RADAR BOGOR - Siapa yang pernah mabuk perjalanan atau mabuk darat atau memiliki fobia naik pesawat, kereta, naik kapal laut atau kendaraan roda empat? Ada beberapa klien yang datang menjalani hipnoterapi dengan masalah ini.
Kisah yang dituliskan oleh Nina Marlina seorang hipnoterapis dari Griya Harmoni berikut untuk pembelajaran dan diambil manfaat, kita mulai dari kisah pertama.
“Bu, sudah berbagai obat anti mabuk saya minum dan berbagai cara saya lakukan untuk mengatasi mabuk kendaraan, tapi tetap saja mual dan muntah. Jangankan duduk dalam mobil, baru cium asap knalpot saja saya sudah pusing.”
Sebut saja Sari (bukan nama sebenarnya), ia merasa tidak nyaman bila mengikuti perjalanan dinas ke luar kota bersama staf lain dan atasannya.
Sari sering muntah dan merepotkan rekan kerjanya, ia juga malu dan khawatir atasan dan teman seperjalanannya jadi jijik. Meskipun mereka tahu masalahnya, bahkan ada seniornya yang sering membantunya saat muntah.
Sari lebih memilih tidak ikut berangkat dan tugasnya di alihkan pada yang lain karena terlalu sering, Sari merasa semakin tidak nyaman.
Selain takut dianggap kurang bertanggung jawab, ia juga tidak mendapatkan bonus yang hanya bisa didapatkan dari perjalanan dinasnya. Beberapa kali ia juga pernah mendapat tugas ke luar negeri tetapi akhirnya tidak jadi berangkat karena mabukan itu menghambat dirinya.
Kedatangan Sari ingin mengatasi mabuknya yang sudah belasan tahun sangat mengganggu, menurutnya kalau naik motor maupun angkot tidak masalah meskipun sama-sama mengeluarkan asap dari knalpot.
Sari memilih duduk dekat pintu angkot, jaga-jaga kalau mau muntah bisa minta berhenti dan lekas turun, menurutnya dekat pintu lebih nyaman dan banyak angin.
Sari mempertanyakan mengapa rasanya beda ketika naik angkot dan kendaraan rombongan dinas, ia sendiri menganggap dirinya aneh.
Bila perjalanan dinasnya bisa di tempuh 3 hingga 4 jam, Sari masih mau ikut tetapi sepanjang perjalan cuma dirinya yang tidak menikmati pemandangan maupun makanan.
Sari memilih diam, menutup mulut dan menahan diri untuk makan dan minum apa pun justru memicu dirinya muntah. Ia juga memilih menutup mata, segala macam obat mabuk yang dibeli sendiri maupun yang diresepkan dokter tidak mempan, akhirnya Sari datang memutuskan menjalani sesi hipnoterapi.
Dari hasil wawancara mendalam didapati pengalaman traumatik saat kelas 1 SD, ia pernah diajak ibunya pergi ke suatu tempat bersama teman-teman ibunya. Sari tidak mau ikut, tetapi ibunya memaksa dan ia menangis tapi tetap saja dipaksa ikut.
Akhirnya dalam perjalanan Sari muntah dan ibunya marah besar dan saat Sari menangis, emosinya sedang intens lalu ibunya membentak dengan kalimat ,“Kamu ini malu-maluin aja”.
Nangis, muntah, dibentak, kaget, dan kata-kata yang dimuntahkan ibunya sangat membekas, setiap kali hendak melakukan perjalanan dinas meskipun belum waktunya berangkat, tubuhnya sudah memunculkan sensasi tidak nyaman karena memori dan emosi Sari kecil muncul.
Sari datang jumpa saya di ruang terapi saat usianya mendekati kepala tiga, memori masa kecil sering muncul disertai emosi yang intens atas peristiwa masa kecil itu diproses. Setelah menjalani sesi hipnoterapi, ia bisa menikmati perjalanan dinas dengan kendaraan roda empat tanpa drama.
Kisah kedua sebut saja ibu Yani (bukan nama sebenarnya) yang datang mengeluh dirinya fobia naik pesawat dan ia hendak menunaikan ibadah umroh.
Sehari-hari ia sendiri karena ketiga anaknya tinggal di luar kota, tak ada lagi yang menemani di rumah, anak sulung dan menantunya bekerja, anak kedua yang lajang juga bekerja, anak ketiga baru masuk SMA tinggal di asrama sekolah.
Anak-anaknya sudah kembali ke aktivitasnya, ia tidak ingin merepotkan anak-anaknya tetapi anak-anaknya tahu kalau ibunya masih sering menangis dalam sebulan sejak ayah mereka meninggal. Pikir mereka biar ibunya lebih tenang, didaftarkan umroh tetapi kendalanya ia punya fobia naik pesawat.
Singkat cerita, dari hasil wawancara mendalam, sebelumnya ia sering melakukan perjalanan dengan pesawat. Ada satu peristiwa yang sangat menggoncang dan itu membekas saat suaminya masih ada, ibu Yani aktif berorganisasi.
Suatu ketika ia ada kegiatan organisasi di luar kota, menurutnya ia tetap harus pergi meskipun anak bungsunya hendak melaksakan ujian akhir semester sampai akhirnya anaknya kala itu masih SMP dititip ke orang tua teman anaknya.
Anak bungsunya tidak bisa diajak karena mau ujian, situasi yang tidak mengenakkan kedua belah pihak pun terjadi, anak tetap dititip agar bisa ujian dan ibunya bisa pergi dengan leluasa.
Saat keberangkatan tiba tidak ada masalah sampai bandara hingga jadwal boarding, masalah timbul justru ketika dalam pesawat. Beberapa menit menjelang pintu pesawat hendak ditutup, ibu Yuni histeris dan memaksa turun dari pesawat, saat kejadian itu, ia merasa bersalah telah meninggalkan anaknya hanya untuk memenuhi undangan organisasi yang sebenarnya tetap berjalan tanpa kehadirannya.
Peristiwa itulah yang membuat dia datang dan mengatakan fobia naik pesawat yang sebenarnya tidak ada masalah dengan pesawatnya, peristiwa meninggalkan anak itulah akar masalahnya yang muncul saat dalam pesawat.
Memori dan emosi yang masih intens itu membuat dia ragu berangkat umroh dan masih merasa seperti hendak meninggalkan anak bungsunya. Padahal anak bungsunya berada di asrama sekolah.
Perlu Anda ketahui bahwa peristiwa yang terjadi itu netral, setelah keduanya memberi makna, cara mereka berespons berbeda. Makna yang dilekatkan dengan peristiwa bisa menghasilkan emosi positif atau negatif, emosi yang intens yang melekat di memori dengan peristiwa tertentu yang belum diproses itu bisa muncul kembali ketika ada stimulus atau trigger.
Jika Anda punya persoalan serupa, atasi dengan hipnoterapi, hipnoterapi efektif membantu mengatasi masalah emosi, perilaku dan masalah kesehatan tertentu yang disebabkan faktor psikologis.
Penulis: Nina Marlina, Hipnoterapis dari Griya Harmoni Terapi
Instagram @nina_chandrakirana