RADAR BOGOR - Memperingati 200 tahun peristiwa bersejarah Perang Jawa, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengajak seluruh lapisan masyarakat, terutama Gen Z untuk merenungkan dan memperkuat kembali jati diri bangsa Indonesia.
Dikutip Radar Bogor dari kemensos.go.id pada 19 Juli 2025, seruan tersebut disampaikan Wakil Metrei Sosial Agus Jabo Priyono dalam acara "Umbul Donga Mengenang 200 Tahun Perang Jawa" yang diselenggarakan di Java Village Resort, Sleman, Yogyakarta.
Dalam pidatonya, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menekankan, bahwa perjuangan bangsa Indonesia tidak dimulai dari proklamasi kemerdekaan tahun 1945. Tetapi jauh sebelumnya, melalui berbagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan di berbagai wilayah Nusantara.
Salah satu contoh paling penting dari perlawanan tersebut adalah perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa yang berlangsung dari tahun 1825 hingga 1830.
Konflik ini merupakan salah satu perlawanan terbesar dan paling berdarah terhadap penjajahan Belanda, serta menjadi simbol kebangkitan rakyat dalam mempertahankan hak, budaya, dan martabat mereka.
Agus Jabo menjelaskan bahwa perjuangan yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro tidak hanya dimotivasi oleh keinginan untuk mengusir penjajah, tetapi juga dilandasi oleh semangat mempertahankan jati diri sebagai bangsa yang merdeka dan bermartabat.
Nilai-nilai seperti keberanian, keteguhan hati, serta spiritualitas yang kental menjadi fondasi penting dalam perlawanan tersebut.
Ia menilai, semangat inilah yang perlu dihidupkan kembali oleh generasi saat ini agar bangsa Indonesia mampu menentukan arah masa depan yang lebih baik.
Dalam pandangannya, jati diri bangsa merupakan elemen mendasar yang perlu terus digali dan diperkuat.
Tanpa pemahaman yang mendalam terhadap identitas nasional, Indonesia akan kesulitan menghadapi tantangan global dan menentukan tujuan pembangunan di masa depan.
Oleh karena itu, Agus Jabo mengajak seluruh pihak, mulai dari para tokoh masyarakat, budayawan, generasi tua, hingga anak-anak muda terutama gen z untuk bersatu melakukan refleksi mendalam mengenai siapa sebenarnya bangsa Indonesia dan ke arah mana bangsa ini akan melangkah.
“Kita harus tahu siapa diri kita sebagai bangsa", ujar Agus Jabo.
"Kalau kita tidak tahu jati diri kita, bagaimana kita bisa menatap masa depan dengan jelas?” kata Agus Jabo dalam sambutannya di hadapan para tamu undangan", lanjut Agus Jabo.
Ia menambahkan bahwa kesadaran akan jati diri harus menjadi bagian dari kebangkitan nasional, bukan hanya secara ekonomi atau teknologi, tetapi juga secara moral dan kultural.
Melalui kegiatan peringatan Umbul Donga ini, Agus Jabo berharap masyarakat dapat menumbuhkan kembali semangat perjuangan dan keberanian seperti yang telah ditunjukkan oleh para pahlawan terdahulu.
Ia mengajak seluruh bangsa untuk menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai sumber kekuatan dalam membangun masa depan yang berdaulat, bermartabat, dan berkepribadian.
Acara Umbul Donga sendiri diisi dengan berbagai kegiatan seperti doa bersama untuk para pejuang kemerdekaan yang telah gugur, sesi refleksi sejarah mengenai peristiwa Perang Jawa, serta pertunjukan budaya yang menggambarkan semangat perlawanan rakyat Jawa terhadap kolonialisme.
Pertunjukan ini tidak hanya bertujuan untuk mengenang sejarah, namun juga menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang menjadi warisan perjuangan Pangeran Diponegoro.
Momentum dua abad Perang Jawa ini dimanfaatkan oleh Kementerian Sosial sebagai ajang penting untuk membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya merawat sejarah dan identitas nasional.
Agus Jabo menyampaikan bahwa hanya dengan mengenali sejarah dan memahami jati diri bangsa, Indonesia akan mampu berdiri teguh dan terus maju di tengah arus perubahan global.
Dengan semangat tersebut, ia mengajak semua elemen bangsa untuk bersatu dalam semangat nasionalisme yang sejati dan tidak melupakan akar budaya serta nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pejuang terdahulu.