Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Perempuan Hebat, Pemimpin Tangguh: Nilai-Nilai Spiritual Dalam Praktik Kepemimpinan

Yosep Awaludin • Rabu, 4 Juni 2025 | 19:04 WIB
Jauharin Hasanah, seorang Direktur di bidang HSE (Health, Safety, and Environment).
Jauharin Hasanah, seorang Direktur di bidang HSE (Health, Safety, and Environment).

RADAR BOGOR - "Menjadi pemimpin bukan soal kekuasaan, tapi soal tanggung jawab untuk memberi manfaat".

Itulah kalimat yang mencerminkan semangat Jauharin Hasanah, seorang Direktur di bidang HSE (Health, Safety, and Environment).

Ia telah menorehkan kiprahnya yang luar biasa  tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di level internasional.

Perjalanan karir Ririn, panggilan akrabnya, dimulai bukan dari ambisi pribadi, melainkan dari niat tulus untuk memberi manfaat dan membekali orang agar bisa selamat.

Di awal perjalanannya, ia adalah satu-satunya perempuan dalam pelatihan keselamatan kerja, sebuah dunia yang ketika itu masih didominasi laki-laki dan kerap disatukan dengan disiplin militer.

Namun kini, ia menyaksikan dengan bangga bahwa perempuan semakin mendapat tempat di bidang HSE.

Gaya Kepemimpinan yang Melayani dan Menginspirasi

Perempuan bergelar Master di bidang Teknik Industri dari Universitas Indonesia ini memaknai kepemimpinan sebagai bentuk pelayanan, bukan sekadar memberi perintah.

Saat mengawali perjalanan sebagai pimpinan pada tahun 2008, Ririn dihadapkan pada tantangan mengelola tim yang mengalami pergantian staf senior berlevel HSE Manager setiap tahunnya.

Pengalaman tersebut memberinya pelajaran berharga bahwa pendekatan yang humanis dan empatik jauh lebih efektif daripada sekadar mengandalkan aspek teknis, sehingga mampu membangun kepercayaan dan kestabilan dalam tim.

Ia mulai dengan mendengarkan kebutuhan tim, memberikan keteladanan, dan memastikan setiap program bukan hanya diperkenalkan tetapi dipraktekkan, hingga terbukti memberikan dampak nyata.

Prinsipnya jelas, yaitu "Jika ada suatu aturan apapun, maka saya harus jadi yang pertama mematuhinya."

Selain tantangan menghadapi anggota tim, menjaga konsistensi di tengah dinamika seperti pergantian pucuk pimpinan perusahaan juga menjadi tantangan tersendiri.

Setiap berganti pimpinan yang terkadang tidak sejalan dalam pemahaman dan prioritas HSE, maka Ririn perlu menemukan cara yang tepat untuk mengelola Atasan. Kunci yang selalu dipegang olehnya adalah komitmen dan integritas.

Keberhasilannya dalam memimpin tak lepas dari keberanian dan kelincahannya dalam menghadapi perubahan.

“Tidak cukup hanya berani, tapi juga harus agile, mampu menyesuaikan solusi dengan kondisi yang ada,” tegasnya.

Nilai-Nilai Agama sebagai Kompas Kepemimpinan

Nilai-nilai spiritual sangat berpengaruh dalam kepemimpinan istri DR Shofau Qolbi, Lc MA ini.

Tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan yang religius, Ririn mengintegrasikan ajaran agama dalam keputusan-keputusan strategis dan gaya kepemimpinan sehari-hari.

Prinsip seperti syukur, muamalah, dan pentingnya memahami diri sendiri menjadi pondasi penting dalam memimpin.

Salah satu titik balik dalam hidupnya terjadi pada tahun 2001, ketika sang ayah wafat.

Momen itu menjadi refleksi mendalam hingga ia memutuskan untuk berhijab sebagai wujud penghormatan sekaligus komitmen spiritual.

Keputusan itu sempat dipertanyakan dalam dunia kerja yang kala itu belum banyak diterima, namun justru membuahkan penghormatan lebih tinggi dari atasannya karena ia menunjukkan komitmen dan konsistensi nilai yang dianut.

“Islam harus dijalankan secara penuh. Dan saat kita menunjukkan komitmen itu, lingkungan pun akan menghargai,” katanya mantap. 

