwa puasa Arafah tetap mengikuti tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan kalender lokal, bukan harus menyesuaikan dengan pelaksanaan wukuf di Arafah.

"Jangan membuat umat bingung dengan perdebatan khilafiah. Setiap wilayah punya metode penentuan hilal masing-masing. Hormati perbedaan itu agar tidak menimbulkan perpecahan," tegasnya.

Selain puasa, hari Arafah juga merupakan waktu terbaik untuk memperbanyak doa.

Disebutkan dalam hadis bahwa “sebaik-baik doa adalah doa di hari Arafah”, dan hal ini berlaku bagi siapa pun, di mana pun, tidak terbatas hanya bagi mereka yang sedang wukuf.

Menutup tausiyahnya, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk menjadikan awal Dzulhijjah sebagai momentum membudayakan kebaikan.

Ia mendorong setiap Muslim untuk menambah sedekah, menyambung silaturahmi, memohon maaf antaranggota keluarga, hingga memperkuat ibadah harian seperti membaca Al-Qur’an dan salat sunnah.

"Awal Dzulhijjah adalah waktu emas. Siapkan niat baik dari sekarang, agar amal-amal kita terus mengalir pahalanya bahkan setelah bulan ini berlalu," pungkasnya.

Editor : Eli Kustiyawati
#Tarwiyah #arafah #puasa sunnah #idul adha