RADAR BOGOR – Istilah “brain rot” kini semakin populer, menggambarkan kondisi penurunan kemampuan kognitif akibat konsumsi konten dunia digital, seperti media sosial berkualitas rendah secara berlebihan.
Fenomena brain rot, yang dipicu oleh kenyamanan modern dan desain platform dunia digital, menimbulkan kekhawatiran serius akan dampaknya terhadap kemampuan fokus dan berpikir kritis masyarakat, terutama generasi muda.
Konsep “brain rot” merujuk pada kondisi, di mana daya pikir seseorang menurun drastis karena terlalu banyak mengonsumsi konten di dunia digital yang tidak bermanfaat.
Berbeda dengan manusia zaman batu yang otaknya terus terlatih untuk bertahan hidup, otak manusia modern, yang dimanjakan oleh kenyamanan, cenderung kurang terlatih untuk berpikir kritis.
Ini disebut sebagai “ketidaksesuaian evolusi kognitif”, di lansir dar YouTube AgusleoHalim menjelaskan, perusahaan teknologi di balik platform media sosial memiliki peran besar dalam fenomena ini.
Desain platform mereka bertujuan memaksimalkan keterlibatan dan waktu pengguna di aplikasi, dengan metrik seperti durasi tontonan lebih diutamakan daripada kualitas konten.
Akibatnya, algoritma terus-menerus mempromosikan konten yang membuat pengguna ketagihan, meskipun tidak memberikan manfaat edukasi atau stimulasi positif.
Dampak paling nyata dari “brain rot” adalah pada kemampuan berpikir kritis.
Stimulasi konstan dari media sosial mendorong otak untuk menggunakan “Sistem 1” (berpikir cepat dan intuitif) daripada “Sistem 2” (berpikir lambat dan analitis).
Hal ini membuat individu cenderung kurang kritis terhadap informasi yang mereka terima, mudah percaya pada hoaks, dan kesulitan dalam memproses informasi kompleks.
Generasi muda, seperti Gen Z dan Alfa, menjadi kelompok yang paling rentan.
Paparan dini terhadap konten yang sangat stimulatif, seperti kartun “iPad Kids”, diduga berkontribusi pada kecenderungan mereka untuk menggunakan bahasa gaul dan kurangnya minat dalam elaborasi atau diskusi mendalam.
Untuk mengatasi “brain rot”, beberapa strategi mitigasi disarankan.
Pertama, “kuasai pagi Anda” dengan menghindari langsung menggunakan ponsel setelah bangun tidur.
Kedua, modifikasi pengaturan ponsel, seperti menggunakan mode grayscale untuk mengurangi stimulasi visual.
Ketiga, seimbangkan konsumsi konten dengan produksi konten, terutama bagi mereka di bidang kreatif.
Keempat, ganti kebiasaan bermedia sosial dengan membaca buku untuk melatih pemikiran kritis.
Terakhir, rangkul kebosanan sebagai sinyal untuk aktivitas kreatif, bukan langsung meraih ponsel.
Data menunjukkan, sebagian besar hidup seseorang, diperkirakan hingga 27 tahun, dapat dihabiskan hanya dengan menatap layar ponsel.
Ini menjadi pengingat penting akan urgensi untuk lebih bijak dalam mengelola waktu dan jenis konten yang kita konsumsi demi msenjaga kesehatan otak di era digital ini.