RADAR BOGOR - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Ace Hasan Syadzily, meminta para kepala daerah memperhatikan perkembangan geopolitik internasional dengan cermat.
Menurutnya, kondisi global saat ini dapat berdampak nyata pada ketahanan nasional hingga regional sehingga perlu kecermatan para kepala daerah.
"Karena kita tahu bahwa tidak ada kebijakan, termasuk kebijakan daerah, yang tidak terpengaruh oleh situasi geopolitik global saat ini," kata Ace pada retret kepala daerah gelombang kedua di IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.
Dia menunjukkan beberapa masalah internasional yang harus diantisipasi kepala daerah. Kebijakan tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump, misalnya, terus diperdebatkan hingga saat ini.
Karena masalah ini akan mempengaruhi sektor industri nasional, khususnya garmen, tekstil, dan kayu, pemimpin daerah harus mengetahui perkembangannya.
Ini pasti harus diantisipasi. Dia menyatakan bahwa setiap daerah harus melakukan upaya serius untuk diversifikasi produk, terutama mendorong UMKM agar mampu berdaya saing di tengah situasi global saat ini.
Selanjutnya, konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Iran, yang dapat meningkatkan ketegangan di kawasan dan mengganggu stabilitas global.
Untuk membuat kebijakan yang sesuai dengan sikap pusat, kepala daerah harus memiliki kewaspadaan nasional.
Selain itu, dia menegaskan bahwa ketahanan ekonomi domestik sangat penting dalam menghadapi tekanan global saat ini.
Oleh karena itu, kepala daerah harus bekerja sama dengan pemerintah pusat untuk memperkuat sektor strategis dan meningkatkan daya tahan daerah masing-masing.
"Saya sampaikan kepada seluruh kepala daerah, termasuk harus menjaga kekompakan, menjaga persatuan, dan memastikan agar semua ada dalam kekompakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah," tuturnya.
Sementara itu, anggaran untuk retret kepala daerah gelombang kedua dibahas oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya.
Meskipun jumlah yang digunakan untuk gelombang kedua tidak lebih besar dari yang digunakan untuk gelombang pertama, jumlah yang digunakan tidak lebih dari 500 juta rupiah.
"Ya ini saya masih rekap, tetapi saya pastikan tidak lebih dari Rp500 juta untuk keseluruhan acara dari awal hingga akhir. Jadi angkanya jauh di bawah yang kemarin (Rp13 miliar, red), karena aset Kemendagri dan banyak penghematan di sini," katanya.
Gelombang kedua dioptimalkan. Di antaranya adalah biaya untuk peserta. Di sisi lain, dibandingkan dengan 1.000 peserta di Magelang, IPDN hanya memiliki 84 peserta, sehingga biaya konsumsi lebih rendah.
Penghematan tambahan pada fasilitas. Dia menyatakan bahwa biaya dapat dikurangi dengan menggunakan apa yang tersedia di IPDN dan melakukan beberapa penyesuaian seremoni. (***)
Editor : Yosep Awaludin