RADAR BOGOR – Kementerian Sosial (Kemensos) menyambut baik rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan data kemiskinan dan kemiskinan ekstrem menurun.
Dalam unggahan akun Instagram resmi Kementerian Sosial (@kemensosRI) pada Selasa, 28 Juli 2025, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memberikan tanggapannya mengenai hasil survei BPS tersebut.
Menurut Gus Ipul, turunnya angka kemiskinan dan kemiskinan ekstrem yang dirilis BPS merupakan bukti berjalannya strategi pengentasan kemiskinan yang telah dirancang oleh Presiden Prabowo Subianto.
Gus Ipul mengakui bahwa hasil survei tersebut merupakan buah dari kerja keras seluruh elemen, terutama di Kemensos, dalam menekan angka kemiskinan, hingga ke depan diharapkan dapat menjadi nol.
“Jadi, hasilnya mulai kita rasakan. Strategi yang selama ini dibuat oleh Bapak Presiden Prabowo,” kata Gus Ipul saat siaran pers dalam perayaan Hari Ulang Tahun DNIKS tahun 2025.
Gus Ipul menyebut, salah satu upaya yang telah dilakukan Kemensos hingga kemiskinan dan kemiskinan ekstrem menurun adalah penerapan bantuan sosial yang tepat sasaran.
Ia mengatakan bahwa metode yang digunakan adalah mengubah data penerima bantuan sosial agar lebih akurat dan sesuai kondisi riil masyarakat.
Gus Ipul menyebut, sistem distribusi bansos telah dirombak total, terutama untuk penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako.
Menurutnya, saat ini keluarga yang berada di strata desil atas tidak lagi menerima PKH dan bantuan sembako. Bantuan tersebut dialihkan kepada masyarakat yang berada di desil bawah.
“Pertama adalah mengalihkan 1,6 juta KPM penerima PKH dan sembako dari mereka yang berada di desil atas kepada mereka yang berada di desil bawah atau miskin ekstrem,” beber Gus Ipul.
Tidak hanya PKH dan sembako, perubahan juga dilakukan pada penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI) Kemensos. Sebanyak 8,2 juta penerima PBI yang sebelumnya berada di desil atas kini telah dihapus dan dialihkan kepada yang lebih berhak.
“Kepada yang berhak menerima,” terang Gus Ipul.
Ia juga memaparkan bahwa keluarga di desil bawah kini mulai menerima bantuan secara lebih merata.
Gus Ipul menyebut, jumlah keluarga dengan ketentuan miskin ekstrem yang mendapat bantuan bahkan mencapai 15 juta KPM penerima PKH.
Ia menambahkan bahwa pada triwulan kedua, jumlah keluarga penerima bantuan kembali ditingkatkan menjadi 16 juta jiwa.
“Kita tambah pada triwulan kedua sebesar 9,87 persen,” kata Gus Ipul.
Ia menjelaskan bahwa keluarga dengan predikat miskin ekstrem saat ini tidak hanya menerima PKH, tetapi juga menerima bantuan sembako atau BPNT.
“Penambahan nilai komplementaritas dilakukan dengan cara mereka yang miskin ekstrem, selain mendapat PKH, juga menerima sembako atau BPNT,” terang Gus Ipul.
Ia menyebut, jumlah keluarga yang menerima manfaat program komplementaritas meningkat dari awalnya 6 juta jiwa menjadi 8 juta jiwa.
“Ada tambahan penerima manfaat sebanyak 2 juta, atau 32 persen,” sebut Gus Ipul.***
Editor : Eli Kustiyawati