Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sering Pakai Baju Bekas Jadi Lap? Buya Yahya Ungkap Dampaknya terhadap Kelancaran Rezeki

Khairunnisa RB • Minggu, 10 Agustus 2025 | 06:05 WIB
Buya Yahya jelaskan dampak sering pakai baju bekas jadi lap
Buya Yahya jelaskan dampak sering pakai baju bekas jadi lap

RADAR BOGOR – Belakangan ini muncul pertanyaan unik yang menyedot perhatian warganet.

Pernyataan tersebut adalah benarkah memakai baju bekas sebagai kain pel atau lap bisa menyempitkan rezeki?

Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang jamaah kepada Buya Yahya dalam salah satu tayangan di kanal Al-Bahjah TV.

Pertanyaan itu disampaikan dengan santun, "Mohon izin bertanya, benarkah menggunakan pakaian bekas untuk dijadikan kain lap bisa menyempitkan rezeki kita? Mohon penjelasannya, Buya."

Buya Yahya pun menjawab dengan bijak dan penuh penjelasan mendalam.

Bukan Masalah Lap, tetapi Soal Penyia-nyiaan Rezeki

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah ini, inti dari masalah tersebut bukan pada tindakan menjadikan baju sebagai lap semata, melainkan pada sikap menyia-nyiakan karunia Allah.

Banyak orang saat ini terlalu mudah membuang atau menjadikan kain lap pakaian yang sejatinya masih layak pakai, sementara di sekitarnya masih banyak yang membutuhkan.

"Yang menyempitkan rezeki adalah membuang-buang karunia, tidak mensyukuri nikmat," tegas Buya.

Beliau mencontohkan, sering kali orang langsung menjadikan pakaian lama sebagai alat pel padahal pakaian tersebut masih bagus dan layak digunakan oleh orang lain.

"Kalau Anda sudah tidak memakai baju itu, cucilah, setrikalah, bungkus plastik rapi, dan kirimkan ke orang yang membutuhkan. Bisa jadi di daerah lain, baju itu sangat berharga," ujar Buya.

Anak-Anak Bisa Meniru, Tumbuhkan Kebiasaan Buruk

Buya Yahya juga mengingatkan soal efek jangka panjang dari kebiasaan ini terhadap anak-anak.

Jika seorang anak melihat ibunya dengan mudah menjadikan baju sebagai pel atau lap, maka anak itu bisa meniru tanpa mempertimbangkan kelayakan baju tersebut.

"Anak kecil meniru apa yang dilihat. Hari ini ibunya pakai lap dari baju, besok baju bapaknya yang baru bisa-bisa ikut dijadikan lap juga," terang Buya Yahya.

Ulama kelahiran Blitar itu menekankan pentingnya menanamkan nilai hemat dan rasa syukur terhadap rezeki yang sudah ada, bukan sebaliknya.

Boleh Dijadikan Lap, tetapi Ada Syaratnya

Menurut Buya, menjadikan baju sebagai lap sebenarnya boleh saja, asalkan benar-benar sudah tidak layak pakai, misalnya sudah robek, rusak, atau tidak bisa dijahit ulang.

Namun, yang tidak dianjurkan adalah menjadikan baju layak pakai sebagai lap hanya karena sudah bosan atau merasa tidak suka lagi dengan modelnya.

Buya Yahya menyarankan agar baju seperti ini disumbangkan saja kepada yang membutuhkan, dengan syarat tetap menjaga kesopanan dan adab berpakaian dalam Islam.

Waspadai “Baju Jahiliyah” yang Tidak Layak Disumbangkan

Buya juga mengingatkan agar umat Muslim berhati-hati ketika hendak menyumbangkan baju bekas.

Baca Juga: Kemensos Ungkap Alasan Sekolah Rakyat Dibuat dengan Konsep Berasrama, Ternyata Ini Tujuan Utamanya

Sebab, tidak semua baju bekas layak untuk diberikan, terutama baju-baju yang tidak menutup aurat atau identik dengan gaya hidup jahiliyah.

"Kalau baju itu untuk pamer aurat, mending dijadikan lap saja daripada dipakai orang dan menjerumuskannya pada dosa," tegasnya.

Buya menyinggung pengalaman gerakan bantuan pakaian bekas ke wilayah terpencil, di mana banyak baju yang dikirim ternyata merupakan pakaian-pakaian yang sangat tidak pantas untuk diberikan, seperti pakaian seksi atau pakaian ketat dari mereka yang baru hijrah.

Menyia-nyiakan Rezeki = Menyempitkan Rezeki

Buya menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa penyia-nyiaan nikmat Allah adalah salah satu penyebab sempitnya rezeki.

Bukan masalah baju jadi lap, tetapi soal sikap hidup yang sembrono dan kurang bersyukur.***

Editor : Eli Kustiyawati
#baju bekas #rezeki #Buya Yahya