RADAR BOGOR - Bubur Suro, hidangan tradisional Jawa yang kaya makna, memiliki akar yang mendalam pada tradisi Islam, khususnya selama bulan Muharram atau Asyura.
Asal-usulnya bubur suro erat kaitannya dengan kisah Nabi Nuh A.S.
Awalnya, Allah SWT memerintah Nabi Nuh untuk menanam pohon jati yang nantinya akan dijadikan bahtera, saat bahteranya jadi Nabi Nuh memerintah umatnya untuk memasuki bahtera tersebut mulai dari manusia sampai hewan.
Setelah itu terjadilah banjir bandang selama kurang lebih 40 hari, bahtera tersebut mampu menyelamatkan Nabi Nuh beserta seluruh penumpangnya.
Setelah banjir besar mereda, bahtera Nabi Nuh terdampar di sebuah gunung pada tanggal 10 Muharram.
Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas keselamatan mereka, Nabi Nuh memerintahkan para pengikutnya untuk mengumpulkan semua persediaan makanan yang tersisa.
Mereka mengumpulkan berbagai makanan, ada yang membawa segenggam biji gandum, biji adas, biji kacang, biji himas atau kacang putih dan lain- lain sehingga terkumpul 7 macam biji-bijian.
Setelah itu Nabi Nuh membaca basmalah pada biji-bijian yang terkumpul lalu memasaknya.
Setelah matang hidangan ini dibagikan kepada semua orang hingga mereka kenyang atas berkah Nabi Nuh A.S.
Hidangan ini merupakan hidangan pertama yang disiapkan setelah banjir besar.
Baca Juga: Kisah Agam Rinjani: Dedikasi Seorang Penyelamat dan Pemandu di Puncak Rinjani
Peristiwa bersejarah ini menjadi tradisi bagi umat Muslim, khususnya di Jawa, untuk menyiapkan dan berbagi hidangan yang terbuat dari berbagai biji-bijian, yang kini dikenal sebagai Bubur Suro, setiap tanggal 10 Muharram, Sebagai simbol rasa syukur dan berbagi. (*)