Bersuamikan seorang Asisten Hakim Agung di kantor Mahkamah Agung Republik Indonesia, Ririn sangat memahami perannya sebagai seorang istri dan ibu dari 2 anak lelaki yang beranjak remaja.

Memegang teguh nilai-nilai Islam yang ditanamkan sejak kecil oleh ibunya, Ririn mengakui bahwa suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, sehingga ia tidak akan melangkah lebih jauh tanpa ijin dan ridha suami.

Beruntung bahwa Shofa, panggilan akrab suami Ririn, sangat mendukung pilihan karir yang dijalani oleh istri tercinta. Sebuah gambaran keluarga yang harmonis dan saling menghargai.

Ririn meyakini bahwa kepemimpinan perempuan bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan nilai agama.

Ia justru menemukan kekuatan besar dalam nilai-nilai Islam di mana kesetaraan dan kesempatan perempuan untuk memimpin dan memberikan manfaat juga sangat terbuka.

Keteladanan para pemimpin wanita dalam sejarah Islam seperti Ratu Bilqis ataupun Khadijah istri pertama Rasulullah memperkuat tekadnya untuk menjadi pemimpin yang memberikan manfaat bagi umat manusia.

“Selama kita menunaikan amanah, dicintai oleh tim, dan memberikan manfaat, kita telah menjadi pemimpin yang berhasil,” ucapnya.

Menapakkan Kaki di Banyak Negara, Berakar pada Nilai Sendiri

Tak hanya memimpin di dalam negeri, Ririn juga dipercaya memegang tanggung jawab lintas negara.

Menurutnya, keberhasilan memimpin di level internasional membutuhkan orisinalitas, bukan meniru.

“Kemampuan itu harus muncul dari kreativitas, bukan mencontek. Kita harus punya uniqueness dan kepekaan budaya karena kebijakan di satu negara belum tentu bisa diterapkan di negara lain,” ungkapnya.

Ia menyebut pentingnya pendekatan walk the talk yang terinspirasi dari Al-Qur’an: menjalankan apa yang dikatakan.

Di panggung global, ia selalu membawa citra Indonesia yang konsisten dan berkomitmen.

“Saya menunjukkan bahwa Indonesia bisa dipercaya dan konsisten berbagi kebaikan," katanya.

Menjaga Keseimbangan antara Bisnis dan Nilai

Bagi Ririn, menjalankan bisnis tidak bisa lepas dari nilai agama. Setiap keputusan harus membawa manfaat tanpa mencederai pihak lain.

Ia selalu memastikan bahwa setiap perubahan atau program disosialisasikan dengan makna yang jelas, agar tim memahami “kenapa” sebelum mempraktikkan “bagaimana”.

Ia percaya bahwa kesuksesan bukan diukur dari seberapa banyak hal yang kita lakukan, melainkan seberapa besar dampak yang kita berikan kepada orang lain.

“Kesuksesan itu ketika apa yang kita tanam bisa dipanen oleh orang lain dan membawa manfaat,” ujarnya.

Nasihat untuk Perempuan Pemimpin: Selesaikan Diri Sendiri Dulu

Pesannya untuk para perempuan yang ingin berperan lebih dalam kepemimpinan: "Finish yourself first."

Menurutnya, ketika seseorang belum selesai dengan persoalan pribadinya, ia akan kesulitan untuk berkembang.

Ia juga menekankan pentingnya mengelola emosi, karena pemimpin yang belum selesai dengan dirinya tidak akan bisa mengelola tim secara efektif.

Tujuan Jangka Panjang: Mandiri dan Membagikan Kebaikan

Ke depan, Ririn ingin lebih mandiri dan terus berbagi pengalaman.

Baginya, kepemimpinan bukan hanya tentang mengatur, tapi juga tentang mengalah, memahami peran, dan terus menyelesaikan diri agar mampu berkontribusi lebih luas.

“Semua dimulai dari diri sendiri. Kalau kita ingin organisasi kita besar, kita sendiri dulu yang harus tumbuh," tuturnya. (***)

Penulis : Ulya Himmawati

Editor : Yosep Awaludin
#hse #pemimpin #Direktur