RADAR BOGOR — Ribuan jemaah haji Indonesia mengalami kesulitan saat perjalanan dari Mina menuju Muzdalifah, Mekkah, Arab Saudi, Kamis (5/6/2025). Ini terjadi akibat minimnya koordinasi dan keterbatasan armada bus.
Turmudi Hudri, jemaah haji asal Kota Bogor mengatakan mereka dibuat menunggu berjam-jam tanpa arahan jelas dari petugas maupun penyelenggara haji.
Banyak jemaah haji mengeluhkan tidak adanya sistem antrean yang tertata dan petunjuk arah yang jelas.
"Kami dikumpulkan untuk ke Muzdalifah tanpa tahu harus menunggu di mana. Tidak ada informasi yang disampaikan petugas. Semua orang hanya disuruh kumpul, tapi tidak diarahkan ke jalur atau titik naik bus," ujarnya.
Menurut Turmudi, ia dan rombongannya baru berada di Muzdalifah pada pukul 22.00 malam waktu Arab Saudi setelah menunggu bus cukup lama. Kacaunya koordinasi ini menurutnya karena kurangnya komunikasi antar petugas haji.
Ini terlihat dari pendamping dan tim kesehatan pun ikut kebingungan saat menunggu bus. Informasi yang diterima sopir terlambat karena tidak bisa diajak komunikasi.
"Bahasa jadi kendala karena sopir juga tidak bisa berbahasa Indonesia, inggris, maupun Arab dengan baik," jelasnya.
Minimnya koordinasi antar petugas dan tidak tersedianya pos informasi membuat jemaah haji terlunta-lunta.
Menurut dia, seharusnya ada pusat informasi yang jelas dan sistem yang lebih tertib agar jamaah bisa laporan atau sekedar bertanya.
"Kami tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Ketua kloter pun bingung, tim syarikah tidak bisa memberikan arahan. Ini sangat menyulitkan," lanjutnya.
Kondisi serupa menurutnya dialami jemaah haji dari berbagai daerah di Indonesia, tidak hanya dari Bogor atau Jawa Barat. Tak hanya pergi, pulang ke Mina juga masih dalam kondisi antrean panjang.
"Akhirnya jemaah daripada menunggu tanpa kejelasan, (memilih) jalan kaki (butuh) satu jam. Ini laporan kondisi terakhir," ungkapnya. Saat ini di Arab Saudi pukul 5:23 Jumat (6/5/2025) pagi.
Lebih jauh dia berharap pemerintah, khususnya Kementerian Agama dan Komisi VIII DPR RI, untuk mengevaluasi sistem transportasi dan kerja syarikah dalam penyelenggaraan ibadah haji. Sebab sistem saat ini malah menyulitkan jemaah haji Indonesia.
"Kami butuh SOP yang jelas. Jangan sampai jemaah dipisahkan dari keluarga dan pembimbing tanpa kejelasan," pungkasnya. (uma)
Editor : Yosep Awaludin